Dokter Meninggal karena Kelelahan Bekerja, Sempat Pingsan setelah Tanya Kabar Ibu Pasiennya
Dokter Zhao adalah wakil kepala pengobatan pernapasan di Rumah Sakit Rakyat Distrik Yuci di Kota Jinzhong di Provinsi Shaanxi, Cina barat laut.
Dokter Meninggal karena Kelelahan Bekerja, Sempat Pingsan setelah Tanya Kabar Ibu Pasiennya
TRIBUN-MEDAN.com - Dokter Meninggal karena Kelelahan Bekerja, Sempat Pingsan setelah Tanya Kabar Ibu Pasiennya.
Ini sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan.
Menjaga kondisi tubuh sangat diperlukan.
Kakau tidak, bisa fatal akibatnya.
Seorang dokter memang dituntut untuk membantu pasiennya yang sedang sakit.
Karena dedikasinya itu, acap kali dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Hal tersebut dialami oleh seorang dokter di Tiongkok, Zhao, yang bekerja tanpa henti hingga 18 jam.
Baca: Detik-detik Suami Ngamuk di Depan Orang Ramai, Hunus Pisau & Tikam Pria yang Selingkuhi Istrinya
Baca: Bercinta dengan Tiram Pria Ini Dapat 67 Jahitan, Lepas Kendali di Detik-detik Akhir
Dokter Zhao adalah wakil kepala pengobatan pernapasan di Rumah Sakit Rakyat Distrik Yuci di Kota Jinzhong di Provinsi Shaanxi, Cina barat laut.
Karena kelelahan dan tak pernah istirahat, dokter 43 tahun tersebut ditemukan pingsan di depan pasiennya beberapa waktu lalu.
Sebelum pingsan, Zhou sempat menanyakan memeriksa pasiennya, sambil menanyakan kabar si pasien, "bagaimana kabar ibumu?"
Baca: Ikut Demo hingga Ipda Erwin Yuda Terbakar, Mahasiswa Ini Gemetar Saat Hadir di Pemakaman
Baca: Temuan 4 Tengkorak Kini Dikaitkan Hilangnya Tiba-tiba 4 Anggota Keluarga Wanita Tua Pemilik Rumah
Hingga kemudian beberapa saat dokter tersebut tak sadarkan diri di depan seorang pasien.
Setelah pingsan secara tiba-tiba, Zhou disebut mengalami pendarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma di otak.
Menurut seorang sumber, Zhou biasanya bekerja pada shift pagi dan melanjutkan shft malah tanpa beristirahat sejenak.
Zhou sebelumnya pernah mengalami hal serupa, dan selamat karena dibantu dua pasiennya yang berusia 80-an.
Tapi kali ini, setelah perawatan intensif, Zhou meninggal 20 jam setelah ambruk di depan pasiennya.
Kejadian ini pelajaran untuk kita semua.
Meski memiliki pekerjaan yang banyak, istirahat tetap perlu.
Tapi bagaimanapun, salut dengan dedikasi sang dokter untuk pasiennya hingga ia meninggal.
Tak salah jika suatu saat kita menannyakan kesehatan dokter kita agar tak terulang kejadian tersebut.
Dokter Stefanus Meninggal Akibat Piket 5 Hari Berturut-turut Saat Rekan Libur Lebaran
Seorang dokter spesial anastesi ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di kamar jaga, satu Rumah Sakit Swasta.
Kabar meninggalnya dokter saat bertugas, pertama diunggah oleh akun twitter @blogdokter, pada Selasa (27/6/2017), sekira pukul 22.38 WIB.
Kematian dokter Taofik diduga terkena serangan jantung setelah berjaga 5 hari berturut-turut di 3 rumah sakit, saat senior lain sedang cuti lebaran.

Dokter Stefanus Taofik meninggal saat piket Lebaran (Blogspot)
Stefanus Taopik meninggalkan seorang istri dan seorang anak berusia 1 tahun.
Dokter Stefanus merupakan alumnus fakultas kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (FKUAJ), angkatan 2000.
Tuntut Pemerintah
Dokter meninggal saat melakukan piket jaga di luar batas kemampuan tubuh untuk bekerja tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal yang sama juga pernah terjadi di Malaysia.
Dilansir dari sinarharian.com akibat terlalu letih menghabiskan waktu bekerja selama 33 jam, seorang dokter meninggal dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit Universitas Sains Malaysia (HUSM) ke Kuala Terengganu untuk bertemu tiga anak dan suaminya.
Korban yang dikenal sebagai Dr Nurul Huda Ahmad baru selesai "On Call" pada pukul 5 petang, 9 Mei lalu. Disebutkan bahwa Nurul telah bekerja 33 jam mulai 8 Mei.
Dr Nurul Huda yang melayani di HUSM tinggal di Kota Bharu pada hari kerja sementara suami dan anak-anaknya menetap di Kuala Terengganu.
Jadi, untuk memanfaatkan liburannya, ia pulang ke rumahnya. Namun, nasib menentukan yang lain. Ia mengalami kecelakaan.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan petugas medis dan organisasi non-pemerintah (LSM) disebutkan bahwa kecelakaan maut yang melibatkan dokter yang bertugas dalam periode waktu yang panjang bukanlah sesuatu yang jarang terjadi.
"Sebelumnya kami telah kehilangan rekan kerja, Dr Afifah Mohd Gazi. Jadi saatnya tindakan serius diambil untuk menghindari kehilangan nyawa lain menjadi taruhan.
"Kita menyadari bahwa banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan kendaraan bermotor. Diantaranya masalah kendaraan, kondisi jalan yang buruk dan gangguan lain."
"Namun, kita tidak bisa menolak fakta bahwa kelelahan atau kurang tidur juga adalah salah satu faktor yang diidentifikasi dan dapat dicegah," kata pernyataan itu.
Kalangan medis dan LSM sepakat mendesak Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) dan stakeholder agar meneliti dan mengubah kebijakan waktu bekerja dokter agar dapat mengurangi tingkat kecelakaan kendaraan di kalangan petugas medis.
Ada lima daftar tindakan yang disampaikan kepada KKM antaranya adalah membentuk tim petugas khusus dari Departemen Kesehatan, Departemen Transportasi, universitas dan LSM medis.
Untuk menyelidiki kejadian kecelakaan kendaraan bermotor (MVA) di kalangan pekerja medis dan hubungannya dengan waktu bekerja mereka.
Tak hanya itu tim juga ditugaskan untuk mencari pelanggaran hukum 'waktu bekerja aman' atau akta bagi perlindungan pekerja medis termasuk orang awam.
"Selain itu menumbuhkan kesadaran dalam bentuk kampanye dan keterlibatan aktif dengan pekerja medis dan langkah-langkah keamanan saat terjadi kelelahan dan kurang tidur, menyediakan fasilitas transportasi alternatif atau antar-jemput dari rumah sakit ke lokasi perumahan tertentu.
"Hal utama adalah menyediakan 'post-call off' atau hari-off wajib untuk pekerja medis shift atau dokter on-call," katanya.
Pada tahun 2015, Asosiasi Kedokteran Islam Malaysia (Imam) dan Organisasi Amal Kedokteran Ibnu Sina Malaysia (Papisma) menerbitkan penelitian di kalangan petugas kesehatan profesional tentang post-call MVAS.
Survei dilakukan terhadap 440 responden selama 18 jam mengungkapkan bahwa lebih dari setengah dari kecelakaan (54,8 persen) terjadi setelah bekerja selama 25 sampai 36 jam.
Selain itu, 64.8 persen responden mengakui mengalami trauma psikologis akibat kecelakaan itu.
"Setelah bertugas wajib on call selama 24 jam. Kebanyakan petugas medis harus melanjutkan layanan mereka antara empat sampai 10 jam. Tekanan kerja dikombinasikan dengan kurangnya tidur mengundang kelelahan.
"Faktor kekurangan tidur diidentifikasi sebagai faktor utama kepada MVA sebanding dengan keadaan mabuk yang disebabkan oleh alkohol," ujarnya.
(*)
Artikel ini sudah terbit di Gridpop dengan judul Menyayat Hati, Usai Lakukan Pemeriksaan, Dokter Ini Pingsan hingga Meninggal Dunia di Depan Pasiennya, Tak Disangka Ternyata Ini Penyebabnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dokter-meninggal-karena-kelelahan-bekerja.jpg)