Baca Selengkapnya di Tribun Medan

Anggota DPRD Pukul Meja saat Sidak

"Enggak ada kepala jembatan timbang Pak, tadi datang tapi sekarang lagi keluar. Kami sudah lima hari tutup, sejak Sabtu enggak beroperasi."

Tribun Medan / doc
Sekretaris Komisi C DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan (Kanan) saat merangkul petugas Dishub di timbangan Tanjungmorawa, Bonar Simanjuntak saat menangis dan mengadu ke DPRD Sumut, Kamis (27/10/2016) 

- Alat Jembatan Timbang Tanjungmorawa II tidak Rusak
- Pegawai Waswas Pascapenggerebekan di Sibolangit

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sekretaris Komisi C DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan memukul meja saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di jembatan timbang atau Unit Pelaksana Penimbang Kendaraan Bermotor (UPPKB) Tanjungmorawa I, Kamis (27/10) siang.

Ia memukul meja, karena tak puas melihat inisiatif pegawai di jembatan timbang tersebut.

Baca: Tiga Jembatan Timbang Tutup

Awalnya politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut menyapa beberapa pegawai yang sedang menonton televisi.

Ia kemudian meminta pegawai untuk menghubungi Kepala UPPKB Tanjungmorawa I, Slamet. Namun, seluruh staf mengaku, tak tahu nomor handphone Slamet.

"Enggak ada kepala jembatan timbang Pak, tadi datang tapi sekarang lagi keluar. Kami sudah lima hari tutup, sejak Sabtu enggak beroperasi. Kami disuruh tutup, ya udah enggak ada buka. Enggak ada kami tahu nomor handphone kepala, kalau enggak tahu bagaimana lagi, Pak?" ujar pegawai bernama Muksin.

Baca: Tiga Jembatan Timbang Tutup Pasca-Operasi Tangkap Tangan

Mendengar jawaban seperti itu, Sutrisno langsung memukul meja.

"Saya atas nama negara di sini, atas nama pemerintah di sini. Saya minta baik-baik. Tapi kalian tidak ada peduli sama kami," katanya.

Setelah itu, beberapa pegawai langsung berupaya menghubungi Slamet dan kepala regu. Tapi, pejabat di jembatan timbang tersebut tak ada yang datang menemui Sutrisno.

Muksin kemudian mengaku kecewa pada kepala Unit Pelaksana Penimbang Kendaraan Bermotor Sibolangit, karena menolak bertemu tiga pegawai yang ditangkap polisi. Padahal, seharusnya ada dukungan.

Baca: Dua Jembatan Timbang di Tanjungmorawa Tidak Beroperasi

"Saya baca di koran kepala dinas mau lihat tiga rekan kami yang ditangkap. Sedangkan kepala jembatan timbangan tidak mau lihat, karena takut. Makanya sesudah tertangkap itu, perintahnya ditutup," ujarnya.

Ia menjelaskan, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan seluruh gubernur di Indonesia harus memberantas pungli.

Jembatan Timbang Sibolangit
Truk melintas di jembatan timbang Sibolangit, Sabtu (22/10/2016) siang. Suasana di timbangan sepi usai penggerebekan operasi pungli oleh Polrestabes Medan.

Karena itu, setiap kepala dinas harus memberikan sanksi tegas kepada bawahannya yang ketangkap pungli.

"Padahal, kami enggak melakukan pungli dan tidak ada yang melindungi kami sebagai PNS. Kami hanya menjalankan tugas sesuai perda. Kami kerja, kok di tangkap? Selama ini, enggak ada komentar Anggota Dewan Sumut di televisi. Hanya komentar anggota DPR," katanya.

Baca: Jembatan Timbang Tanjungmorawa I dan II Ditutup Sementara

Ia mengungkapkan, setelah ada penggerebekan jembatan timbang Sibolangit, satu pekan lalu, pegawai jembatan timbang jadi waswas bekerja. Karena itu, beberapa unit timbangan tidak beroperasi.

"Saya sudah 30 tahun kerja, jadi kalau tiba-tiba ditangkap polisi bagaimana? Mana mau kami dipecat. Kami waswas, sesudah kejadian itu baru ditutup. Bukan karena rusak. Bapak sudah pahamlah," ujarnya.

Ia menyampaikan, seharusnya setiap UPPKB punya Closed Circuit Television (CCTV). Agar kinerja pegawai terpantau.

"Untuk apa kami kerja? Kalau ditangkap polisi, enggak jumpa anak istri. Kasihan anak dan istri. Bagus kalau ada CCTV, kami siap dapat hukuman bila terbukti secara sah melakukan pungli," katanya.

jembatan_timbang
jembatan timbang di Jalan Ir Juanda, Binjai Timur, tutup, Selasa (25/10/2016).

Sementara itu Sutrisno mengatakan, Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi harus memberi perhatian terkait pemberantasan pungli. Apalagi, Presiden Joko Widodo sudah perintahkan agar pungli diberantas.

"Gubernur harus dukung program pemberantasan pungli, tapi jangan sampai jadi alasan untuk melakukan kriminalisasi. Apalagi, ada rasa takut karena mereka operator di lapangan," ujarnya.

Baca: Diresmikan 1980, Jembatan Timbang Tanjungmorawa I Sering Rusak

Ia mengungkapkan, seluruh petugas jembatan di Tanjungmorawa sepakat adanya pemberantasan pungli.

"Seluruh petugas sepakat pungli harus diberantas, tidak boleh ada perlawanan terhadap perintah Presiden untuk memberantas pungli," katanya.

Ia menuturkan, Dinas Perhubungan Sumatera Utara harus memberi apresiasi agar pegawai dapat bekerja secara bagus. Bahkan, mereka bersedia bila ada CCTV di UPPKB.

"Jadi, mudah-mudahan Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh layanan publik yang berpeluang pungli ada CCTV. Agar ada rekaman yang membuktikan, bila mereka melakukan pungli, dan bila tidak melakukan pungli jangan pula di kriminalisasi," ujarnya.

Tes Jembatan Timbang

Sebelumnya, Sutrisno melakukan sidak di unit pelaksana penimbang kendaraan bermotor (UPPKB) Tanjungmorawa II. Alhasil, terungkap mesin jembatan timbang tak ada yang rusak.

Tiba di UPPKBTanjungmorawa II, Jalan Medan-Lubukpakam, Km 21, Sutrisno langsung memasuki ruang administrasi. Ada empat pegawai yang bekerja di ruangan, yang posisinya di samping gedung utama.

Truk sedang melintas di jembatan timbang tribun
Truk sedang melintas di jembatan timbang

Awal memasuki ruangan, Sutrisno menyapa ramah empat petugas yang sedang bekerja. "Selamat siang Bapak dan Ibu, maaf menganggu, saya bisa ketemu dengan staf atau pimpinan kalian?" ujar Sutrisno.

Namun, tidak ada satu pegawai pun yang menanggapai Sutrisno.

Baca: Duh, Menteri Perhubungan Ungkap 140 Jembatan Timbang Rawan Pungli

"Kalian ini sombong sekali. Kalian ini PNS harus memberi pelayanan publik, bukan cuek. Saya Sutrisno Pangaribuan, Sekretaris Komisi C DPRD Sumut, siapa kepala di sini, tolong ditelepon bahwa saya datang," katanya kepada para pegawai.

"Saya ini pakai PIN dewan. Kenapa jembatan timbang ini tutup, sudah berapa hari enggak ada aktivits. Saya hanya minta informasi kepada pimpinan kalian," tambahnya.

Mendengar pernyataan Sutrisno, seorang pegawai perempuan Asmi Hasibuan langsung meminta maaf.
Kemudian, ia menelepon kepada unit penimbang kendaraan bermotor Tanjungmorawa II.

Sutrisno Pangaribuan sidak jembatan timbang tribun
Sekretaris Komisi C DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan (Kanan) saat merangkul petugas Dishub di timbangan Tanjungmorawa, Bonar Simanjuntak saat menangis dan mengadu ke DPRD Sumut, Kamis (27/10/2016)

"Maaf kali ya Pak. Kepala kami, marganya Harahap. Saya kurang tahu pasti penyebab jembatan timbang enggak beroperasi. Saya hari Senin masuk kerja memang sudah tidak beroperasi lagi, Pak," katanya menjawab pertanyaan Sutrisno.

Seusai berbincang, Asmi langsung menelepon beberapa staf yang berada di luar kota tepat setelah itu, Asmi menyampaikan mereka cuek, karena takut.

Baca: Petugas Jembatan Timbang Tj Morawa Bingung Tak Ada Kerjaan

"Maaf Pak, saya kira Bapak OKP, makanya saya takut. Maaf ya Pak, saya tidak tahu kalau Bapak Anggota Dewan Sumut," ujarnya.

Tidak lama kemudian, dua pegawai jembatan timbang Tanjungmorawa II, mendatangi Sutrisno. Satu di antaranya staf tersebut bernama Doni. Dua staf tersebut menyampaikan jembatan timbang rusak.

"Mulai Senin ditutup Pak, mesinnya rusak. Namun, secara pasti saya enggak tahu," kata Doni.

Setelah mendengar penjelasan itu, nada suara Sutrisno meninggi, karena menganggap pegawai jembatan timbang, tidak jujur. Karena itu, ia berulang kali meminta agar pegawai tersebut terbuka. Baca Selengkapnya di Harian Tribun Medan Edisi Jumat (28/10/2016) BESOK

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved