Dibanderol Rp 40 Ribu Per Batang, Lomang Bambu Srikaya di Medan Tetap Diburu
Yang membuat lemang di tempat ini berbeda adalah tambahan selai srikaya yang diproduksi sendiri.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Memasuki Ramadan 1447 H/2026, Lomang atau Lemang Bambu Srikaya kembali menjadi primadona masyarakat Kota Medan. Aroma khas bakaran bambu dan daun pisang muda yang berpadu dengan gurihnya ketan serta manisnya srikaya, selalu menggoda selera warga saat waktu berbuka puasa tiba.
Di Jalan Flamboyan Raya, Medan, usaha UD Lomang Panas Jaya milik Nursalim Lubis tampak sibuk sejak pagi hari. Asap dari pembakaran bambu mengepul, sementara para pekerja bergantian memutar lemang agar matang merata.
Nursalim mengatakan, pada Ramadan 2026 ini, penjualan masih stabil dengan rata-rata produksi 150 hingga 200 batang lemang per hari. Harga per batang tetap Rp 40.000.
“Selama puasa ini rata-rata 150 sampai 200 batang per hari. Harganya masih Rp 40 ribu per batang,” ujar Nursalim kepada Tribun Medan, Jumat (27/2/2026).
Ia menyebutkan, jumlah produksi akan melonjak drastis saat mendekati Hari Raya Idulfitri. Bahkan, dalam momen Lebaran, penjualan bisa menembus hingga 1.500 batang.
“Kalau Lebaran bisa sampai 1.500 batang. Itu biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari,” katanya.
Baca juga: Lomang Medan, Kuliner Favorit Saat Buka Puasa dan Oleh-Oleh Khas Medan yang Melegenda
Untuk memenuhi permintaan, Nursalim dibantu 10 orang pekerja. Dalam sehari, proses pembakaran dilakukan dua kali. Khusus hari Minggu atau saat permintaan meningkat, pembakaran bisa dilakukan hingga tiga kali.
“Kita bakar dua kali sehari. Kalau hari Minggu atau lagi ramai, bisa tiga kali pembakaran,” jelasnya.
Yang membuat lemang di tempat ini berbeda adalah tambahan selai srikaya yang diproduksi sendiri. Proses pembuatannya tetap mempertahankan resep lama sejak usaha ini dirintis pada 2007.
“Srikaya kami buat sendiri. Dari dulu rasanya tidak berubah. Banyak pelanggan lama yang bilang rasanya masih sama seperti dulu,” ujar Nursalim.
Konsistensi rasa inilah yang membuat pelanggan setia terus kembali, bahkan ada yang datang dari luar kota untuk membeli sebagai oleh-oleh khas Medan. Lemang yang dijual lengkap dengan bambunya dinilai praktis untuk dibawa bepergian.
“Kebanyakan pembeli dari luar kota. Mereka beli pagi-pagi untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” tambahnya.
Bagi masyarakat Mandailing, lomang bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari tradisi yang tak terpisahkan, terutama saat Lebaran.
“Bagi orang Mandailing, kalau tidak ada lomang, rasanya bukan Lebaran. Dari situlah awalnya kami mulai jualan, dulu cuma kecil-kecilan,” kenang Nursalim.
Usaha yang telah berjalan hampir dua dekade ini tetap mempertahankan proses tradisional. Bambu diisi beras ketan dan santan, dilapisi daun pisang muda, lalu dibakar hingga matang perlahan. Teknik ini menghasilkan tekstur lembut dengan aroma khas yang sulit ditiru metode modern.
Dengan produksi ratusan batang per hari selama Ramadan dan lonjakan hingga ribuan batang saat Lebaran, Lomang Bambu Srikaya tetap menjadi salah satu kuliner khas Medan yang selalu dinanti setiap tahunnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pekerja-membakar-lemang-bambu-srikaya-di-Jalan-Flamboyan-Raya-Medan-Jumat.jpg)