Medan Terkini

Tan Seng Huat, Penjual Kelapa Selama 58 Tahun Pasrah Pasar Sambas Dikosongkan

58 tahun menjual kelapa, Tan Seng Huat pasrah Pasar Sambas dikosongkan di usia senja.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Tria Rizki

58 Tahun Menjual Kelapa, Tan Seng Huat Pasrah Pasar Sambas Dikosongkan di Usia Senja


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di sudut Pasar Sambas, Medan, tumpukan kelapa tua tersusun rapi di lapak kecil yang sudah tampak uzur. Di baliknya, Tan Seng Huat (83) duduk pesrah, nafasnya tersengal, tangannya yang keriput sesekali mengusap mesin kelapa, seolah sedang merawat kenangan panjang hidupnya, Rabu (4/2/2026). 

Sudah 58 tahun lamanya ia mengais rezeki dari menjual kelapa di pasar itu. Sejak usia 25 tahun, Tan Huat setia membuka lapak setiap hari. 

"58 tahun saya sudah disini. Sedih rasanya. Masih ingat awal mula jualan 25 Oktober 1968 saya jualan. Dulu orang poltabes kasih tempatnya. Sekarang cuma dikasih 4 hari untuk kosongkan. Sedih tapi kami mau gimana nasib ke depan," kata Pak Huat panggilan karibnya 

Pasar Sambas bukan sekadar tempat berdagang baginya, melainkan rumah kedua, tempat ia membesarkan 3 orang anak-anak dan menyambung hidup hingga usia senja.

"Anak saya tiga, satu meninggal saat Covid. Semuanya saya hidupi dari jualan kelapa. Dari masih muda sampai kaki sekarang sudah sakit-sakitan," ungkap warga Glugur ini 

Kini, semua itu terancam berakhir. Rencana pengosongan Pasar Sambas membuat Tan hanya bisa berharap diberi sedikit waktu hingga perayaan Imlek dan Idul Fitri pada bulan Maret 2026.

Dengan suara pelan, ia menyampaikan satu permintaan sederhana. Beri waktu untuk pengosongan barang-barangnya, seperti mesin yang berat. 

“Saya minta tenggat sampai bulan tiga. Habis itu mau bagaimana lagi, ya sudah lah. Tutup saja usaha. Kalau dipindahkan saya gak kuat ke lantai 3 Sukaramai. Hantu aja pun tak ada yang naik ke situ” ujarnya lirih.

Bagi Tan, pemindahan bukanlah solusi. Ia justru memilih menutup usaha bila harus direlokasi ke tempat lain.

Ia mencontohkan Pasar Sukaramai yang pernah dijadikan lokasi relokasi. Menurut Tan, tempat itu terlalu sepi dan jauh dari pembeli.

“Sukaramai pun sepi. Hantu aja tak ada yang naik itu. Gak semudah orang pikir pindah usaha,” ucapnya sambil menggeleng pelan.

Ucapan itu bukan sekadar keluhan, melainkan cermin kegelisahan pasrah seorang pedagang tua yang menyadari keterbatasannya. Di usia 83 tahun, memulai ulang di tempat baru bukan perkara mudah, bahkan nyaris mustahil.

Setiap hari, Tan datang ke pasar bukan lagi dengan ambisi besar. Ia hanya ingin bertahan, menjual beberapa kelapa, cukup untuk makan dan bertahan hidup. 

Pelanggan-pelanggan lamanya pun kian berkurang, seiring perubahan zaman dan wajah pasar tradisional yang terus terdesak.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved