Mindfulness dalam Secangkir Teh: Latihan Hadir di Tengah Kesibukan

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh distraksi, praktik mindfulness kembali mendapat perhatian sebagai cara sederhana

|
Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Mindfulness dalam Secangkir Teh: Latihan Hadir di Tengah Kesibukan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh distraksi, praktik mindfulness kembali mendapat perhatian sebagai cara sederhana untuk menghadirkan ketenangan batin. Namun mindfulness tidak selalu harus dilakukan dalam keheningan meditasi yang formal. Bahkan kegiatan sederhana seperti menyeduh dan menikmati secangkir teh dapat menjadi latihan kesadaran yang mendalam.

Gagasan ini menjadi tema refleksi dalam kegiatan One Day Chan Meditation yang berlangsung pada Minggu (8/3/2026) di Vihara Dharma Wijaya. Kegiatan ini dipandu oleh fasilitator meditasi Kurniady Halim dan diikuti oleh peserta yang ingin mengenal praktik meditasi Zen dalam kehidupan sehari-hari.

Mindfulness
Mindfulness dalam Secangkir Teh: Latihan Hadir di Tengah Kesibukan

Menurut Kurniady, banyak orang membayangkan meditasi sebagai aktivitas duduk diam yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Padahal dalam tradisi Zen, meditasi bukan sekadar soal posisi tubuh, melainkan kualitas kehadiran dalam setiap aktivitas.

“Mindfulness bukan hanya saat kita duduk bermeditasi. Bahkan menyeduh teh pun dapat menjadi meditasi yang hidup,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang benar-benar hadir dalam proses sederhana seperti membuat teh, pengalaman yang muncul dapat menjadi latihan batin yang mendalam.

 

Air dipanaskan perlahan. Daun teh diletakkan dengan hati-hati. Uap mulai naik membawa aroma lembut. Warna air berubah perlahan, seolah waktu ikut melambat. Tangan merasakan hangatnya cangkir, hidung menangkap wangi yang halus, dan bibir menyentuh cairan hangat yang mengalir perlahan ke dalam tubuh.

Jika semua itu dijalani dengan kesadaran penuh, proses sederhana tersebut berubah menjadi ruang jeda—sebuah ruang damai di tengah kesibukan.

“Bukan aktivitasnya yang istimewa, tetapi kehadiran kita di dalamnya,” kata Kurniady. “Ketika kita minum teh dengan sungguh-sungguh, kita tidak lagi terjebak dalam masa lalu atau dikejar masa depan. Kita kembali ke satu-satunya waktu yang nyata: saat ini.”

 

Ruang Damai dalam Kesederhanaan

Saat seseorang duduk dan menikmati teh dengan penuh kesadaran, tercipta ruang kecil di antara kesibukan. Ruang di antara pikiran-pikiran yang berlarian. Ruang di antara tuntutan dan tanggung jawab. Di ruang itulah seseorang dapat berhenti sejenak dan hanya hadir sebagai dirinya yang sedang bernapas. Kedamaian tidak muncul karena masalah hidup tiba-tiba menghilang. Dunia tetap bergerak seperti biasa. Namun seseorang berhenti melarikan diri dari momen yang sedang terjadi.

Sering kali hidup terasa berat karena kita menolak keadaan yang sedang ada. Kita ingin momen ini berbeda. Kita berharap keadaan segera berubah. Namun ketika kita mulai menyapa saat ini dengan lembut—bahkan melalui satu tegukan teh—penerimaan perlahan tumbuh dari dalam.

Dari penerimaan itulah ketenangan mulai berakar.

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved