Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam
Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam, oleh: Dr (C) Fachroel Rozi, SH, MH
Pesantren bisa mengatur kegiatan belajar dengan lebih tenang. Yayasan yatim piatu memiliki ruang bernapas dalam pengelolaan keuangan, karena biaya listrik tidak lagi menjadi beban yang mencekik. Energi tidak menjadi tujuan akhir, tetapi sarana untuk memperkuat fungsi sosial dan spiritual lembaga umat. Lebih dari itu, sedekah energi menghadirkan kemandirian. Energi yang bersumber dari matahari membawa pesan simbolik yang kuat. Matahari menyinari semua orang tanpa membeda-bedakan, tanpa meminta imbalan. Ketika umat memanfaatkan sumber energi ini dengan bijak, mereka sedang belajar tentang keadilan alam, tentang memberi tanpa merusak, tentang mengambil secukupnya tanpa menghabiskan.
Program sedekah energi juga membuka ruang pembelajaran bagi komunitas. Proses pemasangan dan perawatan panel surya melibatkan takmir masjid, santri, dan warga sekitar. Teknologi yang sebelumnya terasa jauh kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar transfer teknologi, tetapi transfer kesadaran bahwa umat mampu berperan dalam solusi krisis iklim, bukan hanya menjadi korban atau penonton.
Dalam jangka panjang, masjid dan lembaga umat yang menggunakan energi bersih dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat keteladanan sosial. Ketika masjid mempraktikkan kepedulian terhadap lingkungan, pesan yang disampaikan jauh lebih kuat daripada sekadar ceramah. Ia menjadi dakwah melalui tindakan, dakwah yang sunyi
namun berdampak.
Visi masa depan energi berkeadilan bukanlah mimpi yang terlalu jauh. Ia sedang dibangun melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten. Dari atap masjid kecil di pedalaman. Dari yayasan yatim piatu yang kini memiliki listrik mandiri. Dari pesantren sederhana yang dapat mengelola aktivitas tanpa cemas akan pemadaman. Semua ini mungkin tampak kecil jika dilihat sendiri-sendiri, tetapi besar jika dipahami sebagai gerakan bersama.
Dalam perspektif keislaman, langkah-langkah ini sejalan dengan tujuan menjaga kehidupan dan keberlanjutan. Energi bersih membantu merawat alam, mengurangi kerusakan, dan melindungi generasi mendatang. Ketika umat terlibat dalam upaya ini, mereka sedang menjalankan peran sebagai khalifah secara nyata, bukan sekadar dalam wacana.
Visi masa depan energi berkeadilan pada akhirnya adalah visi tentang bagaimana umat memandang dirinya dan lingkungannya? Apakah umat hanya menjadi penonton dalam krisis iklim? atau menjadi bagian dari solusi?. Apakah masjid hanya menjadi ruang ibadah? atau juga pusat perubahan sosial?. Apakah sedekah hanya dipahami sebagai bantuan sesaat? atau sebagai investasi kebaikan jangka panjang?. Ketika energi bersih hadir di masjid pedalaman, musholla kampung, pesantren kecil, dan yayasan yatim piatu, kita sedang menyaksikan rahmatan lil’alamin dalam bentuk yang paling konkret.
Rahmat yang tidak berisik, tidak berlebihan, tetapi bekerja setiap hari. Rahmat yang menerangi ibadah, menjaga pendidikan, dan merawat alam secara bersamaan. Dari sinilah masa depan itu dibangun, perlahan, dengan cahaya yang adil bagi umat dan alam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Visi-Masa-Depan.jpg)