Perang AS dan Israel vs Iran

AS Disebut Siapkan Opsi Serangan Udara atau Operasi Pasukan Khusus, Iran Aktifkan Pertahanan Udara

Presiden AS Donald Trump menerima briefing penting dari petinggi militer terkait opsi aksi terhadap Iran

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/X
Puing pesawat angkut C130 Hercules yang hancur di wilayah Iran dalam operasi penyelamatan pilot AS yang pesawatnya ditembak jatuh. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menerima briefing penting dari petinggi militer terkait opsi aksi terhadap Iran pada Kamis (30/4/2026).  

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima briefing penting dari petinggi militer terkait opsi aksi terhadap Iran pada Kamis (30/4/2026). 

Menurut laporan Reuters, briefing kepada Trump dipimpin oleh Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Bradley Cooper, serta dihadiri Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. 

Fokus utama pembahasan adalah langkah-langkah untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. 

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa berbagai opsi yang dibahas bertujuan memaksa Iran untuk merundingkan akhir konflik. 

Namun demikian, opsi-opsi tersebut bukan hal baru dan telah lama menjadi bagian dari perencanaan militer AS. 

Dilansir The Times of Israel, CENTCOM telah menyusun rencana serangan berupa gelombang serangan “singkat dan kuat” terhadap target-target di Iran. 

Tiga sumber menyebutkan bahwa infrastruktur juga masuk dalam daftar sasaran, langkah yang sebelumnya pernah menjadi ancaman Trump.

Serangan tersebut bertujuan menekan Iran agar melunak dalam negosiasi nuklir. Namun, para ahli menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil berpotensi melanggar hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa 1949. 

Selain serangan udara, opsi lain yang dibahas adalah operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. 

Adapun sebagian besar material uranium diyakini berada di kompleks nuklir Isfahan. Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, memperkirakan stok uranium Iran cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir. 

Iran disebut memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, tingkat yang mendekati bahan senjata. 

AS juga kemungkinan akan mengerahkan rudal hipersonik “Dark Eagle”, yang memiliki jangkauan lebih dari 1.725 mil dan melaju lima kali kecepatan suara. 

Jika disetujui, ini akan menjadi penggunaan pertama senjata tersebut oleh AS.

Iran Aktifkan Pertahanan Udara

Iran juga dilaporkan mulai bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru. 

Aktivitas pertahanan udara terdengar di beberapa wilayah ibu kota Teheran pada Kamis malam, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Mehr. 

Kantor berita Tasnim melaporkan, sistem pertahanan udara Iran sedang mencegat drone kecil dan kendaraan udara pengintai tak berawak. 

Seorang pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa setiap serangan baru AS terhadap Iran, meski terbatas, akan memicu serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi regional Washington. 

Media Iran, dengan mengutip komandan angkatan udara Majid Mousavi, melaporkan peringatan keras terhadap keberadaan militer AS di kawasan. 

“Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda,” kata Mousavi. 

Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei juga menyampaikan pesan tertulis kepada rakyat Iran. 

Ia mengatakan bahwa “penyalahgunaan jalur air oleh musuh” akan dihilangkan di bawah pengelolaan baru terhadap selat tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Teheran berniat mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz. 

“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya tidak punya tempat di sana kecuali di dasar perairannya,” kata Khamenei. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Tribunnews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved