Berita Viral

Berikut Kisah Dua 'Big Boss' Narkoba Terbesar di Indonesia, Edarkan Jutaan Kg dan Kendalikan Oknum

Sindikat perdagangan gelap narkoba Jaringan Internasional asuhan Fredy Pratama telah berhasil dibongkar oleh Bareskrim Polri.

Tayang:
Editor: Satia
kolase tribun-medan.com/istimewa/tribunnews.com
Habis Freddy Budiman Muncul Fredy Pratama, Gembong Narkoba Terbesar Indonesia, Sebanyak 39 Anggotanya Diciduk. (kolase tribun-medan.com/istimewa/tribunnews.com) 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Baru-baru ini rakyat Indonesia digemparkan dengan penangkapan Big Boss narkoba terbesar di Tanah Air ini.

Sosok Boss Narkoba itu bernama Fredy Pratama atau yang dijuluki The Secret.

Sebelumnya, ada nama Freddy Budiman dijuluki Big Boss Narkoba terbesar di Indonesia.

Berikut kisah kedua Big Boss Narkoba Terbesar di Indonesia ini.

Fredy Pratama yang hingga saat ini masih menjadi buron.

Sebelumnya diberitakan, sindikat perdagangan gelap narkoba Jaringan Internasional asuhan Fredy Pratama telah berhasil dibongkar oleh Bareskrim Polri.

Baca juga: Dahsyatnya Doa Surat Al Kautsar, Berikut Arti dan 9 Keistimewaan Terkandung di Dalamnya

Setidaknya sebanyak 884 tersangka dari total sekitar 408 laporan yang masuk pada periode 2020-2023 yang terafiliasi dengan sindikat narkoba Fredy Pratama, telah berhasil ditangkap.

Kabareskrim Polri, Komjen Wahyu Widada mengatakan, Fredy Pratama merupakan salah satu gembong narkoba terbesar di Indonesia.

"Setelah ditelusuri lebih lanjut, sindikat Fredy Pratama adalah sindikat narkoba yang cukup besar, mungkin terbesar," kata Wahyu dalam konferensi pers di Lapangan Bhayangkara, Jakarta, Selasa 12 September 2023.

Selebgram Adelia Putri Salma dan Fredy Pratama
Selebgram Adelia Putri Salma dan Fredy Pratama (Tribunsumsel)

Ia mengungkapkan, sindikat Fredy Pratama memasok narkoba hingga 500 kilogram setiap bulannya.

"Setiap bulannya, sindikat ini mampu menyelundupkan sabu dan ekstasi masuk ke Indonesia dengan jumlah mulai dari 100 kg sampai 500 kg dengan menyamarkan sabu ke dalam kemasan teh," tuturnya.

Lantas, siapa sebenernya sosok “The Most Wanted” dibalik perdagangan gelap narkoba jaringan internasional ini?

Baca juga: JADWAL Terbaru Liga 2 2023-24 Pekan ke-2: Sada Sumut Vs PSMS Medan, PSDS Lakoni Laga Kandang

Nama Fredy Pratama sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 2014 silam.

Selama hampir 10 tahun menjadi buron, hingga kini keberadaan Fredy Pratama masih menjadi teka-teki.

Ia juga memiliki anak buah yang tersebar di berbagai daerah dan memiliki tugas masing-masing.

Sosok Fredy Pratama, bos narkoba terbesar se-Asia Tenggara
Sosok Fredy Pratama, bos narkoba terbesar se-Asia Tenggara (KOLASE/TRIBUN MEDAN)

Dari hasil pendalaman, Fredy Pratama merupakan pengendali utama atau master mind dari peredaran gelap narkoba.

Baca juga: Sosialisasi CPNS 2023 Kejaksaan Agung RI Masuk Kampus di Medan, Berikut Syarat dan Jadwalnya

Nama samaran yang dipakainya pun cukup banyak yaitu Miming, The Secret, Casanova, Airbag, dan Mojopahit dalam komunikasinya.

Fredy Pratama beroperasi mengedarkan narkotika di wilayah Indonesiah hingga wilayah Malaysia bagian timur.

"Fredy Pratama alias Miming dengan nama samaran di komunikasinya The Secret, Casanova, Airbag dan Mojopahit."

Baca juga: Bacaan Ayat Kursi dan Artinya, Serta 10 Keistimewaannya yang Luar Biasa

"Yang bersangkutan ini mengendalikan peredaran narkoba di Indonesia dari Thailand," kata Wahyu.

Selebgram Adelia Putri Salma dan Fredy Pratama
Selebgram Adelia Putri Salma dan Fredy Pratama (Tribunsumsel)

Sementara itu, dikutip dari Tribunnews bersumber BanjarmasinPost.co.id, Fredy Pratama disebut lahir di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ia merupakan anak pengusaha restoran setempat yaitu Lian Silas (68).

Baca juga: INILAH Daftar 40 Peserta Lulus Administrasi Calon Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut

Akibat sepak terjang di dunia hitam narkoba, Fredy Pratama alias Miming alias Fredy Miming alias Wang Xiang Ming diburu Interpol dari empat negara.

Mereka adalah Indonesia, Royal Malaysia Police, Royal Thai Police, dan Badan Narkotika Amerika Serikat (US-DEA).

Interpol memburunya sejak dikabarkan bersembunyi di The Golden Triangle atau Segitiga Emas yang merupakan surga bandar narkotika di Asia Tenggara.

Baca juga: Putrinya Cantik dan Kaya, Sang Ayah Kesusahan Cari Jodoh Untuk Anaknya, Aib Dibongkar: Jorok

Fredy Pratama diduga mengontrol pasar gelap narkoba di Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin sejak 2013.

Dia pun telah lama masuk daftar buronan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Diduga, Fredy Pratama bersembunyi di Thailand dan disebut melakukan operasi plastik untuk menghindari kejaran polisi.

Meski demikian, Wakil Direktur Ditresnarkoba Polda Kalsel, AKBP Ernesto menjelaskan, lambat laun Fredy Pratama akan berhasil ditangkap sekalipun telah operasi plastik.

"Kalau di dunia hukum ini tidak ada kejahatan yang sempurna."

Baca juga: VIRAL, PNS Pemprov Sultra Soraki dan Abaikan Perintah Pj Gubernur, Ogah Apel Ditengah Hujan

"Walaupun Fredy (Miming) sekarang lagi operasi plastik dan berganti kewarganegaraan, pasti nanti akan tertangkap juga. Tunggu waktunya saja," kata dia, dikutip dari BanjarmasinPost.co.id.

Anggita Sari dan Freddy Budiman saat ditangkap pada ahn 2015 lalu. Kabar Anggita Sari setelah dikabarkan jadi pacar bos narkoba sudah beda.
Anggita Sari dan Freddy Budiman saat ditangkap pada ahn 2015 lalu. Kabar Anggita Sari setelah dikabarkan jadi pacar bos narkoba sudah beda. (Istimewa)

Freddy Budiman

Freddy Budiman pengedar narkoba yang telah dieksekusi mati pada tahun 2016 silam.

Dikutip dari Tribunnews, melalui KontraS, Freddy Budiman mengaku menggelontorkan dana miliaran Rupiah ke polisi dan BNN.

Baca juga: Prabowo Selalu Unggul Dalam Survei, Sekretaris Gerindra Sumut Beberkan Faktor Pendukung

Freddy Budiman merupakan pria kelahiran Surabaya, pada 18 Juli 1977.

Freddy Budiman meninggal setelah dieksekusi mati pada 29 Juli 2016 di usia 39 tahun.

Freddy dieksekusi di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Baca juga: Sosok AKP Andri Gustami Terlibat Jaringan Narkoba Fredy Pratama, Terkuak Tugasnya Sebagai Kurir

Dikutip dari Kompas.com, Freddy berulang kali terjerat pengedaran narkoba.

Berkali-kali pula Freddy mendekam di penjara karena kasus yang sama.

Namun hukuman tersebut tak membuat Freddy jera.

Freddy Budiman dan Shinta Bachir
Freddy Budiman dan Shinta Bachir (kompas.com/ ANDRI DONNAL PUTERA dan DIAN REINIS)

Dia juga disebut mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi.

Masih dari Kompas.com, Freddy Budiman pertama kali terjerat narkoba di Maret 2009.

Baca juga: Juru Tulis Togel di Karo Ditangkap, Pelaku Diamankan saat Menulis Rekapan Angka di Kedai Kopi

Kala itu, polisi menggeledah kediaman Freddy di Apartemen Surya, Cengkareng, Jakarta Baret, ditemukan 500 gram sabu.

Saat itu, dia divonis 3 tahun dan 4 bulan.

Tak lama bebas, di tahun 2011 Freddy kembali ditangkap karena kasus yang sama.

Dia ditangkap di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Freddy Budiman
Freddy Budiman ()

Polisi menemukan barang bukti berupa 300 gram heroin, 27 gram sabu, dan 450 gram bahan pembuat ekstasi.

Baca juga: APRC 2023 Kembali Digelar di Danau Toba pada Akhir Pekan Depan, Puluhan Perally Bakal Turun

Kepemilikan dan peredaran barang haram tersebut melibatkan anggota Polri, Bripka BA, Kompol WS, AKP M, dan AKM AM. Atas perbuatannya, Freddy kemudian divonis sembilan tahun penjara.

Baru setahun mendekam di balik jeruji besi LP Cipinang, Freddy kembali berurusan dengan aparat penegak hukum atas kasus peredaran narkoba.

Baca juga: SOSOK Irwansyah Sutradara Film Panas Siskaeee, tak Laku Bikin Genre Komedi Beralih ke Film Esek-esek

Freddy diketahui masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi.

Dia terbukti bisa mengorganisasi penyelundupan 1.412.476 butir ekstasi dari China pada Mei 2012.

Kasus penyelundupan ekstasi dari China itu merupakan kasus terbesar dalam 10 tahun terakhir di Indonesia.

Atas perbuatannya, Freddy kemudian divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 15 Juli 2013.

Tak sampai di sana, Freddy ternyata memiliki fasilitas khusus.

Foto terakhir Freddy Budiman bersama anak dan istrinya
Foto terakhir Freddy Budiman bersama anak dan istrinya (Ist)

Freddy dikabarkan telah menjalin hubungan dengan model majalah pria dewasa, Anggita Sari.

Freddy kemudian terlibat bilik asmara di LP Narkotika di Cipinang Jakarta Timur.

Bilik asmara itu digunakan Freddy dan kekasihnya, Vanny Rossyane, untuk menikmati narkoba dan berhubungan seksual.

Baca juga: PANGLIMA Yudo Khawatir Prajurit TNI Dibekali Alat Saat Ikut Pengamanan Demo di Pulau Rempang!

Selain itu, Freddy juga mendapat fasilitas Wartel untuk menghubungi jaringannya di Belanda.

"Kalau di lapas itu ada wartelsus, wartel khusus pemasyarakatan. Itu saya pakai untuk komunikasi. Jadi, selama ini saya berbincang itu lewat wartel di sana," kata Freddy, dikutip dari Kompas.com.

Dijelaskan Freddy, ia dipungut biaya untuk menggunakan fasilitas telekomunikasi di lapas itu.

Berkat fasilitas tersebut, Freddy mengaku dapat berkomunikasi dengan timnya di berbagai lapas seperti di LP Cipinang dan Salemba. Dia bahkan bisa menghubungi jaringannya di Belanda.

"Saya komunikasi seperlunya saja dengan pekerja saya, sama yang di Belanda aja," ucap Freddy.

"(Hubungi anak buah di lapas) pakai wartel. Bisa kok," lanjutnya.

Baca juga: Pertemuan Mengerikan Kim Jong Un dan Putin, PBB Larang Transaksi Alat Militer!

Kalapas Cipinang yang kala itu dijabat Thurman Hutapea pun harus dicopot dari jabatannya karena kasus bilik asmara Freddy.

Sejak vonis mati di tahun 2013, Freddy juga memutuskan terlibat jaringan bisnis internasional setelah menjalani 1,5 tahun isolasi.

Karena masih menunggu waktu pasti eksekusi matinya, Freddy memutuskan menerima penawaran sindikatnya karena butuh uang demi keluarganya.

"Dengan adanya eksekusi (mati) gelombang 1, gelombang 2 membuat saya ya mungkin ketakutan. Tapi bukan takut pada eksekusinya," ujar Freddy.

Selain itu, Freddy mengaku tertarik terlibat lagi karena mengetahui ia akan mengedarkan narkoba baru.

Baca juga: Kades Lau Mulgap Jadi Tersangka, Penyidik Polres Binjai Sudah Kirim SPDP-nya ke Kejari Langkat

Freddy kemudian dieksekusi mati pada 29 Juli 2016 sekitar pukul 20.00 WIB di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jenazah Freddy Budiman lalu dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur.

Sebelum dieksekuis, Freddy Budiman nampak telah berubah, ia mengaku telah bertobat.

Dikutip dari situs kejari-jakbar.go.id, Freddy Budiman mengaku telah bertaubat dan meminta maaf pada seluruh masyarakat Indonesia, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala BNN, hingga MA.

Menurut pengakuan sang anak, Freddy Budiman juga meminta untuk diizinkan sholat Isya dulu sebelum dieksekusi mati.

 

Baca Berita Tribun Medan Lainnya di Google News

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved