2 Ton Minyak Goreng Impor Masuk Lewat Batam, Mentan Heran Padahal Indonesia Produsen Terbesar

Mentan Andi Amran Sulaiman menyebut masuknya 2,04 ton minyak goreng impor ilegal ke Batam sebagai sebuah ironi

TRIBUNNEWS
Ilustrasi minyak goreng. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut masuknya 2,04 ton minyak goreng impor ilegal ke Batam sebagai sebuah ironi 

Ringkasan Berita:- Mentan Andi Amran Sulaiman menyebut masuknya 2,04 ton minyak goreng impor ilegal ke Batam sebagai sebuah ironi
- Minyak goreng itu masuk melalui kawasan free trade zone (FTZ) Pelabuhan Tanjung Sengkuang, Batu Ampar, Kota Batam
- Padahal Indonesia tercatat sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia

TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut masuknya 2,04 ton minyak goreng impor ilegal ke Batam sebagai sebuah ironi. Hal itu ia sampaikan saat menjelaskan penyitaan 40,4 ton beras, 2,04 ton minyak goreng, dan sejumlah komoditas pangan lain. 

Amran mengatakan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. “Ini minyak goreng (masuk ilegal) sangat ironis. Kita produsen terbesar dunia, tetapi ilegal masuk minyak goreng. Sekali lagi, kita produsen terbesar dunia, tetapi kenapa ada minyak goreng masuk,” kata Amran di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (25/11). 

Ia mengungkapkan 2,04 ton minyak goreng itu masuk melalui kawasan free trade zone (FTZ) Pelabuhan Tanjung Sengkuang, Batu Ampar, Kota Batam. 

Baca juga: Terdampak Banjir, Sebagian Warga Mengungsi ke Sopo Godang dan Gereja Lama HKBP

Ia menyebut laporan awal diterima melalui kanal Lapor Pak Amran mengenai dugaan impor beras dan sembako ilegal. Ia mengaku mengantongi rekaman video ketika tiga kapal yang membawa puluhan ton komoditas pangan itu hendak bersandar di Batam. 

Laporan itu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan di lapangan. Hasilnya, tiga kapal membawa 40,4 ton beras ilegal, 2,04 ton minyak goreng, 600 kilogram tepung terigu, 900 liter susu, 4,5 ton gula pasir, 360 pieces mi, 240 pieces parfum, dan 30 dus frozen food. “Kita tengah malam (awak kapal) ditangkap dan itu ilegal. Itu jumlahnya (beras) 40 ton. Kemudian minyak goreng (2 ton),” tutur Amran. 

Ia menegaskan regulasi FTZ tidak mengubah kebijakan pemerintah pusat untuk tidak mengimpor beras karena stok nasional mencukupi. Pemerintah menyebut ketersediaan beras surplus hingga 4 juta ton. Capaian ini membuat pemerintah mendeklarasikan swasembada pangan pada 2025. 

Baca juga: Ketua KPID Sumut Diduga Langgar Etika, Anggia Masih Menjabat Ikut Seleksi PUD Pasar Medan

“Pandangannya itu betul bahwa batam ini kan ada otonomi, free trade zone. Kami tahu, kami tahu itu regulasi,” ujar Amran. 

“Tetapi ini daerah ini sensitif karena itu masuk wilayah Republik Indonesia. Nah, jadi ini untuk kepentingan kita bersama,” tambahnya. 

Indonesia tercatat sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut produksi crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah mencapai 48,12 juta ton pada 2025, naik dari 47,47 juta ton tahun sebelumnya. 

Amankan Tiga Kapal

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan 40 ton beras impor ilegal dari Thailand dimuat oleh tiga kapal. Aparat telah menangkap tiga kapal tersebut.

Rizal memastikan beras impor ilegal beserta minyak goreng telah disita. Dari hasil penindakan, lima anak buah kapal (ABK) diperiksa. Belum ditemukan keterlibatan warga negara asing.

"Kemudian yang ditangkap itu ada tiga kapal. Jadi kapal pertama adalah Kapal KM Permata Pembangunan yang ditangkap pertama. Kemudian yang kapal kedua adalah. KM Sampurna Tiga, dan kapal ketiga adalah KM Risky ada tiga kapal yang ditangkap," terangnya.

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved