Berita Olahraga

PPI Jeda, Atlet Panjat Tebing Sumut Tak Kendurkan Latihan Jelang Kejurnas 2026

Latihan mandiri ini menjadi bentuk komitmen para atlet dalam mempersiapkan diri menghadapi sejumlah agenda kejuaraan nasional sepanjang tahun 2026.

Penulis: Aprianto Tambunan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Aprianto Tambunan
Atlet panjat tebing Sumatra Utara menjalani sesi latihan rutin di wall climbing milik Disporasu, baru-baru ini. Para atlet panjat tebing Sumut tetap jalani latihan rutin meski PPI berhenti.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN– Para atlet panjat tebing Sumatera Utara (Sumut) tetap menjaga konsistensi latihan meski program Pembinaan Prestasi Intensif (PPI) dari KONI Sumut untuk sementara waktu dihentikan.

Latihan mandiri ini menjadi bentuk komitmen para atlet dalam mempersiapkan diri menghadapi sejumlah agenda kejuaraan nasional sepanjang tahun 2026.

Pelatih panjat tebing Sumut, Mustofa Halim, menjelaskan bahwa para atlet yang saat ini tergabung dalam program pembinaan merupakan atlet-atlet berprestasi yang sebelumnya sukses menyumbangkan medali pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Karena itu, kesinambungan program latihan tetap menjadi prioritas, meskipun secara administratif PPI sedang jeda.

“Program PPI dari KONI Sumut sebenarnya berjalan dari bulan Juli sampai Desember. Untuk bulan Januari sampai Februari ini dihentikan sementara dan akan dimulai kembali pada bulan Maret. Saat ini kami tetap menjalankan latihan mandiri, tetapi masih dalam bagian dari program PPI,” ujar Mustofa. 

Menurutnya, meski status program sedang berhenti sementara, pola latihan yang diterapkan tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Para atlet tetap menjalani menu latihan terstruktur yang disusun pelatih, baik dari sisi fisik, teknik, maupun strategi bertanding.

Memasuki bulan Ramadan, intensitas latihan juga tidak mengalami perubahan signifikan.

Namun, tim pelatih tetap melakukan penyesuaian, khususnya bagi atlet yang menjalankan ibadah puasa.

“Kalau intensitas latihan sebenarnya masih sama seperti hari biasa. Hanya saja kami menyesuaikan karena ada atlet nonmuslim dan muslim. Untuk yang muslim biasanya sesi latihan sedikit dikurangi, misalnya dari lima sesi menjadi empat sesi, tetapi jam latihan tetap dimulai pukul 16.00 WIB sore,” jelasnya.

Penyesuaian tersebut dilakukan agar kondisi fisik atlet tetap terjaga tanpa mengurangi kualitas latihan.

Mustofa menilai kedisiplinan dan profesionalisme para atlet menjadi faktor penting dalam menjaga performa, terlebih mereka sudah masuk kategori atlet elite di tingkat nasional.

Meski latihan berjalan rutin, Mustofa mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dari sisi sarana dan prasarana.

Ia menilai fasilitas panjat tebing yang tersedia saat ini membutuhkan pembaruan agar lebih sesuai dengan standar pertandingan nasional maupun internasional.

“Tantangan kami lebih ke sarana dan prasarana. Dinding panjat atau wall sebenarnya butuh inovasi karena belum sepenuhnya sesuai standar. Selain itu tali juga perlu dilakukan rekondisi. Namun dari sisi atlet tidak ada kendala karena mereka sudah termasuk atlet elit,” katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved