Breaking News

Sumut Terkini

Embrio Awal MTQ di Indonesia Tersimpan di Asahan, Masjid MTQ 1946 Monumen Saksi Bisu

Perlombaan ini kerap dilakukan mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, tingkat nasional, hingga nasional. 

Tayang:
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ALIF
Masjid MTQ 1946 merupakan monumen peninggalan sejarah terjadinya lomba baca kitab suci Al Quran di Indonesia yang terletak di Dusun II, Desa Pondok Bungur, Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan. 

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN - Musabaqah Tilawatil Quran(MTQ) merupakan perlombaan membacakan lantunan ayat suci Al Quran.

Perlombaan ini kerap dilakukan mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, tingkat nasional, hingga nasional. 

Namun, sejarah mencatat, perlombaan membaca Al Qur'an(MTQ) pertama kali diselenggarakan di Desa Pondok Bungur(kampung bunga), Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan

Namun, akibat terjadinya pergeseran pembangunan, masjid yang berada di Sekolah rakyat dipindahkan ke Masjid Taqwa, saat ini berubah nama menjadi masjid MTQ 1946 pada tahun 1986. 

"Dahulu, MTQ ini dibuat di sekolah rakyat tak jauh dari sini. Terus ada masjid kecil disana. Namun karena ada pembangunan, surau(Masjid kecil) disana di bongkar. Selanjutnya pada tahun 1986, pemenang pertama MTQ Haji Nurdin meminta agar masjid ini yang dahulu bernama Masjid Taqwa diganti menjadi MTQ 1946," kata Jafar, Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) MTQ 1946, Kamis (13/3/2025).

MTQ pertama ini dicetuskan oleh seorang pria bernama Ali Umar belum genap setahun Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 12 Februari 1946 di surau milik sekolah rakyat Desa Pondok Bungur. 

Dalam buku terbitan Ali Umar, yang berjudul Peristiwa dan Sejarah Kelahiran MTQ Pertama menjelaskan perlombaan membaca Al Quran mengajak putra dan putri Kabupaten Asahan dan Simalungun untuk memperlombakan lantunan ayat suci Al Quran yang telah dihafal. 

Perlombaan membaca lantunan ayat suci pertama kali digagas oleh Ali Umar pada tahun 1938 seusai dirinya selesai dengan sekolahnya di Kabupaten Langkat dan melanjutkan membangun sekolah di Kampungnya, Desa Pondok Bungur. 

Seiring berjalannya dibangun sekolah, Umar memikirkan untuk melakukan perlombaan membaca lantunan ayat suci Al Qur'an. Namun, rencananya tidak sesuai yang diharapkan. 

"Karena, pada saat itu, gagasannya di tentang oleh guru agama dan pemuka agama di desa ini. Menurut mereka, Al Qur'an tidak dapat diperlombakan," jelas Jafar. 

Sehingga, atas gagasannya yang dianggap bertentangan tersebut, sekolah yang baru dirintis terpaksa tutup dan tidak ada orang tua siswa yang mempercayai dirinya. 

Sehingga, pada tahun 1940, Ali Umar membuat sebuah organisasi yang bernama Persatuan Agama Islam(PAI). Dengan harapan, suara umat Islam dapat lebih kuat. 

Hanya saja, organisasinya tersebut ditentang oleh Kerajaan Asahan, dan Ali Umar dan rekan-rekannya disidang oleh sidang kerajaan. 

"Namun, beliau kembali terselamatkan, karena setelah mengetahui Ali Umar di sidang, Kerjaan Langkat menyurati Asahan agar membebaskan Ali Umar dan PAI harus terus berjalan," ujar Jafar. 

Atas dibebaskannya Ali Umar dari Sidang, ia langsung berangkat menuju Langkat dan menemui Adam Malik yang merupakan seorang cendikiawan. 

Pembahasan terkait gagasan perlombaan membaca Al Quran djsambut baik oleh Adam Malik dan disetujui oleh Adam Malik untuk dilakukan di Desa Pondok Bungur. 

"Setelah dibebaskan, ayah berangkat untuk bertemu dengan H Adam Malik. Disitu, gagasan ayah saya langsung disetujui oleh Adam Malik dengan mengatakan bahwa, gagasan perlombaan membaca Al Quran ini, bagus untuk membangun moril masyarakat agar menjadi lebih baik lagi," kata Azhar, salah satu anak kandung Ali Umar. 

Setelah mendapatkan persetujuan dari Adam Malik, Ali Umar pulang ke Desa Pondok Bungur, dan memulai perlombaan membaca Al Quran. 

Dalam MTQ pertama, dia juarai oleh dua orang muda-mudi Desa Pondok Bungur, Syarifa juara satu MTQ kategori putri dan Nurdin, juara satu MTQ kategori putra. 

Hamnah(85), salah kontestan MTQ kategori putri mengakui adanya peristiwa perlombaan MTQ di saung Sekolah Rakyat di Desa Pondok Bungur, Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan

Hamnah yang saat itu masih duduk ri bangku kelas 6 Sekolah Dasar itu mendapati juara ke 5 dalam lomba membaca Al Quran tersebut. 

Ia mengaku, peserta lomba MTQ pertama datang tak hanya dari Asahan dan Simalungun.

Namun, Beberapa ada yang datang dari Belawn, Tanjungbalai, dan Batubara. 

"Saya saat itu juara 5, dan dapat hadiah kerudung. Pesertanya ramai, dari Asahan, Tanjungbalai, Batubara, hingga Simalungun," ujar Hamnah. 

Namun, kini monumen tersebut dapat dilihat di Masjid MTQ 1946 yang dibangun oleh warga untuk memperingati terjadinya momen bersejarah dalam perlombaan membaca Al Quran. 

(cr2/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved