Perang AS dan Israel vs Iran

UPDATE Perang Iran, Teheran Kirim Proposal Baru ke AS, Diserahkan Lewat Pakistan

Di tengah ketegangan geopolitik Iran secara resmi mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS).

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Kompas.com
Iran secara resmi mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS), yang diserahkan melalui mediator Pakistan pada Kamis (30/4/2026) malam . 

TRIBUN-MEDAN.com - Di tengah ketegangan geopolitik Iran secara resmi mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, Jumat (1/5/2026), pemerintah Iran menyampaikan posisi terbaru mereka ke Washington melalui Pakistan. 

Negara tersebut sebelumnya menjadi mediator dalam putaran pertama negosiasi langsung antara kedua pihak pada bulan lalu. 

Kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (1/5/2026) melaporkan bahwa dokumen proposal tersebut diserahkan kepada pihak Islamabad pada Kamis (30/4/2026) malam untuk diteruskan ke Gedung Putih. 

Langkah ini menunjukkan keinginan Iran untuk mencari jalan keluar diplomatik guna mengakhiri konflik yang dimulai sejak serangan mendadak besar-besaran oleh AS dan Israel pada akhir Februari lalu.

Baca juga: 3 Hari AS Blokade Total Pelabuhan Iran, Teheran Kini Ajukan Proposal Baru soal Selat Hormuz

Nasib Selat Hormuz masih menjadi isu utama dalam kebuntuan saat ini.

Iran bersikukuh menutup Selat Hormuz. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan akan mempertahankan blokade laut seluruh pelabuhan Iran.

Sebelum konflik, jalur Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. 

Baik Iran maupun AS sama-sama memberi sinyal menunggu langkah pihak lawan sebelum melonggarkan pembatasan lalu lintas di kawasan tersebut. 

Namun, IRNA tidak merinci isi proposal terbaru tersebut, termasuk terkait Selat Hormuz maupun program nuklir Iran. 

Trump menyatakan blokade terhadap pelabuhan Iran telah mengurangi pendapatan minyak negara tersebut. 

Ia meyakini tekanan ekonomi ini akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan. 

Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai blokade tidak akan efektif. 

Ia bahkan menyindir bahwa negara sebesar Iran sulit untuk diblokade sepenuhnya. 

Pemerintah Iran juga menegaskan, blokade harus dihentikan sebagai syarat dimulainya kembali perundingan dan pembukaan Selat Hormuz.

Mereka memperingatkan, pembatasan tersebut justru berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. 

Baca juga: AS Disebut Siapkan Opsi Serangan Udara atau Operasi Pasukan Khusus, Iran Aktifkan Pertahanan Udara

Sementara itu, Trump disebut telah menerima pengarahan dari pejabat militer tinggi AS, termasuk pimpinan Komando Pusat AS (Centcom) dan Ketua Kepala Staf Gabungan. 

Laporan Axios menyebut militer AS telah menyiapkan opsi serangan terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi. 

AS juga mengusulkan pembentukan koalisi maritim bersama sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz melalui inisiatif bernama “Maritime Freedom Construct”. 

Namun, Selandia Baru menyatakan dukungan hanya akan diberikan jika gencatan senjata berkelanjutan tercapai. 

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan sikap tegas dengan menolak menghentikan pengembangan teknologi nuklir dan rudal. 

Ia juga menegaskan Iran akan tetap mengendalikan Selat Hormuz. 

Di lapangan, Iran dilaporkan mengaktifkan sistem pertahanan udara di sekitar Teheran untuk menghadapi potensi ancaman drone pengintai, meski penyebabnya belum jelas. 

Di Washington, perdebatan muncul terkait biaya perang. Sejumlah legislator dari Partai Demokrat menilai estimasi biaya sebesar 25 miliar dollar AS terlalu rendah dan tidak mencerminkan total beban konflik.

Di sisi lain, Trump mengundang calon perdana menteri Irak, Ali al-Zaidi, ke Washington sebagai bagian dari upaya membatasi pengaruh Iran di kawasan tersebut. 

Dalam beberapa hari terakhir, tekanan terhadap ekonomi Iran mulai terlihat, termasuk pelemahan nilai mata uang yang mencapai titik terendah baru. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved