Berita Viral
Sembilan Siswa SD Dihukum Guru Makan Tanah Lumpur Gegara Main Bola, Orangtua Ngamuk
Sembilan siswa SD di Maluku Utara dihukum guru makan tanah lumpur gegara tidak dengar teguran saat main bola
TRIBUN-MEDAN.COM – Sembilan siswa SD di Maluku Utara dihukum guru makan tanah lumpur.
Gegara tidak dengar teguran saat main bola, sembilan siswa SD dihukum guru makan tanah lumpur.
Dari sembilan murid tersebut, lima orang murid benar memakan tanah sementara empat lagi tidak.
Kejadian tersebut membuat orangtua siswa mengamuk dan nyaris memukul guru tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulau Taliabu, Damruddin Rahman, mengatakan, peristiwa ini terjadi di lingkungan sekolah pada Senin (4/5/2016) sekitar pukul 16.00 WIT.
Saat itu, seorang guru piket menegur sejumlah siswa agar berhenti bermain bola yang terbuat dari tanah lumpur.
"Siswa bermain bola terbuat dari tanah ada sembilan orang. Satu orang kelas empat, dan delapan orang kelas lima," kata Damruddin, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: SOSOK Chyntia Kalangit, Bupati Sitaro Korupsi Bantuan Bencana Rp 22,7 M, Modusnya Dikuak Jaksa
Meskipun telah diberikan teguran berulang kali, kata Damruddin, para siswa tersebut tetap bermain bola dan tak menghiraukan imbauan guru agar masuk ke dalam kelas untuk belajar.
"Spontan ibu guru piket dengan kesal campur kecewa, marah langsung kasi hukuman, suruh makan gumpalan tanah yang mereka mainkan itu.
Mungkin maksud ibu guru hanya gertakan saja," ujar Damruddin.
Lanjut Damruddin, guru piket tersebut kemudian mengatur siswa lainnya, dan tanpa disadari ada yang benar-benar makan tanah lumpur tersebut.
Baca juga: LENGKAP Nama 16 Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS vs Mobil Tangki BBM, 4 Orang Selamat
"Lima orang makan (tanah lumpur), empat orang tidak.
Dengan spontan siswa itu pada cuci mulut, membersihkan mulut mereka masing-masing," ungkapnya.
Hal ini kemudian oleh siswa dilaporkan kepada orangtua mereka masing-masing setelah pulang ke rumah.
Ia menambahkan, orangtua siswa yang tak terima anaknya makan tanah lumpur kemudian mendatangi sekolah.
"Tanggal 5 Mei, sekitar jam 10 pagi. Lima orangtua siswa datang ke sekolah mengamuk, ingin pukul ibu guru itu," jelas Damruddin.
Beruntung, aksi ini cepat dilerai oleh para guru lainnya dan sejumlah orang yang hadir.
Pengawas sekolah pun segera tiba di lokasi sekolah melakukan mediasi antara orangtua siswa dan guru bersangkutan.
Baca juga: Motif Guru Berani Pangkas Paksa Rambut Siswi SMKN 2 Garut, Bawa-bawa Jabatan Keluarga
"Saya masih di luar daerah. Kemarin saya perintahkan pengawas sekolah. Guru maupun orangtua siswa diberikan ruang dan waktu untuk mereka bicara, keluarkan unek-unek mereka masing masing," jelas Damruddin.
Damruddin mengatakan kasus tersebut berakhir damai setelah mediasi pada Selasa (5/5/2026).
"Masalahnya sudah selesai, kedua belah pihak sudah saling memaafkan," kata Damruddin, Rabu (6/5/2026).
Damruddin menegaskan kepada guru-guru agar tidak melakukan hal serupa dikemudian hari.
Dia juga ingin orang tua murid bisa menjadi guru di lingkungan keluarga.
Tujuannya bisa mengawasi secara bersama serta membimbing ke arah yang lebih baik. Karena baginya, di sekolah merupakan tanggungjawab guru yang akan membina peserta didik.
*/tribun-medan.com
artikel ini telah tayang di Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ilustrasi-anak-SD-Sekolah-Dasar-Siswa-SD-Murid-SD.jpg)