Berita Internasional

Hamil 3 Bulan, Wanita Ini Pilih Gugurkan Kandungan setelah Dimarahi Suami karena Beli Buah

Seorang wanita menjadi sorotan publik setelah memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya yang baru memasuki usia tiga bulan.

Tayang: | Diperbarui:
SANOOK
GUGURKAN KANDUNGAN - Istri gugurkan kandungan setelah disebut boros oleh suami karena beli buah. Tak hanya itu, wanita tersebut juga sempat didorong sang suami. 

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita menjadi sorotan publik setelah memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya yang baru memasuki usia tiga bulan.

Keputusan tersebut diambil setelah ia mengalami perlakuan kasar dari suaminya, yang dipicu oleh persoalan sepele, yakni membeli buah untuk meredakan mual kehamilan.

Dikutip dari Sanook.com, Senin (4/5/2026), wanita bermarga Gu tersebut tengah mengalami gejala mual kehamilan yang cukup parah hingga membuatnya sulit mengonsumsi makanan.

Dalam kondisi tersebut, ia menggunakan tabungan pribadinya yang dikumpulkan sebelum menikah untuk membeli beberapa jenis buah, seperti stroberi dan nanas, serta sedikit makanan ringan.

Total pengeluaran yang ia gunakan untuk keperluan tersebut sekitar 200 yuan atau setara Rp500 ribu.

Namun, tindakan tersebut justru memicu kemarahan sang suami. Alih-alih menunjukkan kepedulian terhadap kondisi kesehatan istrinya, pria tersebut malah menuduh Gu bersikap boros.

Ia beralasan bahwa keluarga mereka masih memiliki beban finansial berupa cicilan rumah dan kendaraan, sehingga pengeluaran harus ditekan.

Dalam perselisihan itu, suami Gu bahkan memaksanya untuk hanya membeli buah dengan harga murah.

Ia juga melontarkan perhitungan yang dinilai tidak masuk akal, dengan menyebut bahwa jika kebiasaan membeli buah seperti itu terus dilakukan, pengeluaran bulanan untuk buah dapat mencapai 6.000 yuan atau sekitar Rp15 juta.

Tidak berhenti pada ucapan, konflik tersebut juga berujung pada tindakan kekerasan fisik. Sang suami dilaporkan mendorong Gu yang sedang dalam kondisi hamil.

Setelah kejadian itu, ia tidak menunjukkan penyesalan maupun upaya untuk meminta maaf, melainkan memilih bersikap diam.

Situasi tersebut menjadi titik balik bagi Gu. Setelah melalui pertimbangan selama beberapa hari, ia menilai bahwa lingkungan rumah tangganya tidak memberikan rasa aman, kasih sayang, maupun penghargaan yang layak.

Ia pun berkesimpulan bahwa jika kehamilan tersebut dilanjutkan, anak yang dilahirkan berpotensi tumbuh dalam kondisi yang tidak sehat secara emosional.

Akhirnya, pada usia kehamilan 12 minggu, Gu memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya di rumah sakit. Ia didampingi oleh anggota keluarganya dalam proses tersebut.

Keputusan itu memicu reaksi keras dari sang suami yang kemudian mengamuk dan merusak berbagai barang di dalam rumah.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved