Berita Olahraga

Usia 53 Tahun Bukan Halangan, Pelatih Kurash Sumut Menang Kuncian di Medan Combat Championship

Pelatih Kurash Sumatra Utara, Safridoli Tampubolon, sukses meraih kemenangan atas Cristian Andri dalam ajang Medan Combat.

|
TRIBUN MEDAN/Aprianto Tambunan
TERIMA MEDALI - Safridoli Tampubolon menerima medali Medan Combat Championship usai mengalahkan Christian Adrian di kelas eksekutif fight dengan rules MMA kategori 80 kilogram yang berlangsung di Atrium Plaza Medan Fair, Senin (16/2/2026). Safridoli Tampubolon membuktikan usia tak menjadi tolak ukur di olahraga tarung. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Pelatih Kurash Sumatra Utara, Safridoli Tampubolon, sukses meraih kemenangan atas Cristian Andri dalam ajang Medan Combat Championship Vol 1 yang digelar di Atrium Plaza Medan Fair, Senin (16/2/2026).Pria yang akrab disapa Doli itu tampil di kelas eksekutif fight dengan rules MMA kategori 80 kilogram. 

Pria yang akrab disapa Doli itu tampil di kelas eksekutif fight dengan rules MMA kategori 80 kilogram. Di usia 53 tahun 5 bulan, yang terbilang tidak lagi muda untuk ukuran atlet olahraga tarung, Safridoli justru mampu membuktikan bahwa disiplin latihan, pengalaman panjang di dunia bela diri, serta strategi yang matang tetap menjadi faktor penentu kemenangan di atas oktagon.

Sejak awal pertandingan, Doli tampil tenang dan penuh perhitungan. Ia mengaku telah mempelajari karakter lawannya yang memiliki latar belakang tinju, sehingga dipastikan memiliki kemampuan striking dan pertarungan berdiri (stand up fight) yang baik.

“Karena lawan saya saya lihat berlatar belakang tinju itu pasti stand up-nya bagus, jadi memang game plan dan strategi saya dari awal itu saya tidak mau berlama-lama bermain di atas. Karena saya berlatar belakang Brazilian Jujitsu, jadi strategi saya bermain di ground dan strategi itu berhasil saya terapkan dan berakhir dengan kuncian kemenangan,” ujar Safridoli.

Strategi tersebut dijalankan dengan disiplin. Ia berusaha memancing momen yang tepat untuk melakukan takedown dan membawa pertarungan ke bawah. Setelah laga masuk ke ground fight, Doli memanfaatkan pengalamannya di Brazilian Jujitsu untuk mengontrol pergerakan lawan hingga akhirnya mengunci kemenangan lewat teknik submission.

Ia menegaskan bahwa jalannya pertandingan sudah sesuai dengan rencana yang ia susun sejak masa persiapan.

“Jadi pertandingan itu sesuai harapan saya dan sesuai strategi yang sudah saya susun sebelumnya,” katanya.

Bukan Sekadar Mengejar Kemenangan

Bagi Safridoli, partisipasinya dalam ajang ini bukan semata-mata soal menang atau kalah. Ia menegaskan dirinya tidak lagi berambisi mengejar karier profesional sebagai atlet, melainkan ingin menunjukkan bahwa olahraga bela diri bisa menjadi sarana pembinaan karakter dan inspirasi lintas usia.

“Jadi sebenarnya setiap kegiatan pasti ada resikonya, apalagi olahraga keras beladiri. Tapi justru karena kita sudah tahu resikonya, kita tahu mengantisipasinya, semisal dengan latihan penguatan otot-otot dan tulang-tulang, juga diet makanan kita jaga dan konsisten latihan serta mental untuk naik di panggung,” jelasnya.

Menurutnya, kesiapan fisik dan mental menjadi kunci utama, terlebih di usianya yang sudah memasuki kepala lima. Ia menekankan pentingnya konsistensi latihan, pengaturan pola makan, serta penguatan otot dan tulang untuk meminimalkan risiko cedera.

“Saya tampil di situ bukan semata-mata untuk mencari kemenangan di kategori usia saya, karena saya kan bukan mau jadi atlet profesional. Tetapi lebih kepada mau menginspirasi anak-anak muda supaya mereka bisa latihan, ikut kegiatan-kegiatan positif seperti ini daripada mereka nanti nongkrong di luar,” ucapnya.

Safridoli juga menyoroti fenomena remaja yang dinilainya semakin banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan media sosial, sehingga kurang aktif secara fisik maupun sosial.

“Apalagi yang remaja-remaja sekarang kebanyakan kecanduan gadget sehingga kurang peduli dengan lingkungannya. Jadi menurut saya kegiatan pertandingan seperti ini dan latihan di dojo-dojo adalah salah satu faktor yang bagus untuk menarik generasi muda supaya mereka tidak tenggelam di main gadget dan sosial media yang tidak ada artinya,” katanya.

Tak hanya generasi muda, ia juga ingin memberikan pesan kepada para orang tua agar lebih aktif mengarahkan anak-anak mereka ke kegiatan yang positif dan membangun karakter.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved