Tribun Wiki

Hari Kartini, Simbol Kesetaraan dan Kebangkitan Perempuan Indonesia

Tiap tanggal 21 April menjadi sejarah peringatan Hari Kartini. Hari Kartini adalah simbol kebangkitan perempuan dan kesetaraan

Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Sejumlah Polisi Wanita (Polwan) Polda Sumut mengenakan pakaian kebaya membagikan takjil kepada warga yang melintasi kawasan Lapangan Merdeka, Medan, Kamis (21/4/2022). Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Polwan Polda Sumut mengenakan pakaian kebaya saat membagikan takjil di Bulan Ramadan 1443 Hijriah. 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Tiap tanggal 21 April menjadi sejarah peringatan Hari Kartini.

Hari Kartini merupakan simbol kesetaraan dan kebangkitan perempuan Indonesia.

Peringaran Hari Kartini sendiri merujuk pada tokoh perempuan Indonesia Raden Ajeng Kartini.

Ia merupakan perempuan Indonesia yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita.

Baca juga: Sejarah Letusan Gunung Ruang, Terjadi Ratusan Gempa, Kini Bandara Sam Ratulangi Ditutup

Hari Kartini
Hari Kartini (Kolase TribunStyle.com/ Instagram @kelasjagodesain)

Semasa hidupnya, RA Kartini menuangkan banyak pikiran tentang kesetaraan wanita dan pria di Indonesia.

Karena perjuangannya itu pula, RA Kartini lantas dijadikan simbol kebangkitan perempuan Indonesia, yang pada masa kolonial, dianggap tidak ada apa-apanya dibanding laki-laki.

Dikutip dari Tribunnews.com, RA Kartini memiliki nama lengkap Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat.

Beliau lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.

Dikutip dari Kemdikbud, ia lahir di tengah keluarga bangsawan dari seorang ayah yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjabat sebagai Bupati Jepara.

Baca juga: Sejarah Tradisi THR di Indonesia, Sudah Ada Sejak Tahun 1951

Sementara ibunya bernama M.A. Ngasirah yang merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Jepara.

Lantas, bagaimana sejarah singkat ditetapkannya peringatan Hari Kartini?

Sejarah Ditetapkannya Hari Kartini 21 April

Wafatnya RA Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan RA Kartini semasa hidupnya.

Seorang temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa.

Abendon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya.

70 Model di Hari Kartini Pada Event Women In Action Plaza Medan Fair, Sabtu (25/4), Medan.
70 Model di Hari Kartini Pada Event Women In Action Plaza Medan Fair, Sabtu (25/4), Medan. (Tribun Medan/Ryan)

Baca juga: Sejarah dan Tradisi Halal Bil Halal saat Hari Raya Idul Fitri

Buku tersebut diterbitkan pada 1911 dan cetakan terakhir ditambahkan surat "baru" dari Kartini.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved