Kisah Inspiratif

Sosok Yuda, Pendiri Rumah Edukasi Anak Pesisir, Dapat Penolakan Hingga Raih Penghargaan

Afri Yuda Tama Siregar, pendiri Rumah Edukasi Anak Pesisir yang sempat dapat penolakan dan diganjar penghargaan

Tayang:
HO
Afri Yuda Tama Siregar dan timnya di Rumah Edukasi Anak Pesisir. 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Afri Yuda Tama Siregar namanya.

Ia adalah sosok pemuda inspiratif pendiri Rumah Edukasi Anak Pesisir atau Redaksi.

Saat berbincang, Yuda bercerita bahwa dirinya sempat mendapat penolakan dari warga ketika ingin mengedukasi anak-anak pesisir yang putus sekolah.

Warga merasa risih, karena anak-anaknya tidak bisa bekerja, dan lebih memilih belajar.  

"Ditolak masyarakat setempat karena dianggap mengganggu anak-anak mereka yang semulanya bekerja untuk mendapatkan uang jajan dengan menjadi anak itik (tukang bersih kapal atau memilah kerang) atau nelayan cilik, tapi malah mau belajar," kata Yuda, Selasa (11/7/2023).

Meski mendapat penolakan, Yuda dan teman-temannya tak patah arang.

Ia tetap berusaha meyakinkan warga, bahwa pendidikan itu sangat penting.

“Pada tahun 2022, saya melakukan riset kecil-kecilan di pesisir Percut. Tingkat literasi di sana masih sangat rendah. Bahkan, anak kecil kelas 6 SD sampai 2 SMP masih banyak yang belum bisa membaca," katanya.

Berangkat dari keresahan itu, Yuda dan teman-temannya bertekad untuk membesarkan Redaksi. 

"Kami merasa bahwa komunitas ini nanti akan bisa dipakai di tingkat Sumut. Harapannya bisa sampai ke seluruh Indonesia," kata alumnus Universitas Medan Area itu.

Terhalang Tempat

Selain mendapat penolakan, masalah lain yang Yuda hadapi adalah persoalan tempat.

Mereka mulanya tidak punya tempat khusus untuk menampung 50 sampai 70 anak yang mau belajar.

Saat itu, mereka sempat menyewa sebuah kios untuk tempat anak-anak menimba ilmu.

Sayangnya, kios yang disewa justru dialihkan ke orang lain. 

“Kami harus mencari tempat lain karena kios itu mau disewakan. Banyak dari kami yang menangis karena tak memiliki tempat belajar lagi pada saat itu," katanya.

Tak putus asa, Yuda dan teman-temannya kemudian berdiskusi dengan kepala desa.

Saat itu, kepala desa memberikan saung yang merupakan hibah dari masyarakat.

Namun, belum lama menempati saung, mereka kembali tergusur. 

Tetapi, Tuhan maha baik.

Tiba-tiba ada perusahaan tambak udang yang menawarkan villa kosong kepada dirinya.

“Ada satu villa dan tempat yang tak terpakai yang ditawarkan kepada kami. Doa-doa kami diijabah. Kami membersihkan tempat yang sudah tak terpakai 5 tahun itu dan akhirnya kami sampai saat ini melakukan banyak kegiatan di sana,” kenangnya.

Kini, Redaksi sudah berjalan dengan berbagai agenda didalamnya, rutin melaksanakan pertemuan tiga kali setiap minggunya.

Dengan beberapa materi belajar, mulai dari mengaji, baca, tulis, berhitung, sampai pelatihan seni yang dapat meningkatkan animo berbudaya Melayu di pesisir.

“Untuk bidang edukasi kami punya program relawan peduli anak pesisir. Kami membuka kesempatan untuk seluruh mahasiswa se-Sumatra Utara untuk mengabdikan dirinya meningkatkan literasi membaca anak pesisir. Kami fokus meningkatkan literasi melalui kegiatan membaca seperti pojok baca di sekolah, pojok baca di bawah pohon, dekat sungai, dan lain-lain,” jelas Yuda.

Menariknya lagi, Yuda dan kawan-kawan memiliki program yang diberi nama perahu ilmu.

Pada program ini para relawan menyediakan beberapa perahu yang mengajak anak-anak pesisir berkeliling sampai ke tepi laut sambil membaca dan mendongengkannya.

“Untuk bidang sosial, kami melakukan aksi-aksi filantropi. Seperti program berbagi ikan pepes. Kami mengumpulkan donasi dan ikan-ikan tersebut kami masak dan kami beri kepada para lansia yang memang membutuhkan uluran tangan kami. Bahwa meskipun mereka tinggal di pesisir, ternyata mereka jarang makan ikan karena mereka bukan bekerja sebagai nelayan,” kata pemuda yang juga merupakan pemenang top 7 Duta Bahasa Sumatra Utara ini.

Tak hanya soal belajar, Redaksi juga aktif dalam melaksanakan program sosial lainnya, salah satunya dengan membagikan 100 sepatu pada anak pesisir yang sepatunya sudah tidak layak pakai lagi.

Selain itu, Yuda dan kawan-kawan juga mengajarkan peduli lingkungan kepada mereka dengan program 1 anak 1 kantong sampah.

Di mana mereka bersama dinas kebersihan dan pemerintahan desa setempat melakukan bersih-bersih di kawasan pesisir.

Melihat programnya yang banyak memberi manfaat tersebut, tidak heran jika Redaksi mendapatkan penghargaan bergengsi dari Balai Bahasa Sumatra Utara dalam ajang Festival Literasi Sumatra Utara.

Walaupun masih berusia 1 tahun, namun rumah edukasi itu berhasil menyabet juara 1 dalam kategori konten terbaik komunitas literasi.

“Saya berharap wadah ini menjadi besar dan semoga tetap berjalan dan memiliki manajemen SDM yang bagus. Tujuan ke depannya kita bisa bekerjasama dengan pemerintah di Kabupaten lain untuk membangkitkan relawan anak pesisir," harap Yuda.

Sebab, baginya anak pesisir juga harus memiliki pendidikan informal yang berguna bagi mereka dan dekat dengan mereka untuk dapat menggali potensi diri.

"Semoga komunitas ini bisa jadi percontohan bagi pesisir di Indonesia. Sehingga platform ini bisa jadi sebuah start-up yang dapat mewadahi kebutuhan akademik anak pesisir,” pungkasnya.(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter     

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved