Ramadhan 1447 Hijriah

Bacaan Niat Puasa Ramadhan dan Doa Berbuka Puasa Puasa Arab, Latin dan Artinya

Bacaan niat puasa Ramadhan adalah Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta'ala.

Editor: Array A Argus
Pinterest/Pikbest | Graphic Design Templates
BUKA PUASA- Ilustrasi sebuah keluarga kecil saat melaksanakan buka puasa dalam suasana yang hangat. 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Karena sebentar lagi umat muslim akan menyambut datangnya bulan Ramadhan, kami akan coba suguhkan bacaan niat puasa Ramadhan dan doa berbuka puasa.

Ulasan tentang bacaan niat puasa Ramadhan dan doa berbuka puasa ini sebenarnya hanya untuk mengingatkan pembaca, yang mungkin lupa atau baru mencoba belajar puasa karena mualaf.

Pada tahun ini, pelaksanaan puasa Ramadhan 1447 Hijriah kemungkinan akan berbeda.

Baca juga: Contoh Poster Ramadhan dengan Tema Anak dan Keluarga di Canva

SAHUR- Ilustrasi sebuah keluarga saat melaksanakan ibadah sahur di rumah untuk menunaikan ibadah puasa Rajab.
SAHUR- Ilustrasi sebuah keluarga saat melaksanakan ibadah sahur di rumah untuk menunaikan ibadah puasa Rajab. (Pinterest/Style)

Organisasi Muhammadiyah sudah sejak awal menegaskan, bahwa pihaknya akan melaksanakan puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada 18 Februari 2026.

Perhitungan pelaksanaan puasa Ramadhan Muhammadiyah ini mengacu pada hisab hakiki wujudul hilal berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Hisab hakiki wujudul hilal adalah metode perhitungan astronomis akurat (hisab hakiki) yang digunakan Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan keberadaan (wujud) hilal di atas ufuk saat matahari terbenam.

Baca juga: Bacaan Lengkap Allahumma Ballighna Ramadhan, Arab, Latin dan Artinya

Metode ini mengacu pada gerak faktual Bulan sebagai benda langit, dengan kriteria utama: ijtima' (konjungsi Bulan-Matahari) telah terjadi sebelum matahari terbenam, matahari terbenam lebih dulu daripada Bulan, dan piringan atas Bulan sudah di atas ufuk saat itu (minimal 0,1°).

Baca juga: Jadwal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah Menurut Muhammadiyah Selama 30 Hari

Berdasarkan perhitungan ijtimak, yakni pertemuan antara Bulan dan Matahari yang terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Syaban 1447 H atau 17 Februari 2026, pukul 12.01 waktu UTC, belum ada satu pun wilayah di dunia yang Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi Bulan minimal 8 derajat.

Namun, setelah pukul 24.00 UTC dan sebelum fajar di Selandia Baru, tepatnya pada pukul 16.06 UTC, terdapat wilayah di daratan Amerika yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 2.

Wilayah tersebut berada pada 56 derajat 48 menit 49 detik Lintang Utara (LU) dan 158 derajat 51 menit 44 detik Bujur Barat (BB). Pada titik tersebut, posisi Bulan tercatat berada pada ketinggian 5 derajat 23 menit 35 detik dengan elongasi 8 derajat 0 menit 11 detik.

Baca juga: Libur Sekolah Februari 2026, Ada Imlek dan Puasa Ramadhan

Dengan terpenuhinya kriteria tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026.

SAHUR- Ilustrasi sahur puasa Ramadhan bersama keluarga di rumah dalam suana yang hangat.
SAHUR- Ilustrasi sahur puasa Ramadhan bersama keluarga di rumah dalam suana yang hangat. (Pinterest/Freepik)

Penjelasan BRIN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa 1 Ramadhan 1447 H akan jatuh berbeda.

1 Ramadhan 1447 H di wilayah Indonesia diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Resep Bubur Kacang Merah, Sajian Menu Buka Puasa yang Sederhana Tapi Nikmat

Dia menerangkan, pada saat Maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, sebagaimana yang digunakan pemerintah dan untuk menentukan awal bulan hijriah.

Ketika waktu tersebut, posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved