Berita Internasional

Ultimatum Presiden AS untuk Iran Segera Akhir Perang, Trump: Jika Abai, Tak Ada yang Tersisa

Pernyataan itu muncul saat Washington bersama Israel masih berupaya memecah kebuntuan diplomatik yang hingga kini belum menghasilkan titik terang

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah memanasnya konflik yang melibatkan kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan terbarunya pada Minggu (17/5/2026), Trump mendesak Iran agar segera mengambil langkah menuju kesepakatan damai sebelum situasi semakin tidak terkendali.

Pernyataan itu muncul saat Washington bersama Israel masih berupaya memecah kebuntuan diplomatik yang hingga kini belum menghasilkan titik terang untuk mengakhiri perang.

Ketegangan yang terus meningkat membuat dunia internasional khawatir terhadap potensi meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan maupun ekonomi global.

Trump menyampaikan pesannya secara langsung melalui platform media sosial Truth Social miliknya yang kembali menjadi sorotan publik internasional.

"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bertindak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari AFP, Minggu.

Ucapan tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan politik sekaligus ancaman terbuka kepada pemerintah Iran agar segera menerima jalur negosiasi yang diinginkan Amerika Serikat.

Di sisi lain, pemerintah Iran hingga kini belum memberikan respons resmi terkait ultimatum terbaru yang disampaikan Trump tersebut, meski situasi di kawasan dilaporkan masih sangat tegang.

DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE)
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) (Istimewa)

Pertemuan anggota tim keamanan AS

Pernyataan itu muncurl setelah Trump bertemu dengan para anggota utama tim keamanan nasionalnya pada Sabtu (16/5/2026) untuk membahas langkah selanjutnya dalam perang melawan Iran.

Menurut seorang sumber, dikutip dari CNN, Minggu, Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, dan utusan khusus Steve Witkoff semuanya menghadiri pertemuan di klub golf presiden di Virginia itu.

Pertemuan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Trump kembali ke Washington dari kunjungan penting ke China.

Trump disebut semakin tidak sabar dengan cara Teheran menangani negosiasi diplomatik dan frustrasi dengan penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut. 

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Trump dan timnya menunda pengambilan keputusan tentang bagaimana melanjutkan hubungan dengan Teheran selama kunjungannya ke Beijing.

Beberapa pejabat pemerintahan mengatakan, mereka ingin melihat bagaimana pembicaraan antara Trump dan pemimpin China Xi Jinping berlangsung sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Pertimbangkan opsi serang Iran lagi

Dalam beberapa hari terakhir, Trump semakin serius mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi tempur besar-besaran di Iran.

Ini dilakukan untuk memaksa Iran mencapai kompromi guna mengakhiri perang, meskipun ia lebih memilih untuk menyelesaikan konflik secara diplomatis.

Menurut sumber tersebut, Trump diperkirakan akan bertemu lagi dengan tim keamanan nasionalnya terkait perang pada awal pekan ini.

Pentagon telah menyiapkan serangkaian rencana target militer jika Trump akhirnya memutuskan untuk melanjutkan serangan lebih lanjut, termasuk serangan yang ditargetkan pada situs energi dan infrastruktur di Iran.

Axios pertama kali melaporkan pertemuan hari Sabtu itu.

Trump juga berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu, menurut seorang juru bicara perdana menteri dan seorang pejabat AS.

Pertemuan Pakistan dan Iran

Dari pihak Iran, tidak ada indikasi baru bahwa para pejabat tinggi siap untuk mengalah. 

Media Iran melaporkan, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, telah bertemu dengan para pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian. 

Pakistan telah bertindak sebagai mediator utama selama perundingan perdamaian AS-Iran.

Selama pertemuan-pertemuan tersebut, para pejabat Teheran mengatakan bahwa kehadiran AS di Timur Tengah menyebabkan ketidakstabilan di kawasan itu.

Menurut kantor berita Tasnim, Pezeshkian mengatakan bahwa AS dan Israel selalu berusaha untuk mengadu domba negara-negara Islam melalui proyek-proyek yang memecah belah.

AS juga dituding menumbuhkan ketidakpercayaan, bahkan ketika Iran berupaya menjalin hubungan yang tulus dan stabil berdasarkan hubungan bertetangga yang baik dengan negara-negara Islam di kawasan tersebut.

Artikel sudah tayang di Kompas.com

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved