Penjelasan Dokter Soal Kecanduan Main Game yang Sebabkan Gangguan Jiwa

Jari-jarinya selalu bergerak-gerak seolah memainkan sebuah permainan di tangannya, padahal tidak ada barang yang sedang dipegangnya.

Facebook
Mhary Mundoc Idanan, kecanduan game Mobile Legends 

Penjelasan Dokter Soal Kecanduan Main Game yang Sebabkan Gangguan Jiwa

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah video yang merekam perilaku seorang laki-laki yang terus menggerakkan tangannya seolah-olah memegang game console, beredar di media sosial.

Video itu dibagikan sejumlah akun di media sosial. Seorang pria pada video itu disebut mengalami gangguan kesehatan jiwa hingga tidak dapat diajak berkomunikasi karena kecanduan bermain game di ponselnya.

Jari-jarinya selalu bergerak-gerak seolah memainkan sebuah permainan di tangannya, padahal tidak ada barang yang sedang dipegangnya.

Saat ditanya berapa usianya, Wawan juga tidak memberi respon apa pun dan terus memainkan jari-jarinya.

Video itu salah satunya diunggah oleh akun Instagram @info.biasa.

Benarkah kecanduan main game seperti disebutkan dalam video itu bisa menyebabkan gangguan jiwa?

Psikiater dari konsultan kejiwaan Smart Mind Center Consulting Dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ memberikan penjelasannya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (16/7/2019) siang.

Baca: Pegawai Bisa Diangkat tanpa Jenjang Karier, Irwansyah Sebut Peraturan Penghancur PDAM Tirtanadi

Baca: Begal Kembali Unjuk Gigi, Polisi Gelar Razia Besar-besaran Cegah Kejahatan Jalanan Beraksi

Ia mengatakan, kecanduan bermain game di ponsel dapat menyebabkan kecanduan bahkan mengganggu kesehatan fisik dan mental.

“Dia tidak bisa mengendalikan itu walaupun dia tahu dia harus menyetopnya, karena hal tersebut jelek untuk kesehatan atau jelek untuk kehidupannya,” kata Dharmawangsa.

Dampak kecanduan game bisa mewujud dalam beragam bentuk, teegantung dari jenis game yang dimainkan.

“Jadi adiksi perilaku. Setiap game bisa berpotensi kecanduan. Game yang agresif bisa membuat orang jadi agresif, game strategik bisa melatih berpikir tapi tetap saja kecanduan,” ujar dia.

Dharmawangsa menyebutkan, waktu bermain game seharusnya tidak melebihi lamanya waktu bekerja.

“Namanya juga main ya untuk break saja. Kalau kerja full time 40 jam seminggu, masa main game-nya 30 jam seminggu? Sudah lebih dari separuh waktu kerja,” ujar Dharmawan.

Pemain gim yang sudah kecanduan akan kehilangan kenikmatan lain di luar game, termasuk hal-hal penting yang sebenarnya dia butuhkan.

Baca: GIIAS 2019 - Honda Siapkan Pesaing Berat NMAX, New Honda X-ADV 150 Muncul di GIIAS 2019?

Baca: Ajudan Cantik Iriana, Kapten Sandhyca Putrie Masih Single Meski sudah Berkepala Tiga. .

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved