Berita Viral

TERUNGKAP Trump Sudah Tulis Surat Wasiat untuk Wakilnya jika Ia Dibunuh saat Kunjungan ke China

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya dikabarkan telah menyimpan surat yang ditujukan kepada Wakil Presiden JD Vance

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/AFP/BRENDAN SMIALOWSKI VIA KOMPAS.COM
Presiden China Xi Jinping (kiri) saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI VIA KOMPAS.COM) 

TRIBUN-MEDAN.COM -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya dikabarkan telah menyimpan surat yang ditujukan kepada Wakil Presiden JD Vance jika ia meninggal atau dibunuh.

Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat senior kontraterorisme Gedung Putih, Sebastian Gorka, dilansir Newsweek.

Dia mengungkapkan keberadaan surat itu selama wawancara podcast di tengah fokus yang tertuju pada ancaman keamanan yang dihadapi presiden selama perjalanannya ke China. 

Namun, pejabat tersebut tidak memberi penjelasan rinci dan isi surat itu masih belum diketahui. 

“Ada sebuah surat di laci Meja Resolute yang ditujukan kepada wakil presiden jika sesuatu terjadi padanya (Trump),” kata Gorka tanpa menjelaskan isi surat tersebut.

Komentar Gorka muncul saat Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Namun, dia mengatakan di podcast tersebut, tidak khawatir dengan perjalanan presiden.

“Sama sekali tidak. Saya sama sekali tidak takut mereka akan melakukan sesuatu.”

Dia menambahkan, “Menurut perkiraan saya, presiden sangat aman.” 

Ada kekhawatiran terkait suksesi kepresidenan

Surat tersebut ditujukan untuk JD Vance yang berpotensi menggantikan Trump jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadanya.

Menurut Amandemen ke-25 Konstitusi AS, urutan suksesi jika presiden meninggal atau terbunuh, wakil presiden akan segera menjadi presiden sementara.

Keberadaan surat itu semakin memperkuat kekhawatiran seputar suksesi kepresidenan seiring dengan usia Trump yang mendekati 80 tahun dan kunjungannya ke luar negeri. 

Seperti diketahui, Trump baru saja melakukan perjalanan internasional ke Beijing hanya beberapa minggu setelah beberapa rencana pembunuhannya diungkapkan kepada publik.

Pengungkapan tersebut kembali memicu pengawasan terhadap perencanaan suksesi dan keberlanjutan kepresidenan.

Trump telah selamat dari tiga upaya pembunuhan yang diketahui publik dalam waktu kurang dari dua tahun, termasuk insiden di Butler, Pennsylvania; West Palm Beach, dan Florida.

Terbaru adalah upaya pembunuhan yang terjadi saat acara makan malam Gedung Putih di Washington, DC pada 25 April 2026.

Baca juga: USAI Bertemu Presiden Xi Jinping, Presiden Trump Peringatkan Taiwan Agar Tidak Deklarasi Kemerdekaan

Peringatkan Taiwan

Kini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan secara resmi.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (15/5/2026) setelah Trump menyelesaikan kunjungan kenegaraannya ke China.

Dalam kunjungan itu, Presiden China Xi Jinping mendesak AS untuk tidak mendukung Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan mandiri tersebut.

Dalam wawancara bersama Fox News dalam program "Special Report with Bret Baier", Trump secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap opsi kemerdekaan Taiwan.

Dia bahkan mempertanyakan alasan logis mengapa AS harus membela pulau tersebut jika terjadi serangan, sebagaimana dilansir AFP. 

"Saya tidak ingin ada pihak yang merdeka. Dan, Anda tahu, kita harus menempuh jarak 9.500 mil untuk berperang. Saya tidak menginginkan hal itu,"ujar Trump.

"Saya ingin mereka (Taiwan) tenang. Saya ingin China tenang. Kita tidak mencari peperangan, dan jika Anda membiarkannya seperti apa adanya, saya pikir China akan baik-baik saja dengan hal itu," tambah Trump.

Sebelumnya, Xi Jinping telah membuka KTT dengan peringatan keras mengenai Taiwan.  

Kepada Trump, Xi menegaskan bahwa salah langkah dalam isu sensitif ini dapat memicu "konflik".

Secara hukum, AS memang diwajibkan menyediakan senjata untuk pertahanan Taiwan.

Namun, Washington secara historis menerapkan strategi ambigu terkait apakah pasukannya akan benar-benar datang membantu, serta memilih untuk tidak mendukung kemerdekaan formal meski tidak secara eksplisit menyatakan menentangnya.

Selain isu geopolitik, Trump mengklaim telah menghasilkan sejumlah kesepakatan dagang yang besar selama kunjungannya, meskipun rinciannya masih sangat kabur.

"Kami telah membuat beberapa kesepakatan perdagangan yang fantastis, sangat bagus untuk kedua negara," kata Trump setelah berjalan-jalan dengan Xi di taman Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan pusat di sebelah Kota Terlarang Beijing.

"Kami telah menyelesaikan banyak masalah berbeda yang tidak akan bisa diselesaikan oleh orang lain," klaim Trump tanpa memberikan spesifikasi lebih lanjut.

Di sisi lain, Xi Jinping menyebut kunjungan itu sebagai tonggak sejarah dan berjanji akan mengirimkan benih mawar untuk Taman Mawar Gedung Putih.

Meski Trump menyebutkan bahwa Beijing akan membeli minyak dan kedelai Amerika, sejauh ini belum ada pengumuman formal dari perusahaan-perusahaan atau pihak China terkait kesepakatan dagang tersebut, kecuali dari pihak Boeing.

Perusahaan kedirgantaraan tersebut mengonfirmasi bahwa China telah memberikan komitmen awal untuk membeli 200 pesawat, sebuah kesepakatan yang sebenarnya sudah pernah diumumkan oleh Trump sebelumnya.

Sikap menahan diri dari pihak China ini mencerminkan nada KTT secara keseluruhan.

Pendekatan Trump yang berulang kali memuji Xi Jinping sebagai "pemimpin hebat" dan "sahabat" justru disambut dengan respons yang lebih diredam oleh Beijing.

"Trump mendapatkan citra yang dia cari dan pihak China dengan senang hati memberikannya," kata Jacob Stokes, pengamat senior di Center for a New American Security.

Selain itu, rencana kedua pemimpin untuk membahas perpanjangan gencatan tarif satu tahun, yang sempat menjeda perang dagang sengit tahun 2025, ternyata batal terlaksana.

Kunjungan Trump ke China ini sempat tertunda satu kali akibat perang di Iran.

Teheran sendiri telah menolak seruan kesepakatan damai dari Trump dan membalasnya dengan memperketat kendali atas Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak global.

Dalam kunjungan ini, Trump tampaknya belum berhasil mengamankan terobosan apa pun dengan China terkait konflik tersebut.

Meski demikian, Trump menyatakan bahwa Xi telah meyakinkannya bahwa China tidak sedang mempersiapkan bantuan militer ke Iran.

Langkah ini sekaligus merespons tuduhan Israel yang menyebut Beijing telah menyediakan teknologi rudal utama ke Tehran.

Kementerian Luar Negeri China sendiri hanya merilis pernyataan singkat yang menyebut bahwa jalur pelayaran harus dibuka kembali sesegera mungkin. 

Trump juga terlihat dalam upayanya membebaskan Jimmy Lai, taipan media pro-demokrasi Hong Kong yang dipenjara dan mendapat dukungan luas dari Washington.

Trump mengakui tidak bisa membujuk Xi untuk membebaskan Lai.

"Dia (Xi) memberi tahu saya, Jimmy Lai adalah hal yang sulit untuk dia lakukan," kata Trump kepada reporter.

Mengenai hal ini, Bonnie Glaser selaku direktur pelaksana program Indo-Pasifik di German Marshall Fund menilai komentar publik Trump mengenai Lai memang terdengar setengah hati sejak awal.

"Perasaan saya adalah pihak China melihat bahwa ini bukan prioritas utama bagi AS. Apa yang tampaknya paling diinginkan Trump adalah pembelian produk-produk Amerika. Itu tampaknya menjadi prioritas tertingginya," jelas Glaser.

Sebagai langkah ke depan, Trump telah mengundang Xi Jinping untuk melakukan kunjungan balasan ke Washington pada September 2026 mendatang.

(*/Tribun-medan.com)

Baca juga: INILAH Deretan Ketegangan di Balik Layar Antara Tim Presiden Trump dan Pengawal Xi Jinping di China

Baca juga: Donald Trump Deal Besar-besaran dengan China Buat Heboh, Poin Utama Dirahasiakan?

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved