Berita Viral
Anaknya Lecehkan Guru, Orang Tua Siswa SMA 1 Purwakarta Nangis Sesali Tindakan Pelaku
Tanggapan emosional muncul dari para orang tua siswa yang terlibat. Mereka mengaku terpukul dan menyesal atas perilaku anak-anaknya.
TRIBUN-MEDAN.com - Anaknya lecehkan guru, orang tua siswa SMAn 1 Purwakarta nangis.
Mereka terpukul sekaligus menyesal dengan perlakuan anak-anaknya.
Baru-baru ini viral aksi siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta di media sosial.
Baca juga: HUSAIN ABDULLAH Sebut JK Sudah Lama Menahan Buka Fakta di Balik Karier Jokowi: Sejarah Politik
Mereka mengejek dan mengacungkan jari tengah ke guru.
Usai viral, pelaku yang berjumlah 9 orang itu pun langsung mendapat sanksi.
Orang tua mereka pun dipanggil dan menanggapi aksi anak-anaknya.
Baca juga: HUT ke-155 Kota Siantar, Jalan Merdeka dan Jalan Sutomo Ditutup Total Pukul 14.00 hingga 18.00 WIB
Tanggapan emosional muncul dari para orang tua siswa yang terlibat. Mereka mengaku terpukul dan menyesal atas perilaku anak-anaknya.
“Orangtuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya,” kata Dedi Mulyadi.
Dalam video berdurasi 31 detik yang beredar luas, tampak sekelompok siswa berseragam mengejek guru di depan kelas.
Salah satu adegan yang paling menyita perhatian publik adalah aksi seorang siswi di bagian belakang kelas yang mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.
Berdasarkan informasi yang diterima, pihak sekolah telah memanggil orang tua siswa yang terlibat.
Sebagai langkah awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada para siswa tersebut. Namun, kebijakan ini dinilai belum cukup menyentuh aspek pembinaan karakter.
Alih-alih hanya memberikan skorsing, Dedi Mulyadi mengusulkan pendekatan yang lebih edukatif. Ia menyarankan agar hukuman diganti dengan kegiatan yang memiliki nilai pembelajaran, seperti membersihkan lingkungan sekolah.
“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari… tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet,” ucapnya.
Baca juga: 9 Siswa Acungkan Jari Tengah ke Guru di SMAN 1 Purwakarta Kini Diskors 19 Hari
Menurutnya, hukuman semacam ini tidak hanya memberi efek jera, tetapi juga membentuk rasa tanggung jawab dan kedisiplinan siswa secara langsung.
Durasi hukuman pun dapat disesuaikan, berkisar antara satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap yang ditunjukkan.
Fokus pada Pembentukan Karakter
Dedi menegaskan bahwa esensi dari sebuah hukuman bukan sekadar memberi sanksi, melainkan membangun karakter. Ia mengingatkan bahwa para siswa tetaplah anak-anak yang membutuhkan bimbingan, baik dari orang tua maupun guru.
“Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter.
Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan oleh gurunya,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan nilai.
Di tengah era digital yang serba terbuka, pengawasan dan pembinaan karakter menjadi semakin penting agar ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan penuh rasa hormat.
Kronologi Kejadian di Dalam Kelas
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan siswa kelas XI IPS. Peristiwa terjadi pada Kamis (16/4/2026), tepat setelah kegiatan belajar mengajar terkait pengolahan makanan selesai.
Guru yang menjadi sasaran diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan, bahkan ada yang melakukan tindakan provokatif seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.
“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto.
Hingga kini, motif di balik tindakan para siswa masih dalam proses pendalaman oleh pihak sekolah dan dinas terkait.
Evaluasi Sistem dan Pengaruh Lingkungan Digital
Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.
Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan.
Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar.
Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SISWA-HINA-GURU-Aksi-pelecehan-terhadap-guru-oleh-sembilan-siswa-SMAN-1-Purwakarta.jpg)