Catatan Sepak Bola Akhir Tahun

Setelah 2025 yang Menyedihkan

Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh. 

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/IRWAN RISMAWAN
BERFOTO - Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) berfoto bersama Patrick Kluivert dan Denny Landzaat saat sesi perkenalan pelatih baru Tim Nasional Indonesia di Jakarta, 12 Januari 2025. 

TRIBUN-MEDAN.com- Hampir persis setahun lalu, suporter sepak bola Indonesia dilanda harap-harap cemas.

PSSI disebut-sebut bakal memecat Shin Tae-yong pascakegagalan di Piala AFF.

Penggantinya sudah ada. Sudah diwawancarai Erick Thohir, tinggal diumumkan.

Publik sepak bola Indonesia pun segera terbelah. Meski bukan belahan yang simetris; potongan yang geram jauh lebih besar dari yang senang; silang-sengkarut segera melesatkan riuh. Termasuk di televisi.

Satu stasiun televisi swasta, bahkan menggelar acara talkshow nyaris saban hari.

Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh. 

Walau tidak semuanya punya kompetensi untuk bicara bola, tak pelak, bincang-bincang mereka cukup ampuh untuk menggiring opini publik.

Di lain sisi, kecemasan dan kegeraman publik sepak bola nasional juga beralasan. Walau belum cemerlang-cemerlang amat, di tangan Shin Tae-yong, STY, sepak bola Indonesia sudah naik kelas.

Ini fakta yang tidak dapat (baca: tidak boleh!) dimungkiri. Di era STY, yang direkrut di masa kepemimpinan Mochamad Iriawan atawa Iwan Bule di PSSI, Tim Nasional Garuda tak ciut lagi saat menantang negara-negara maju sepak bola.

Bukan lagi Vietnam atau Thailand. Tim Nasional Indonesia, tak terkecuali suporter-suporternya, bahkan percaya diri saat berhadap-hadapan dengan para raksasa macam Jepang dan Australia.

Keberadaan pemain-pemain diaspora [pemain berdarah Indonesia yang lahir dan besar dan membentuk akar sepak bolanya di luar negeri], tentu saja juga memberi pengaruh signifikan.

Namun perlu digarisbawahi juga bahwa STY, sedikit banyak menjadi faktor yang membuat mereka datang dan bersedia dinaturalisasi, dijadikan Warga Negara Indonesia kembali –setelah kakek dan neneknya, atau ayah dan ibunya, berpindah kewarganegaraan.

Naturalasasi bukan program baru. Sebaliknya, sudah dijalankan jauh sebelum Erick Thohir dan Iwan Bule memimpin PSSI. Di era Nurdin Halid, yang sebutlah menjadi pioner dari program ini, dinaturalisasi dua pemain yakni Cristian Gonzales dan Kim Jeffry Kurniawan.

Selanjutnya terdapat 10 pemain dinaturalisasi saat pucuk pimpinan PSSI dipegang Djohar Arifin, ditambah enam lainnya di masa Edy Rahmayadi. Jadi total, sebelum Iwan Bule sudah ada 18 pemain naturalisasi.

Namun memang, naturalisasi di bawah Iwan Bule dan Erick Thohir tidak dapat disamakan dengan naturalisasi sebelumnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved