Berita Internasional
Mengejutkan Pengakuan Donald Trump, Presiden AS Dilaporkan Ingin Angkat Kaki dari Perang Iran
Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya perang Iran yang justru dipicu oleh operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.
TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengejutkan publik internasional.
Kali ini bukan lewat ancaman serangan baru atau pernyataan keras terhadap Iran, melainkan pengakuan bahwa dirinya mulai “bosan” dengan konflik yang sedang berlangsung di Teluk Persia.
Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya perang Iran yang justru dipicu oleh operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.
Dalam laporan The Atlantic yang dikutip Yahoo News, seorang penasihat Trump menyebut sang presiden mulai frustrasi karena perang tidak berjalan sesuai rencana awal.
"Trump tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini," tulis laporan tersebut.
Kalimat itu menjadi titik balik penting.
Hanya dalam hitungan hari, operasi militer yang sebelumnya digambarkan sebagai “Operasi Pembersihan” berubah menjadi tekanan politik dan ekonomi bagi Washington sendiri
Di balik narasi “bosan”, banyak analis melihat adanya sinyal bahwa Gedung Putih mulai menyiapkan jalan keluar darurat dari konflik Hormuz.
Terutama setelah eskalasi di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi global dan tekanan domestik terhadap Partai Republik.
Sebuah Blunder Strategis?
Pernyataan Trump dinilai sebagai pengakuan langka mengenai salah hitung dalam membaca Iran.
Berdasarkan laporan tersebut, Trump sebelumnya percaya bahwa Iran dapat ditekan secepat operasi AS di Venezuela.
Pada Januari lalu, ia mengizinkan operasi militer untuk menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Operasi itu dianggap berhasil karena tidak ada korban dari pihak tentara AS.
Keberhasilan tersebut membentuk keyakinan Trump bahwa pendekatan tekanan militer cepat bisa kembali diulang terhadap Iran.
Bahkan, Trump sempat sesumbar kepada orang-orang terdekatnya bahwa Iran akan menjadi "Venezuela yang lain".
Namun kenyataan di lapangan berbeda jauh. Iran tidak runtuh hanya karena ancaman blokade dan pengerahan kapal induk.
Intelijen AS justru memperkirakan Teheran mampu bertahan setidaknya tiga hingga empat bulan ke depan.
Ekspektasi Washington yang mengira Iran akan tunduk hanya lewat tekanan diplomatik dan dokumen kesepakatan singkat ternyata tidak terbukti.
Baku tembak dan ketegangan di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa Iran tidak bisa digertak hanya dengan draf satu halaman.
Dalam perspektif psikologi politik, perubahan sikap Trump memperlihatkan pola klasik seorang pemimpin populis: agresif saat membuka konflik, tetapi mulai mengambil jarak ketika biaya politik meningkat dan kemenangan cepat tak kunjung datang.
Ketika Harga BBM Mengalahkan Retorika Perang
Tekanan terbesar justru datang dari dalam negeri AS sendiri.
Setelah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia, harga bensin nasional AS melonjak hingga 4,55 dolar AS per galon per Jumat (8/5/2026).
Kenaikan itu langsung memicu keluhan publik kepada Partai Republik. Para petinggi partai yang sebelumnya hanya khawatir kehilangan kursi DPR kini mulai takut dominasi mereka di Senat ikut runtuh.
Kesabaran disebut bukan merupakan kekuatan utama Trump.
Penasihat yang rutin berkomunikasi dengannya menyebut Trump kini "bosan" dengan perang tersebut, sementara pihak lain melihatnya frustrasi atas keteguhan sikap Iran.
Di saat bersamaan, biaya pengerahan armada militer juga terus membesar.
Jet tempur AS dan Israel yang sebelumnya disiagakan untuk menekan Iran kini justru menjadi simbol mahalnya konflik berkepanjangan tanpa hasil nyata.
Situasi itu membuat retorika kemenangan cepat semakin sulit dipertahankan.
Menanti 'Kado' untuk Xi Jinping
Perubahan nada bicara Trump juga dinilai berkaitan dengan agenda geopolitik yang lebih besar, terutama rencana pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat.
Trump diperkirakan ingin datang ke meja perundingan bukan sebagai pemimpin yang gagal mengendalikan perang, melainkan sebagai tokoh yang memilih “fokus pada prioritas lain”, terutama perdagangan dan stabilitas ekonomi global.
Karena itu, narasi “bosan” bisa dibaca sebagai strategi komunikasi politik untuk mengurangi ekspektasi publik sekaligus membuka ruang mundur tanpa terlihat kalah.
Dalam skenario tersebut, Pakistan mulai disebut sebagai pihak yang berpotensi mengambil alih proses mediasi regional. Peran Islamabad dinilai penting karena memiliki jalur komunikasi dengan Iran maupun blok Barat.
Jika mediasi berhasil dialihkan, AS berpeluang menarik diri perlahan dari konflik tanpa harus mengakui kegagalan secara terbuka.
Laporan The Atlantic bahkan menyebut Trump kini justru "enggan" untuk melanjutkan pertempuran lebih jauh.
Akhir dari Sebuah Gertakan
Apa yang disebut sebagai “kebosanan” Presiden AS kemungkinan bukan sekadar emosi pribadi, melainkan instrumen politik yang sengaja dimainkan.
Dalam politik global, perubahan retorika sering digunakan untuk mengubah arah konflik tanpa harus mengakui kesalahan strategi sejak awal.
Saat ini, Washington berada di titik sulit: melanjutkan perang berarti menanggung biaya ekonomi dan risiko politik lebih besar, sementara mundur terlalu cepat bisa dianggap sebagai kelemahan.
Di papan catur geopolitik, terkadang cara terbaik untuk menutupi langkah yang salah adalah dengan pura-pura bosan dengan permainannya.
Artikel sudah tayang di Kompas.com
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Gencatan AS dengan Iran Masuk Fase Sekarat, Harga Minyak Dunia Langsung Naik |
|
|---|
| Wanita Tikam Kekasihnya hingga Tewas di Pabrik setelah Pergoki Teleponan dengan Perempuan Lain |
|
|---|
| Alotnya Proses Gencatan Senjata AS dan Iran, Trump Sebut Proposal dari Teheran Tak Masuk Akal |
|
|---|
| Kondisi Terkini Motjaba Khamenei usai Serang Israel-AS, Begini Penjelasan Resmi dari Iran |
|
|---|
| Kepergok Bersama Sang Kekasih di Rumah, Wanita Muda Tewas Dihabisi Tiga Saudaranya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Mohammad-Bagher-Ghalibaf-DIINCAR-PRESIDEN-TRUMP.jpg)