Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam

Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam, oleh: Dr (C) Fachroel Rozi, SH, MH

Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam, oleh: Dr (C) Fachroel Rozi, SH, MH 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Energi sering dibicarakan sebagai urusan teknis, kebijakan, dan angka angka besar. Kita mendengar tentang pembangkit, jaringan listrik, dan transisi energi, tetapi jarang bertanya siapa yang paling merasakan ketika energi tidak hadir secara adil.

Padahal, bagi banyak komunitas umat, energi bukan sekadar kebutuhan pendukung, melainkan syarat 
dasar agar ibadah, pendidikan, dan kehidupan sosial dapat berjalan dengan layak. Di banyak daerah terpencil, perkampungan pedalaman, kaki bukit, atau wilayah pegunungan, listrik bukan sesuatu yang selalu tersedia. Ia bisa padam tanpa pemberitahuan, redup ketika hujan turun, atau bahkan tidak hadir selama berjam-jam. 
Bagi masyarakat kota, kondisi ini mungkin hanya ketidaknyamanan sementara.

Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam, oleh: Dr (C) Fachroel Rozi, SH, MH
Visi Masa Depan: Energi Berkeadilan Untuk Umat dan Alam, oleh: Dr (C) Fachroel Rozi, SH, MH

Namun bagi masjid kecil, musholla kampung, pesantren sederhana, atau yayasan yatim piatu, 
kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian yang membatasi ruang gerak mereka.Tempat tempat ini tidak berorientasi pada keuntungan. Mereka tidak mengejar laba, tidak bergerak dalam logika bisnis, dan tidak memiliki cadangan dana besar. 


Orientasi mereka adalah ibadah, pengabdian, dan pelayanan umat. Masjid berdiri untuk shalat dan aktivitas keagamaan. Pesantren mendidik santri dengan kesederhanaan. Yayasan yatim piatu mengasuh anak-anak yang hidup dari kepedulian banyak orang. Namun justru lembaga-lembaga inilah yang sering berada di posisi paling rentan dalam urusan energi.


Ketidakadilan energi menjadi nyata ketika lembaga-lembaga yang hidup dari keikhlasan harus menanggung biaya listrik yang berat, atau ketika aktivitas ibadah dan belajar harus menyesuaikan dengan kondisi listrik yang tidak menentu. Dalam situasi seperti ini, energi bukan lagi soal terang atau gelap, melainkan soal martabat dan keberlanjutan.

Apakah umat yang menjaga nilai-nilai kebaikan ini akan terus dibiarkan bertahan dengan keterbatasan, sementara pembangunan energi bergerak jauh di tempat lain. Islam memandang keadilan sebagai nilai fundamental. Keadilan tidak hanya dimaknai dalam hubungan antar manusia, tetapi juga dalam relasi manusia dengan alam. 


Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, dengan amanah untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan. Prinsip rahmatan lil’alamin menegaskan bahwa kehadiran manusia seharusnya membawa kebaikan bagi seluruh ciptaan, bukan hanya bagi dirinya sendiri.


Dalam konteks inilah isu energi menjadi persoalan moral. Energi fosil yang selama ini menopang kehidupan modern telah memberi kemudahan, tetapi juga menyisakan kerusakan lingkungan dan krisis iklim. Bencana yang semakin sering, cuaca yang tidak menentu, dan rusaknya ekosistem adalah bagian dari harga yang harus dibayar. 


Ironisnya, dampak ini paling dirasakan oleh masyarakat yang paling sedikit menikmati hasil pembangunan, termasuk komunitas umat di daerah tertinggal. Visi energi berkeadilan lahir dari kesadaran bahwa akses terhadap energi bersih dan berkelanjutan tidak boleh menjadi hak istimewa segelintir pihak.

 

Energi berkeadilan berarti energi yang dapat diakses oleh semua, yang tidak merusak alam, dan yang mendukung keberlangsungan hidup umat dalam jangka panjang. Ini bukan sekadar pilihan teknologi, melainkan pilihan nilai, tentang keberpihakan pada keberlanjutan dan keadilan sosial.Di sinilah sedekah energi menemukan maknanya. Sedekah energi bukan sekadar program pemasangan panel surya, tetapi cara baru memaknai sedekah dalam konteks tantangan zaman. Sedekah tidak lagi berhenti pada bantuan yang habis dalam waktu singkat, melainkan diwujudkan dalam bentuk sistem yang terus memberi manfaat. 


Energi yang dihasilkan hari ini akan tetap mengalir besok, lusa, bahkan puluhan tahun ke depan, selama ia dirawat dengan baik. Yang menarik, sedekah energi justru menyasar tempat tempat yang sering luput dari perhatian. Masjid kecil di pedalaman. Musholla di perkampungan. Pesantren sederhana di kaki bukit. Yayasan yatim piatu yang hidup dari donasi dan doa. Tidak ada orientasi komersial di sana, tidak ada kepentingan ekonomi besar.

 

Tetapi secara moral, merekalah yang paling layak mendapat dukungan, karena di sanalah ibadah dijaga dan nilai-nilai kemanusiaan dirawat setiap hari.Ketika energi terbarukan hadir di tempat tempat seperti ini, dampaknya terasa langsung. Masjid dapat menjalankan aktivitas ibadah tanpa khawatir listrik padam.

 

Pesantren bisa mengatur kegiatan belajar dengan lebih tenang. Yayasan yatim piatu memiliki ruang bernapas dalam pengelolaan keuangan, karena biaya listrik tidak lagi menjadi beban yang mencekik. Energi tidak menjadi tujuan akhir, tetapi sarana untuk memperkuat fungsi sosial dan spiritual lembaga umat. Lebih dari itu, sedekah energi menghadirkan kemandirian. Energi yang bersumber dari matahari membawa pesan simbolik yang kuat. Matahari menyinari semua orang tanpa membeda-bedakan, tanpa meminta imbalan. Ketika umat memanfaatkan sumber energi ini dengan bijak, mereka sedang belajar tentang keadilan alam, tentang memberi tanpa merusak, tentang mengambil secukupnya tanpa menghabiskan.

 

Program sedekah energi juga membuka ruang pembelajaran bagi komunitas. Proses pemasangan dan perawatan panel surya melibatkan takmir masjid, santri, dan warga sekitar. Teknologi yang sebelumnya terasa jauh kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar transfer teknologi, tetapi transfer kesadaran bahwa umat mampu berperan dalam solusi krisis iklim, bukan hanya menjadi korban atau penonton.

 

Dalam jangka panjang, masjid dan lembaga umat yang menggunakan energi bersih dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat keteladanan sosial. Ketika masjid mempraktikkan kepedulian terhadap lingkungan, pesan yang disampaikan jauh lebih kuat daripada sekadar ceramah. Ia menjadi dakwah melalui tindakan, dakwah yang sunyi 
namun berdampak.


Visi masa depan energi berkeadilan bukanlah mimpi yang terlalu jauh. Ia sedang dibangun melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten. Dari atap masjid kecil di pedalaman. Dari yayasan yatim piatu yang kini memiliki listrik mandiri. Dari pesantren sederhana yang dapat mengelola aktivitas tanpa cemas akan pemadaman. Semua ini mungkin tampak kecil jika dilihat sendiri-sendiri, tetapi besar jika dipahami sebagai gerakan bersama.

 

Dalam perspektif keislaman, langkah-langkah ini sejalan dengan tujuan menjaga kehidupan dan keberlanjutan. Energi bersih membantu merawat alam, mengurangi kerusakan, dan melindungi generasi mendatang. Ketika umat terlibat dalam upaya ini, mereka sedang menjalankan peran sebagai khalifah secara nyata, bukan sekadar dalam wacana.


Visi masa depan energi berkeadilan pada akhirnya adalah visi tentang bagaimana umat memandang dirinya dan lingkungannya? Apakah umat hanya menjadi penonton dalam krisis iklim? atau menjadi bagian dari solusi?. Apakah masjid hanya menjadi ruang ibadah? atau juga pusat perubahan sosial?. Apakah sedekah hanya dipahami sebagai bantuan sesaat? atau sebagai investasi kebaikan jangka panjang?. Ketika energi bersih hadir di masjid pedalaman, musholla kampung, pesantren kecil, dan yayasan yatim piatu, kita sedang menyaksikan rahmatan lil’alamin dalam bentuk yang paling konkret.

Rahmat yang tidak berisik, tidak berlebihan, tetapi bekerja setiap hari. Rahmat yang menerangi ibadah, menjaga pendidikan, dan merawat alam secara bersamaan. Dari sinilah masa depan itu dibangun, perlahan, dengan cahaya yang adil bagi umat dan alam.(*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved