Berita Medan
Sumut International Ethnic Fashion Festival 2026 Wadahi 24 Desainer dalam Pelestarian Budaya
Kegiatan juga menghadirkan desainer dari berbagai daerah Indonesia hingga mancanegara.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Penyelenggaraan Sumatera Utara International Ethnic Fashion Festival (SUIEFF) 2026 menjadi ajang yang tidak hanya menampilkan karya busana, tetapi juga mendorong pelestarian budaya melalui industri kreatif di Medan
Kegiatan juga menghadirkan desainer dari berbagai daerah Indonesia hingga mancanegara.
Penyelenggara SUIEFF, Santi Sinaga, mengatakan festival tersebut bertujuan menjadi wadah promosi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan etnik Sumatera Utara dan berbagai daerah lain kepada masyarakat yang lebih luas.
“Tujuan utama kegiatan ini sebagai wadah promosi budaya, memperkenalkan kekayaan etnik Sumatera Utara dan daerah lain, sekaligus mendorong perkembangan ekonomi kreatif serta industri fashion berbasis budaya. Kami juga ingin mendukung desainer muda dan model-model muda,” ujarnya.
Mengusung tema “Etnik Internasional”, penyelenggaraan tahun ini disebut lebih luas dibanding tahun sebelumnya. Keterlibatan peserta tidak lagi terbatas dari Sumatera Utara, tetapi juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara lain seperti Malaysia dan Filipina.
Santi menyebut skala kolaborasi pada SUIEFF 2026 meningkat menjadi lebih internasional. Hal itu terlihat dari tingginya minat peserta yang mendaftar. Awalnya penyelenggara menargetkan sekitar 20 desainer, namun hingga pelaksanaan kegiatan jumlah peserta yang bergabung mencapai 24 desainer.
Menurutnya, fashion etnik memiliki peran penting karena tidak hanya berkaitan dengan busana semata, melainkan menjadi sarana pelestarian identitas budaya dan memperkenalkan warisan lokal kepada generasi muda.
“Fashion etnik bukan hanya soal pakaian, tetapi juga media memperkenalkan budaya dan identitas daerah,” katanya.
Ia menjelaskan sejumlah karya yang ditampilkan mengangkat berbagai unsur budaya seperti motif khas Melayu, batik hingga ulos yang dipadukan dengan konsep busana etnik modern.
Dalam proses pemilihan peserta, penyelenggara menilai beberapa aspek seperti kreativitas, orisinalitas desain, kemampuan mengangkat unsur budaya, inovasi perpaduan konsep tradisional dan modern, serta kualitas pengerjaan busana.
Selain menampilkan karya desainer, pada pelaksanaan tahun ini tidak terdapat kompetisi khusus bagi desainer. Penilaian lebih difokuskan pada pemilihan ikon atau icon kegiatan.
Santi menilai industri fashion etnik di Sumatera Utara memiliki peluang ekonomi yang cukup besar karena berkaitan erat dengan UMKM, pariwisata, kain tradisional seperti ulos hingga pasar fashion budaya yang terus berkembang.
Meski demikian, ia mengakui terdapat tantangan dalam pengembangannya, terutama menjaga keaslian nilai budaya di tengah tren global yang terus berubah.
“Tantangan terbesar saat ini menjaga nilai budaya tetap asli sambil mengikuti perkembangan tren. Jangan sampai komersialisasi berlebihan membuat makna budaya itu hilang,” ungkapnya.
Ke depan, penyelenggara berharap industri fashion etnik di Sumatera Utara dapat berkembang menjadi sektor ekonomi kreatif yang kuat, membuka peluang usaha baru dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
(cr26/tribun-medan.com)
| Paul Simanjuntak Minta Satpol PP Sikat Semua Billboard Bermasalah di Medan: Jangan Tebang Pilih |
|
|---|
| Sat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan Tangkap Pengedar Sabu di Marelan Raya Pasar V |
|
|---|
| Pesanan Toyota Veloz Hybrid di Sumut Tembus 1.000 Unit |
|
|---|
| Viral Sepasang Muda-Mudi Isap Pod Getar, Kasat Narkoba Polrestabes Medan: Masih Kita Deteksi |
|
|---|
| Refleksi Hari Buruh, Mahasiswa UNIMED Bahas Masa Depan Dunia Kerja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/BUSANA-ETNIK-MODERN-Seorang-desainer.jpg)