Berita Viral

Istrinya Hamil Ditandu 30 Km di Tapsel, Suami: Bayi Kami di Kandungan Sudah Gak Ada Nyawa Lagi

Dari pengakuan Rinto terungkap fakta yang memilukan soal kondisi bayi di dalam kandungan ternyata sudah meninggal.

Tayang:
TRIBUN MEDAN
KEHILANGAN BAYI - Pasangan suami istri Rinto Aritonang dan Tuti Daulay saat ditemui di Sipirok, Selasa (12/5/2026). Tuti kehilangan bayinya saat ditandu warga sejauh 30 kilometer untuk melahirkan di RSUD Sipirok pada Sabtu 9 Mei 2025 lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPSEL - Rinto Aritonang, suami Tuti Daulay yang viral ditandu warga hendak melahirkan sejauh 30 kilometer akhirnya buka suara atas kejadian yang dialaminya.

Rinto dan Tuti merupakan pasangan suami istri dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan.

Tuti terpaksa ditandu warga ramai-ramai saat hendak melahirkan sejauh 30 kilometer menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sipirok pada Sabtu (9/5/2026) kemarin.

Rinto dalam penjelasannya menyebut, bahwa sang istri ditandu warga karena persalinan tidak bisa dilakukan di Dusun Aek Nabara.

"Istri mau melahirkan di kampung. Soalnya kandungan yang di dalam sudah gak ada nyawa lagi. Gak bisa ditolong lagi di kampung," ujarnya saat diwawancarai di rumah saudarnya di Sipirok, Selasa (12/5/2025).

TERBARING - Tuti Daulay terbaring di rumah saudaranya di Sipirok usai kehilangan bayinya saat melahirkan, Selasa (12/5/2025).
TERBARING - Tuti Daulay terbaring di rumah saudaranya di Sipirok usai kehilangan bayinya saat melahirkan, Selasa (12/5/2025). (TRIBUN MEDAN)

Dari pengakuan Rinto terungkap fakta yang memilukan soal kondisi bayi di dalam kandungan ternyata sudah meninggal.

Dalam video yang beredar di media sosial Facebook, Tuti Daulay mengerang kesakitan saat ditandu warga.

Mereka terpaksa berjalan kaki sambil menandu Tuti Daulay selama enam jam untuk bisa sampai ke RSUD Sipirok.

"Bawanya ke sini (Sipirok) harus ditandu, gak bisa naik kereta (motor). Kami berjalan kaki selama enam jam," ujarnya.

Dari penjelasan dokter di RSUD Sipirok, lanjut Rinto, terungkap penyebab kematian bayi di dalam kandungan istri.

"Keterlambatan. Penanganan medisnya terlambat," ujarnya singkat.

Atas kejadian ini, Rinto mengapungkan asanya agar adanya perbaikan jalan di Dusun Aek Nabara, sehingga kejadian seperti yang dialaminya tidak terulang lagi.

"Kalau bisa jalan itu yang diperbaharui agar lancar perjalanan. Kalau gak bisa masuk mobil, yang penting roda dua lancar. Kami di sana pun tak ada listrik, cuma memakai tenaga surya," ujarnya.

Mengerang kesakitan

DITANDU - Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay ditandu warga ramai-ramai saat hendak melahirkan, Sabtu (9/5/2026). Ia merupakan warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Arse, Tapanuli Selatan.
DITANDU - Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay ditandu warga ramai-ramai saat hendak melahirkan, Sabtu (9/5/2026). Ia merupakan warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Arse, Tapanuli Selatan. (TRIBUN MEDAN)

Sebelumnya,  pilu kehidupan seorang ibu hamil di Arse, Tapanuli Selatan, ditandu sejauh 30 kilometer saat hendak melahirkan demi sampai ke rumah sakit.

Ibu hamil ditandu di Arse ini bernama Tuti Daulay. Ia berasal dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse.

Momen tersebut dibagikan akun Samsul Bahri Sihombing di Facebook, Sabtu (9/5/2026) dan sempat vital.

Dalam video yang berdurasi sekitar 5 menit itu, terlihat seorang ibu bernama Tuti Daulay dalam keadaan hamil dan ingin melahirkan tengah ditandu secara gotong royong oleh warga.

Diketahui, akses warga Desa Dalihan Natolu menuju rumah sakit terdekat rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.

Ironisnya lagi, daerah itu juga tidak memiliki fasilitas kesehatan, seperti puskesmas.

Kejadian ibu hamil ditandu saat melahirkan ini diungkap Samsul Bahri Sihombing dalam siaran langsungnya di Facebook, Sabtu (9/5/2026).

Samsul Bahri Sihombing merupakan seorang yang bisa mengobati orang sakit di kampung.

"Ibu hamil ini bernama Tuti Daulay dan suaminya Rinto Aritonang. Ia ditandu saat hendak melahirkan karena di kampung ini tidak ada rumah sakit. Jaraknya sejauh 30 kilometer," ungkap Samsul, Senin (11/5/2026).

Dari siaran langsung yang dibagikan Samsul, tampak Tuti Daulay mengerang kesakitan. Ia ditandu warga memakai kayu dan kain sebagai penopang badannya.

Bayi meninggal

KEHILANGAN BAYI - Pasangan suami istri Rinto Aritonang dan Tuti Daulay saat ditemui di Sipirok, Selasa (12/5/2026). Tuti kehilangan bayinya saat ditandu warga sejauh 30 kilometer untuk melahirkan di RSUD Sipirok pada Sabtu 9 Mei 2025 lalu.
KEHILANGAN BAYI - Pasangan suami istri Rinto Aritonang dan Tuti Daulay saat ditemui di Sipirok, Selasa (12/5/2026). Tuti kehilangan bayinya saat ditandu warga sejauh 30 kilometer untuk melahirkan di RSUD Sipirok pada Sabtu 9 Mei 2025 lalu. (TRIBUN MEDAN)

Samsul menjelaskan, awalnya ia dihubungi keluarga Tuti untuk memeriksa kondisi bayi di dalam kandungannya.

Namun, setelah Samsul memeriksa, bayi dalam kandungan Tuti diketahui telah meninggal dunia.

Kemudian, ia merekomendasikan agar Tuti dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut.

Ada sekitar 20 warga yang ikut menandu Tuti pada saat itu agar bisa melahirkan ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, operasi pun dilakukan pada Minggu, 10 Mei 2026. Tuti berhasil diselamatkan, namun bayinya telah meninggal dunia.

"Sayangnya bayinya  tidak bisa terselamatkan dan meninggal dunia. Sekarang kondisi sang ibu sudah sehat," ujarnya.

Kondisi desa

Desa Dalihan Natolu, Arse, Tapsel dihuni 24 kepala keluarga. Kondisi di desa ini bisa dibilang ironis karena minim pembangunan seperti akses jalan.

"Roda dua saja pun jarang yang bisa lewat. Kalau pun bisa, dipaksakan warga. Jangankan pengaspalan, alat berat aja pun belum pernah masuk," ujarnya.

Mewakili warga Dusun Aek Nabara Samsul menyampaikan, sudah puluhan tahun warga mendambakan pembangunan jalan, pelayanan kesehatan dan penerangan listrik PLN.

"Kami berharap pemerintah Tapanuli Selatan dapat memperhatikan Dusun Aek Nabara, mulai dari pembangunan jalan, pelayanan kesehatan dan listrik sebagai penerang," pungkasnya. 

Dijenguk bupati

JENGUK - Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan menjenguk Tuti Daulay di Sipirok, Selasa (12/5/2026). Tuti merupakan ibu hamil yang viral ditandu warga dari Dusun Aek Nabaru, Dalihan Natolu, Arse. Kini ia telah kehilangan bayinya saat proses persalinan.
JENGUK - Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan menjenguk Tuti Daulay di Sipirok, Selasa (12/5/2026). Tuti merupakan ibu hamil yang viral ditandu warga dari Dusun Aek Nabaru, Dalihan Natolu, Arse. Kini ia telah kehilangan bayinya saat proses persalinan. (TRIBUN MEDAN)

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu datang menjenguk Tuti Daulay, ibu hamil yang viral ditandu warga saat hendak melahirkan.

Tuti Daulay merupakan warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse. 

Ia ditandu warga ramai-ramai sejauh 30 kilometer saat hendak melahirkan demi sampai ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sipirok, pada Sabtu (9/5/2026) kemarin.

Setibanya di rumah sakit, proses persalinan Tuti Daulay menyatakan bahwa bayi yang dikandungnya sudah tak bisa diselamatkan lagi.

Saat ini, Tuti Daulay belum pulang ke rumahnya di Dusun Aek Nabara, Arse. Ia sedang beristirahat di rumah saudaranya di Pinang Nabaris, Sipirok.

Gus Irawan pun datang menemui Tuti Daulay. Pertemuan keduanya terjadi, Selasa, (12/5/2026) siang.

tuti-daulay-melahirkan-tribunmedan
TERBARING - Tuti Daulay terbaring di rumah saudaranya di Sipirok usai kehilangan bayinya saat melahirkan, Selasa (12/5/2025).

Menurut Gus Irawan, pihaknya mengerti situasi yang terjadi Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, sehingga Tuti Daulay ditandu warga saat hendak melahirkan sejauh 30 kilometer.

Desa berada di hutan lindung

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan juga sudah mengajukan program Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2025 untuk membuka jalan di Kecamatan Arse.

"Kami memang mengerti situasi di sana sangat berat. Karena itu, untuk program TMMD 2025 sudah diajukan. Desa Dalihan Natolu ini berada di kawasan hutan lindung, sehingga kami tidak punya kewenangan," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Gus Irawan, ia menyebut peluang membukan jalan di kawasan hutan lindung seperti yang terjadi di Desa Dalihan Natolu bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak TNI.

"Dengan program TMMD dan Karya Bhakti. 2025 sudah kami rencanakan dan memohon izin ke kehutanan, tapi tidak diberi izin, sehingga program ini tertunda," ujarnya.

Gus Irawan mengakui, situasi medan di Desa Dalihan Natolu memang berat. Itu terlihat dari proses Tuti Daulay yang ditandu warga ramai-ramai saat hendak melahirkan. Jalan aspal di sana sangat jarang.

"Yang paling berat medannya itu adalah Desa Dalihan Natolu. Di samping memang medannya yang berat. Saya terus terang belum pernah ke sana. Makanya setelah dari sini, saya akan pergi ke sana untuk melihat situasi dan faktanya," ujarnya.

Fasilitas dan nakes di Desa Dalihan Natolu

Terungkap fakta memilukan yang terjadi di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu sangat minim fasilitas warga untuk berobat. Seperti puskemas hingga tenaga kesehatan.

Ini yang menyebabkan Tuti Daulay terpasa ditandu warga sejauh 30 kilometer saat hendak melahirkan.

Menanggapi hal ini, Gus Irawan mengaku pihaknya sudah menambah pelayanan kesehatan sebanyak 15 pos kesehatan desa di Tapanuli Selatan.

"Misalnya di sana pun kami buat pos kesehatan, pasti terbatas dan dirujuk ke rumah sakit. Nah, koneksivitasnya yang paling utama. Karena selama ini masyarakat yang keluar dari sana dengan berjalan kaki," ujarnya.

(ase/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved