Berita Internasional

Donald Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata AS dan Iran Berakhir?

Menurut laporan Washington Post, sekitar 6.000 pasukan tambahan AS di atas kapal USS George HW Bush dan 4.200 anggota Boxer

TRIBUN MEDAN/X/U.S. Central Command
PERANG MAKIN PANAS - Ilustrasi, Kapal serbu amfibi USS Tripoli, telah tiba di kawasan Timur Tengah, pada Jumat (27/3/2026). Perang di Timur Tengah semakin panas setelah ribuan pasukan Amerika Serikat (AS), dikabarkan sudah mendekat ke wilayah Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Perang di Timur Tengah semakin panas setelah ribuan pasukan Amerika Serikat (AS), dikabarkan sudah mendekat ke wilayah Iran.

Presiden AS, Donald Trump, diketahui mengirimkan ribuan pasukan tambahan.

Kedatangan pasukan tambahan AS disinyalir sebagai sinyal untuk terus menekan Iran.

Padahal, belum lama Trump mengklaim perang sudah berada di titik akhir. 

Menurut laporan Washington Post, sekitar 6.000 pasukan tambahan AS di atas kapal USS George HW Bush dan 4.200 anggota Boxer Amphibious Ready Group serta gugus tugas Korps Marinir akan memasuki medan perang pada akhir April.

Jumlah ini masih ditambah sebanyak 1.500 dan 3.000 pasukan terjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Tepat sebelum pengumuman tersebut, dalam sebuah wawancara dengan Kepala Koresponden ABC News di Washington, Jonathan Karl, Trump menyatakan keyakinannya kalau perpanjangan gencatan senjata mungkin tidak diperlukan.

“Presiden Trump mengatakan kepada saya hari ini bahwa dia tidak berpikir untuk memperpanjang gencatan senjata. Dia tidak berpikir itu akan diperlukan,” tulis Karl dalam sebuah unggahan media sosial di X.

Trump berkata, “Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan.”

Trump mengklaim kalau dua pilihan, baik penyelesaian lewat jalur diplomatik ataupun lanjut perang, sama-sama menjadi opsi.

Dia menambahkan, dia berharap Iran akan memilih jalur diplomatik.

"Apa pun yang terjadi, kita telah menyingkirkan kaum radikal. Mereka sudah pergi, tidak lagi bersama kita," kata Trump seperti dikutip oleh Karl dari ABC News.

Menyusul perundingan perdamaian di Islamabad yang berakhir buntu, putaran lain perundingan perdamaian direncanakan akan diadakan menjelang batas waktu 14 hari gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April kemarin. 

Tempat perundingan sedang dipertimbangkan di Islamabad; opsi lain juga sedang dipertimbangkan.

Para analis menduga, tujuan pengerahan lebih banyak pasukan adalah untuk menerapkan blokade Selat Hormuz dan memberikan tekanan pada Iran, serta melancarkan invasi darat jika pembicaraan gagal menghasilkan hasil konkret.

"Blokade diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan daerah pesisir atau pelabuhan di Iran," kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan di media sosial.

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa juga mengatakan kalau 24 jam pertama blokade telah berhasil.

Namun, analis militer memperkirakan kalau kapal perang dan jet AS "menjadi sasaran empuk dalam jangkauan drone dan rudal Iran."

Hari ini, Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, mengatakan bahwa perang di Iran "sangat dekat" dengan berakhir.

Namun, ia kemudian mengubah pernyataannya dan mengatakan bahwa AS selalu dapat berbalik dan melanjutkan operasinya jika diperlukan.

"Jika saya menarik diri sekarang, mereka akan membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara mereka, dan kita belum selesai," kata Trump.

"Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya pikir mereka sangat ingin membuat kesepakatan," katanya.

Ranjau Laut di Selat Hormuz

Satu di antara jalur utama perdagangan dunia, Selat Hormuz kini berubah menjadi medan pertempuran Iran melawan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam beberapa bulan belakangan.

Selat yang dilintasi hampir semua kapal-kapal negara Arab penghasil minyak tersebut kini menjadi 'senjata' oleh Iran untuk merespons serangan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026.

Iran memblokade jalur air tersebut, utamanya bagi mereka yang mereka nilai sebagai bagian dari entitas dan sekutu AS-Israel.

Iran kemudian menjejali jalur laut itu dengan ranjau-ranjau air.

Tidak diketahui pasti jumlahnya, namun diyakini sangat banyak sampai-sampai Iran mampu menyusun 'jalur alternatif' yang dekat dengan daratan mereka agar kontrol terhadap kapal-kapal yang hendak melintas, lebih terjaga ketat.

Iran kemudian memberlakukan tarif melintas, dilaporkan 2 juta dolar AS bagi kapal-kapal yang mau melewati jalur ini.

AS, yang serangan udaranya terbukti belum bisa melemahkan kekuatan militer Teheran, lalu menggunakan selat ini, juga sebagai senjata.

Mereka memberlakukan blokade laut di jalur tersebut bagi kapal dari dan menuju Iran.

Kapal-kapal yang sudah membayar fee ke Iran agar bisa melintas, juga menjadi sasaran razia Angkatan Laut AS. Ancaman mereka, putar haluan atau ditenggelamkan.

Di sisi lain, tekanan dunia agar AS menghentikan serangannya ke Iran direspons dengan janji untuk membebaskan Selat Hormuz, termasuk membersihkan ranjau-ranjau laut di dalamnya.

AS sempat mendesak negara-negara NATO, yang diklaim sebagai sekutunya, untuk membantu.

Hanya beberapa negara yang bersedia, utamanya membersihkan jalur air tersebut dari ranjau air.

Yang lain, bersikap dingin atau bahkan terang-terangan menolak, apalagi kalau harus ikut terjun melakukan serangan ke Iran. Alasannya, "Ini bukan perang kami!".

AS lewat sang presiden, Donald Trump, kemudian merespons dengan berkoar kalau AS mampu menangani sendiri "pembebasan dan pembersihan" Selat Hormuz.

Secara teknis, bagaimana cara Angkatan Laut AS menangkal ranjau laut mematikan?

Angkatan Laut AS, dikutip dari penjelasan WN, lazimnya menangkal ranjau laut menggunakan laser udara, kapal kelas Avenger, dan drone Mk 18 Kingfish.

Mereka juga mengerahkan alat penetralisir ranjau yang diberi nama SeaFox - senilai $100.000 (Rp 1,7 miliar) dan sonar AI.

"Militer AS dengan menggunakan alat-alat ini secara aman menghancurkan bahan peledak bawah air tanpa membahayakan penyelam manusia," kata laporan WN, dikutip, Rabu (15/4/2026).

Ranjau laut biasanya hanya membutuhkan biaya produksi yang relatif murah untuk ukuran kebutuhan perang, sekitar $ 2.000 (Rp 34 juta) per set.

Namun, ranjau ini dapat langsung melumpuhkan kapal perusak rudal berpemandu senilai $ 2 miliar.

"Untuk melindungi jalur perdagangan global, Angkatan Laut AS mengoperasikan skuadron Penanggulangan Ranjau (MCM) khusus yang dilengkapi dengan perangkat deteksi tercanggih di dunia," kata laporan itu.

Prosedur penanganan ranjau laut dimulai dari udara melalui helikopter MH-60S Seahawk.

Pesawat-pesawat ini menggunakan Sistem Deteksi Ranjau Laser Udara (ALMDS), menembakkan sinar laser berdenyut ke laut untuk dengan cepat mengidentifikasi ranjau terapung dan ranjau kontak dekat permukaan.

Untuk memburu ancaman di perairan dalam, militer AS mengandalkan Kendaraan Bawah Air Tanpa Awak (UUV) seperti Mk 18 Mod 2 Kingfish. 

Robot otonom berbentuk torpedo ini memetakan dasar laut menggunakan sonar pemindaian samping canggih, mendeteksi anomali bahan peledak tersembunyi di perairan keruh.

Pemindaian area operasional yang sangat luas menghasilkan sejumlah besar data akustik mentah.

Analis Angkatan Laut menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk memproses citra sonar ini secara instan, dengan cepat membedakan antara puing-puing yang tenggelam-tidak berbahaya dan bahan peledak yang sangat mematikan.

Setelah drone menentukan lokasi target, operator mengerahkan alat penetralisir sekali pakai, SeaFox.

Robot berpemandu serat optik seharga $ 100.000 ini berenang langsung ke ranjau musuh dan meledakkan muatan peledak, menghancurkan dirinya sendiri dan ancaman bawah laut dengan aman.

Untuk operasi pembersihan ranjau skala besar, Angkatan Laut AS mengerahkan kapal penanggulangan ranjau kelas Avenger yang khusus.

Kapal-kapal unik ini dibangun sepenuhnya dari kayu dan fiberglass untuk sepenuhnya menghindari pemicuan ranjau magnetik dan akustik yang sangat sensitif.

Secara historis, pembersihan ranjau laut membutuhkan penyelam penjinak bahan peledak yang terlatih untuk melucuti perangkat secara manual.

Dengan beralih ke kapal selam robot dan penetralisir jarak jauh, militer AS sepenuhnya menghilangkan pelaut manusia dari radius ledakan yang mematikan. 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved