Keterbatasan Faskes Jadi Tantangan di Pulau Nias, FK USU Perkuat Layanan Kesehatan
Namun pelayanan tersebut hanya ditopang dua dokter spesialis, salah satunya mendekati masa pensiun.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tiga bulan bertugas di Pulau Nias mengubah pandangan sejumlah dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU).
Kekhawatiran awal mengenai sulitnya bertugas di daerah kepulauan justru berganti menjadi pengalaman berharga yang memperlihatkan tantangan nyata pelayanan kesehatan di wilayah terluar Sumatera Utara.
Selama Maret hingga Mei 2026, dokter-dokter residen FK USU ditempatkan di RSUD dr M Thomsen Gunungsitoli dan RSUD Tafaeri Kabupaten Nias Utara untuk memperkuat layanan kesehatan spesialis sekaligus menjalani pendidikan klinis.
Salah seorang peserta PPDS FK USU, dr Trinidia Lubis, M Ked (OG), mengatakan, tantangan terbesar yang mereka hadapi bukan semata banyaknya pasien, melainkan keterbatasan fasilitas penunjang yang masih dimiliki rumah sakit di Pulau Nias.
“Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan ternyata tidak demikian. Memang ada kendala komunikasi karena sebagian pasien lansia hanya menggunakan bahasa Nias, tetapi itu bisa diatasi dengan bantuan perawat dan keluarga pasien,” katanya.
Baca juga: PERMAMPU Luncurkan Buku Pegangan Orangtua untuk Pendidikan Kesehatan Seks dan Reproduksi di Keluarga
Menurut Trinidia, di RSUD dr M Thomsen Gunungsitoli, layanan obstetri dan ginekologi menangani sekitar 35 operasi sesar dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi setiap bulan. Namun pelayanan tersebut hanya ditopang dua dokter spesialis, salah satunya mendekati masa pensiun.
Di sisi lain, layanan penunjang seperti bank darah masih menjadi persoalan serius.
“Operasi obstetri sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 WIB bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja,” ujarnya.
Kondisi di RSUD Tafaeri Nias Utara bahkan lebih menantang karena belum memiliki bank darah. Akibatnya, banyak pasien harus dirujuk ke Gunungsitoli untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Selain keterbatasan fasilitas, FK USU juga menemukan masih kuatnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap dukun beranak.
Trinidia menceritakan pengalaman yang paling membekas ketika menangani seorang ibu yang mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan.
Pasien baru dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 01.00 WIB setelah sebelumnya melahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak.
Saat tiba di rumah sakit, kondisi pasien sudah mengalami syok berat akibat kehilangan banyak darah.
Tim medis telah melakukan berbagai tindakan penyelamatan. Namun karena bank darah sudah tutup sejak pukul 22.00 WIB, pasien tidak memperoleh transfusi darah yang dibutuhkan.
“Bukan karena kami tidak melakukan tindakan. Tetapi pada kondisi seperti itu pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya. Darah harus diganti dengan darah,” katanya.
| Melalui Program Pengabdian Masyarakat, 54 Nakes Ruang Intensif RS CPL Ikuti Pemeriksaan MRSA |
|
|---|
| Layanan Stroke RS Adam Malik Diakui Internasional, Bentuk Komitmen Layanan Kesehatan |
|
|---|
| Profil Muara Panusunan Lubis, Dekan Fakultas Kedokteran USU Ahli di Bidang Kesehatan Wanita |
|
|---|
| Usai Dilantik Jadi Dekan FK USU, Muara Panusunan Lakukan Koordinasi Internal Satukan Visi Misi |
|
|---|
| Pentingnya Komunikasi Efektif Dokter dan Pasien, Tingkatkan Kepatuhan Pasien terhadap Terapi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/LAYANAN-KESEHATAN-Petugas-kesehatan-Fakultas-Kedokteran.jpg)