Berita Viral
Polemik Pertumbuhan Ekonomi RI, Purbaya: Dominan Daya Beli Masyarakat, Bukan Cuma Belanja Negara
Purbaya menegaskan pertumbuhan ekonomi terutama ditopang konsumsi rumah tangga, bukan semata-mata belanja pemerintah
TRIBUN-MEDAN.com - Data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I 2026 masih menjadi polemik di kalangan sejumlah kalangan.
Tak sedikit kalangan yang meragukan pertumbuhan ekonomi tersebut berdasarkan data BPS yang dirilis pada awal Mei.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef, M Rizal Taufikurahman, menyampaikan, pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari kualitasnya, bukan hanya dari angka pertumbuhan.
Meski ekonomi terlihat resilien, kata Rizal, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan fundamental yang kuat karena manfaat pertumbuhan belum dirasakan merata oleh kelas menengah dan sektor riil.
"Tekanan terhadap fundamental ekonomi juga terlihat dari pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, dan meningkatnya tekanan fiskal akibat belanja pemerintah yang tumbuh tinggi sehingga pertumbuhan masih bergantung pada stimulus fiskal yang mahal," papar Rizal dikutip Kamis (14/5/2026).
Sejumlah ekonom lainnya menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen turut ditopang belanja negara yang cukup besar pada triwulan 1, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.
Baca juga: Sejarah Baru Pelemahan Rupiah 15 Mei 2026, Tembus Rp 17.600 per Dollar AS
Baca juga: Utang RI Nyaris Rp 10.000 Triliun, Menteri Purbaya Sebut Masih Aman, Beda dengan Jepang dan AS
Secara terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, bukan semata-mata belanja pemerintah seperti yang banyak dipersepsikan pasar.
Purbaya mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 2,94 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut dia, hal itu menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi, Kamis (14/5/2026).
Purbaya menyebut hal ini sekaligus merespons pandangan sejumlah ekonom yang sebelumnya menilai pertumbuhan ekonomi awal tahun lebih banyak ditopang percepatan belanja negara sehingga berisiko melambat pada semester II-2026.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi tercatat memberi kontribusi sebesar 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara kontribusi belanja pemerintah tercatat sebesar 1,26 persen.
Purbaya menjelaskan struktur pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari kontribusi masing-masing komponen terhadap total PDB nasional, bukan hanya dari laju pertumbuhan sektoral semata.
Menurut dia, kontribusi pertumbuhan dihitung berdasarkan pertumbuhan masing-masing komponen yang dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian nasional.
| Kronologi 2 ABG Bertengkar Gara-gara Seorang Wanita, 1 Orang Jadi Korban Tewas Ditikam |
|
|---|
| USAI Bikin Heboh, Ayu Aulia Ngaku Soal Abosi dan Hubungannya dengan Bupati R Cuma Halusinasi |
|
|---|
| Modus Jaksa Gadungan Tipu Mahasiswa Rp69 Juta Lalu Foya-foya Nginap Vila Sebulan hingga Open BO |
|
|---|
| Baru Sehari Bekerja, ART di Rumah Pribadi Bupati Konsel Jadi Korban Pencabulan, Sosok Pelaku Terkuak |
|
|---|
| Mulai Disalurkan Bansos PKH dan BPNT, Cara Cek Nama Penerima Bansos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kondisi-purbaya-terbaru.jpg)