Warga Mengeluh Kesulitan Air Bersih, Habiskan Uang hingga Empat Ratus Ribu Per Bulan 

Apalagi, kata Yani, ia memiliki tiga orang anak yang tiap pagi wajib mandi untuk berangkat sekolah.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Sejumlah warga Kabupaten Tapteng sedang mengisi air bersih ke jeriken yang mereka bawa dari rumah, Kamis (18/12/2025). Hingga saat ini air bersih masih sulit di dapat warga pasca bencana banjir dan longsor. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dua bulan pasca-bencana banjir dan longsor, warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Berdasarkan informasi yang Tribun Medan dapatkan, banyak warga yang terpaksa harus membeli air  seharga Rp 1.000  per jeriken. Meski terbilang cukup murah, banyakk warga yang mengeluh. Sebab, air menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Misalnya saja Yani, warga Kelurahan Sibuluan Indah,Kecamatan Pandan. Ia terpaksa harus membeli air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Air bersih itu, kata Yani, bukan hanya dipergunakan untuk Mandi Cuci  Kakus (MCK), tetapi juga diperuntukkan untuk pembersihan rumah usai diperbaiki usai banjir dan longsor.

"Sulit kali, tiap hari mengantre pagi dan sore hari. Sudah sejak bencana belum ada air hidup. Lumayan juga tempat beli air itu di belakang Sekolah Matauli Pandan. Dan kita beli harganya Rp 1.000 di kali 15 jeriken selama 30 hari, berat juga kan," keluhnya kepada Tribun Medan, Minggu (25/1/2026).

Baca juga: Brimob Polda Sumut Bangun Sumur Air Bersih di Desa Batu Horing

Itu artinya, setidaknya Rp 450 ribu per bulan ia habiskan untuk kebutuhan air bersih. Apalagi, kata Yani, ia memiliki tiga orang anak yang tiap pagi wajib mandi untuk berangkat sekolah.

"Rumah kami juga memang sudah selesai perbaikan, cuma kan pembersihan dari perbaikan itu perlu air banyak. Ada  anak kami tiga orang masih sekolah. Semua di Tapteng ini khususnya di Kecamatan Pandan ini nggak ada hidup air. Gimana kalau air enggak hidup terus," ucapnya.

Selain Yani, Ansyah Sitompul juga mengeluhkan hal  yang sama.  Hanya saja, ia lebih memilih mengambil air dengan sistem bayar seikhlasnya.

Menurutnya, terdapat masjid yang menyediakan pengambilan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya untuk pembangunan masjid.

"Gimana ya, tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama itu pernah saya mengantre air setengah jam. Dan pernah juga mengambil air Subuh-subuh, biar nggak mengantre," ucapnya.

Untuk itu ia berharap agar air di rumahnya bisa hidup seperti sebelum bencana. Menurutnya, ia lebih ambil air di Masjid, sekalian sedekah untuk kemakmuran masjid.

"Kalau saya lebih memilih ambil air di sini. Selain untuk niatnya bersedekah juga untuk kemakmuran masjid. Karena ngambil air di sini bayarnya seikhlasnya atau bahasanya infaq," ucapnya.

Ia berharap, air segera hidup. Sebab, air adalah kebutuhan utama masyarakat.

"Karena sudah dua bulan berlalu ini, berharap lah ini menjadi perhatian khusus untuk pemerintah. Karena kalau tidak ada air, penyakit bisa mulai bermunculan," katanya.    

Atas keluhan ini, Tribun Medan sudah coba konfirmasi ke Bupati Tapteng, namun tak kunjung mendapat respons.

Sementara itu, berdasarkan instagram  resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah mengatakan, perbaikan air yang sudah selesai 100 persen adalah Kecamatan Barus Sosorgodang, Manduamas, Sorkam, Tapian Nauli, Sitahuis, dan Lumut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved