Berita Viral

PENGAKUAN Sopir Taksi Penyebab Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi: Mobil Mendadak Berhenti di Rel

Kasus kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur disebabkan karena ada taksi hijau yang terhenti di lintasan rel. 

TRIBUN MEDAN
Sopir taksi hijau itu sempat muncul dalam rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial.  Juga beredar foto sang sopir yang tengah jongkok menggunakan seragam hijau sedang menelepon sembari memegang rokok.  

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur disebabkan karena ada taksi hijau yang terhenti di lintasan rel. 

Taksi hijau yang terhenti di rel membuat KRL tertahan sebelum ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di jalur yang sama. 

Insiden kecelakaan ini mengakibatkan 15 perempuan meninggal dunia, Senin (27/4/2026).  

Sopir taksi hijau itu sempat muncul dalam rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial. 

Juga beredar foto sang sopir yang tengah jongkok menggunakan seragam hijau sedang menelepon sembari memegang rokok. 

Dalam rekaman video sopir taksi sempat terlihat berada di luar kendaraannya tak lama setelah insiden terjadi.

Sang sopir tampak dalam kondisi syok.

Ia dikelilingi warga yang berusaha menenangkan situasi di tengah kepanikan.

Warga sempat menggiring sopir tersebut agak mmenjauh dari lokasi kejadian.

Dalam kondisi masih terguncang, sang sopir terlihat kembali mendekati mobilnya yang berada di sekitar rel kereta.

Baca juga: Sosok Anggota DPRD Merokok Saat Rapat di Ruang Ber-AC dari Fraksi PDIP, Videonya Viral

Baca juga: SATRESKRIM POLRESTABES MEDAN Lumpuhkan Dua Residivis Curanmor❗

Dalam video itu, sang sopir memberikan penjelasan singkat mengenai kejadian yang dialaminya.

Diduga ia memberikan penjelasan kepada polisi.

Ia mengaku mobil yang dikemudikannya tiba-tiba tidak bisa bergerak saat berada tepat di jalur rel.

Menurutnya ada sistem di mobil yang membuat mesin tidak berfungsi ketika berada di tengah rel kereta.

"Ada steering. Nah ini ngunci langsung, jadi kita mau jalanin gak bisa. Karena tadi pas posisi udah kelewat langsung mati sendiri," katanya.

Di satu sisi, manajemen taksi hijau Green SM Indonesia buka suara melalui Instagramnya pada Selasa (28/4/2026). 

Green SM mengakui bahwa armadanya yang memang sempat mati di jalur perlintasan rel sebelum kecelakaan terjadi.

Green SM mengaku telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang, terkait peristiwa ini.

Hal itu menjadi bentuk dukungan penuh dari Green SM untuk investigasi mengenai penyebab kecelakaan.

Manajemen Green SM juga memberikan perhatian penuh terhadap insiden yang melibatkan salah satu taksinya. 

Pihak Green SM menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi.

"Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan," tulis manajemen, Selasa (28/4/2026) dini hari.

15 Perempuan Meninggal Dunia

Jumlah korban jiwa dalam kecelakaan maut di antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur telah mencapai 15 orang. 

Semua korban merupakan perempuan.  

Jumlah akhir korban jiwa ini disampaikan oleh CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani.

Tercatat sebanyak 88 orang sempat mendapatkan perawatan medis intensif, di mana 28 di antaranya telah diperbolehkan pulang.

"Ya, korban yang dimasukkan ke rumah sakit itu ada 88 orang, di mana 28 orang sudah diperbolehkan keluar," ujar Rosan saat meninjau bangsal perawatan korban luka di RSUD Bekasi.

Atensi Khusus Presiden Prabowo Subianto

Kehadiran Rosan merupakan bagian dari langkah cepat pemerintah setelah sebelumnya Presiden Prabowo Subianto juga turun langsung menjenguk para korban di lokasi yang sama.

Presiden menegaskan bahwa investigasi menyeluruh akan segera dilakukan untuk membongkar penyebab pasti kecelakaan ini.

Dalam keterangannya, Presiden Prabowo menyoroti banyaknya lintasan kereta api yang tidak terjaga sebagai salah satu faktor risiko utama.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah akan merespons pengajuan Pemerintah Daerah (Pemda) Bekasi untuk membangun flyover guna meminimalisir interaksi kendaraan dengan jalur kereta di area yang padat penduduk.

Sinyal Perombakan Standar Keamanan KAI

Rosan Roeslani memastikan bahwa pemerintah akan mengevaluasi PT KAI secara total agar peristiwa memilukan ini tidak kembali terulang.

Mengingat kereta api adalah tulang punggung mobilitas masyarakat, standar keamanan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

"Ini adalah langkah cepat dari Bapak Presiden untuk memastikan kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi. Evaluasi terhadap PT KAI akan dilaksanakan sesegera mungkin," tegas Rosan.

Langkah investigasi ini diharapkan dapat memberikan keadilan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan, sekaligus memperbaiki sistem transportasi massal di Indonesia yang tengah menjadi sorotan tajam publik.

Penjelasan Basarnas 

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii, memastikan seluruh korban telah berhasil dievakuasi dan tidak ada lagi penumpang yang terjebak di dalam rangkaian kereta.

Di lokasi kejadian, Syafii menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan secara hati-hati dengan mengutamakan keselamatan korban.

Tim SAR tidak serta-merta menarik lokomotif yang mengalami benturan, lantaran pada saat bersamaan masih terdapat korban yang terjepit di dalam gerbong. 

Keputusan tersebut diambil untuk mencegah risiko yang lebih besar terhadap korban.

“Pada saat itu masih ada lima korban yang terjepit. Kami melakukan proses ekstrikasi secara bertahap agar mereka dapat diselamatkan tanpa memperparah kondisi,” ujarnya.

Pendekatan ini membuat proses evakuasi berlangsung intensif, dengan melibatkan berbagai unsur penyelamat yang bekerja secara terpadu di lapangan.

Hasilnya, seluruh korban berhasil dikeluarkan dari badan kereta dalam kurun waktu yang relatif singkat untuk operasi dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Berdasarkan data terbaru dari PT Kereta Api Indonesia hingga pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 14 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan.

Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan dirujuk ke sejumlah rumah sakit di sekitar lokasi kejadian.

Dalam keterangannya, Syafii juga mengungkapkan fakta mencolok dari proses evakuasi tersebut.

Ia menyebutkan bahwa seluruh korban yang dievakuasi oleh tim SAR merupakan perempuan. Meski demikian, pihak berwenang belum merinci lebih lanjut mengenai identitas maupun latar belakang para korban.

Dengan berakhirnya operasi SAR, fokus penanganan kini beralih pada pemulihan korban serta penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

Otoritas terkait diharapkan dapat segera memberikan penjelasan komprehensif guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya sistem keselamatan transportasi rel yang andal, terutama di jalur-jalur padat seperti wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, jaminan keamanan menjadi aspek yang tak bisa ditawar.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di wartakota

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved