Berita Viral
Tanggapan Kejagung, ABK Asal Belawan Dituntut Hukuman Mati, Hotman Paris Ungkap Sejak Awal Janggal
Ada enam tersangka, termasuk ABK yang bernama Fandi, asal Medan Belawan dituntut hukuman mati
Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Salomo Tarigan
Ringkasan Berita:Respons Kejagung ABK Dituntut Hukuman Mati
- Tuntutan mati terhadap terdakwa termasuk ABK Fandi, menurut Kejagung sudah sesuai
- Kapal Sea Dragon ditangkap BNN dan Bea dan Cukai di perairan Tanjung Karimun.
- Ditemukan barang bukti dua ton sabu senilai Rp 4 triliun.
- Pengacara Hotman Paris minta atensi Prabowo, menurut Hotman tak masuk akal pemilik narkoba dengan nilai Rp 4 triliun percayakan barangnya kepada orang-orang yang baru dikenal.
- Komisi III DPR RI panggil jaksa yang menangani perkara
TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN- Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum Kejagung) Anang Supriatna menanggapi tuntutan mati terhadap Fandi Ramadhan, anak buah kapal (ABK) Sea Dragon yang membawa sabu hampir 2 ton sabu.
Anang menyampaikan, tuntutan yang disampaikan Jaksa sudah sesuai dengan perbuatan yang dilakukan para terdakwa, termasuk Fandi.
"Jadi di situ kelihatan mens rea nya ada, dan mereka memperoleh uang sebelumnya. Sebelum melakukan itu, mendapat uang operasional dari pemilik kapal tanker dan dijanjikan, kemudian apabila sampai di sana dua kali lipat kan. Artinya, mens rea di situ sudah ada," kata Anang di kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Kamis (26/2/2026).
"Nah, sekarang terkait dengan itu, silakan. Tinggal bagaimana pleidoi-nya dari penasihat hukum terhadap tersangka Fandi Ramadhani, meyakini bahwa perbuatan dia seperti apa, bahwa dia hanya dia, silakan aja. Itu pembelaan hak dari terdakwa, tinggal nanti bisakah meyakinkan hakim," lanjut Anang.
Kapal Sea Dragon ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di perairan Tanjung Karimun.
Pada saat itu, petugas kemudian membongkar isi kardus-kardus dan menemukan sabu sekitar dua ton atau nyaris senilai Rp 4 triliun.
Ada enam tersangka, termasuk ABK yang bernama Fandi, asal Medan Belawan.
Mengenai peran Fandi, yang disebut baru beberapa hari bekerja sebagai ABK, Anang membantah.
Anang menjelaskan, Fandi telah bekerja sejak 1 Mei.
"Pertama, penuntut umum sudah melakukan penuntutan sesuai dengan berkas dan fakta-fakta hukum yang ada di pengadilan, bukan bagi opini, tetapi fakta hukum yang ada. Itu.
Yang bersangkutan itu tidak (bekerja selama) tiga hari. Kalau itu seolah (dia) tiga hari tidak kerja. Yang bersangkutan tuh (sudah bekerja) cukup (lama), dari mulai 1 Mei sudah ada di sana, mereka sudah ada di Bangkok, " katanya.
Anang menjelaskan, Fendi telah berada di Bangkong selama 10 hari, dimana awalnya tujuan kapal tersebut untuk membuat bakan bakar.
"Dan mereka bukannya bersandar di pelabuhan, tapi mereka ke tengah (laut) loh. Tidak sebagaimana mestinya, dan mereka mengetahui bahwa ada pengiriman barang dalam bentuk kardus dan itu narkoba jenis sabu, narkoba hampir 2 ton," kata Anang.
"Dan mereka mengerti, kenapa mereka mengerti? Buktinya transaksinya ada di tengah laut, menyadari. Yang keduanya juga, ketika barang itu datang, ini berdasarkan fakta sidang, menurut penuntutnya, barang-barang itu disembunyikan, ada yang di haluan, ada yang di dalam tangki minyak yang kosong," katanya.
