Berita Viral

AWAL Mula Siswa SMAN 1 Purwakarta Ejek Guru, Bu Atun Pilih Maafkan Muridnya, Sifat Aslinya Terkuak

Purwanto menegaskan, tindakan tersebut dilakukan secara sengaja meski diduga berawal dari rasa kesal karena perubahan giliran presentasi.

IST
SISWA HINA GURU: Aksi pelecehan terhadap guru oleh sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas. Kini 9 siswa itupun diskors dan terancam sanksi sosial 

TRIBUN-MEDAN.com - Beginilah awal mula siswa SMAN 1 Purwakarta ejek gurunya.

Sang guru yang akrab disapa Bu Atun kini memilih maafkan muridnya.

Sembilan siswa kelas XI IPS SMAN 1 Purwakarta yang hina guru dengan mengacungkan jari tengah dari belakang kini diskors dan terancam sanksi sosial.

Baca juga: Motor Dahlia br Siregar, Tamu Halalbihalal di Medan Area Raib Digondol Maling dalam Waktu 23 Menit

Video pelecehan yang dilakukan oleh sejumlah siswa ini viral dan diketahui terjadi pada Kamis (16/4/2026), setelah kegiatan pembelajaran selesai di kelas. 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto, mendatangi langsung SMAN 1 Purwakarta, sekolah yang diduga menjadi lokasi perundungan terhadap guru oleh siswa

Purwanto mengatakan, peristiwa yang viral di media sosial itu dipicu dinamika saat pembelajaran berlangsung, namun tindakan para siswa dilakukan secara sengaja.

Baca juga: Geruduk Kantor DPRD Langkat soal Penyaluran Bantuan Banjir, Aliansi Masyarakat: Gak Ada Hasilnya

Purwanto menjelaskan, kejadian bermula saat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang diampu oleh guru bernama Syamsiah atau dikenal dengan Bu Atun.

Saat itu, kata Purwanto, siswa tengah mengerjakan tugas kelompok bertema keberagaman, mulai dari membuat makanan hingga menampilkan seni daerah.

Awalnya, pembagian kelompok telah ditentukan. Namun menjelang presentasi, terjadi perubahan urutan kelompok. Sembilan siswa yang semula mendapat giliran kedua harus bergeser ke sesi terakhir.

"Kelompok ini akhirnya tampil di giliran terakhir. Selama pembelajaran berlangsung, mereka tetap terlihat biasa saja, bahkan sempat berfoto bersama guru," ujar Purwanto usai menjadi pembina upacara di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

SISWA LECEHKAN GURU - Aksi pelecehan terhadap guru oleh sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta (kiri) dan Dedi Mulyadi (kanan). Aksi itu terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas
SISWA LECEHKAN GURU - Aksi pelecehan terhadap guru oleh sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta (kiri) dan Dedi Mulyadi (kanan). Aksi itu terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas (IST/Tribun Jabar/Eki Yulianto/Tangkapan Layar)

Namun, lanjut dia, setelah guru meninggalkan kelas, para siswa tersebut justru melakukan aksi tidak pantas dengan mengacungkan jari tengah dan perilaku melecehkan lainnya, yang kemudian direkam dan viral di media sosial.

Purwanto menegaskan, tindakan tersebut dilakukan secara sengaja meski diduga berawal dari rasa kesal karena perubahan giliran presentasi.

"Tindakan itu jelas disengaja, meskipun mungkin dipicu kekecewaan. Tapi ini tetap tidak bisa dibenarkan," ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, ia mengatakan, Disdik Jawa Barat memastikan para siswa tidak dikeluarkan dari sekolah. Mereka akan menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan, termasuk kegiatan sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Baca juga: Bupati Toba Effendi Napitupulu Bicarakan Wisata Rohani di Toba pada Menpar RI Widiyanti

Selain itu, ia menyebutkan, para siswa akan mendapatkan pendampingan psikolog, pengawasan guru wali setiap hari, serta evaluasi rutin bersama orang tua setiap minggu.

"Hak pendidikan mereka tetap dipenuhi, tapi harus dibarengi pembinaan agar perilakunya berubah," ucap Purwanto.

Purwanto juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk perilaku siswa saat ini. Ia menilai, perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi sekolah, tetapi juga lingkungan, orang tua, dan teknologi.

Baca juga: Penyebab Nus Kei Ditikam, Terungkap Dendam 2 Orang yang Diamankan, Penjelasan Polda Maluku

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Jabar telah menginstruksikan agar siswa tidak memegang ponsel saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

"Kalau tidak diawasi, anak bisa saja bermain media sosial saat guru mengajar, bahkan bisa live. Ini yang harus dicegah," katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya aturan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, yang seharusnya dibatasi.

Kasus ini disebut menjadi refleksi bersama bagi dunia pendidikan. Purwanto menekankan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan seluruh elemen masyarakat.

"Sebagus apa pun konsepnya, kalau tidak ada konsistensi dari semua pihak, tidak akan berjalan," ujarnya.

Ke depan, Disdik Jabar akan memperketat pengawasan serta memastikan seluruh sekolah menerapkan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah, khususnya terkait penggunaan gawai dan penguatan pendidikan karakter.

Beri Maaf

Syamsiah atau Bu Atun mengaku telah memaafkan para siswa yang terlibat dalam video yang viral tersebut.

Bukan hanya memaafkan, Syamsiah juga mendoakan mereka agar bisa menyadari kesalahan serta menjadi pribadi yang berakhlak baik.

"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya," katanya.

Baca juga: Bupati Toba Effendi Napitupulu Bicarakan Wisata Rohani di Toba pada Menpar RI Widiyanti

"Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," tutur Syamsiah.

Syamsiah juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki sedikit pun niat untuk melaporkan siswa-siswanya.


Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved