Berita Sumut

1.500 Rumah dan 173 Hektar Persawahan di Asahan Terendam Banjir, Sebanyak 253 Jiwa Mengungsi

Tercatat ada sebanyak 1.500 unit rumah di lima kabupaten di Kabupaten Asahan yang terendam banjir.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/ALIF ALQADRI HARAHAP
Pelajar pulang sekolah melintasi banjir di Jalan Utama Desa Sei Dua Hulu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, Rabu(6/9/2023). 

TRIBUN-MEDAN.com, ASAHAN - Tingginya intensitas hujan yang mengguyur di Kabupaten Asahan belakangan ini, mengakibatkan meluapnya air sungai hingga mengakibatkan permukiman warga terendam banjir.

Tercatat ada sebanyak 1.500 unit rumah di lima kabupaten di Kabupaten Asahan yang terendam banjir.

Baca juga: Sebanyak 375 Rumah Warga di Batubara Terendam Banjir, Camat: Kiriman dari Asahan dan Simalungun

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Asahan, Zulfahri Harahap menjelaskan, berdasarkan data Rabu (6/9/2023), setidaknya ada 253 jiwa yang sudah mengungsi akibat rumahnya terendam banjir.

"Rumah terdampak ada sekitar 1.500-an lebih, di Kecamatan Simpang Empat paling parah, di Sei Dua Hulu, ada 857 KK yang terdampak, sedangkan di Desa Simpang Empat ada 270 KK," kata Zulfahri, Kamis (7/9/2023).

Lanjut Fahri, di beberapa kecamatan lainnya, ketinggian air sudah berangsur menurun, bahkan banjir di beberapa lokasi mulai surut.

"Seperti di Kecamatan Setia Janji, Meranti, Teluk dalam, itu sudah mulai surut, bahkan sebagian sudah ada yang tidak terdampak," beber Fahri.

Selain rumah, areal persawahan warga ikut terendam banjir.

Akibat bencana banjir ini, pada yang ditanami petani terancam gagal panen.

"Di Meranti dan Setia Janji itu ada areal sawah warga terendam. Total keseluruhannya ada 173 hektare," katanya.

Ia mengaku, saat ini BPBD Asahan sudah mendirikan tenda darurat untuk masyarakat yang rumahnya terendam banjir.

Baca juga: Jalan Utama Desa Sei Dua Hulu Terendam Banjir, Puluhan Sepeda Motor yang Melintas Mogok

"Namun, masih banyak masyarakat yang enggan meninggalkan rumahnya dan memilih untuk bertahan," kata Zulfahri.

Sedangkan hal penghambat lainnya, Zulfahri mengaku sedimen sungai yang tinggi dan terhambatnya jalur irigasi air menjadi salah satu terjadinya banjir.

(cr2/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter


 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved