Berita Seleb
Hotman Paris Skakmat RS Sentosa, Sindir Soal Ganti Rugi Bayi Tertukar: Kalau Saya Mah Triliunan
Bahwa jika kasus tersebut terjadi di luar Indonesia, maka para korban akan mendapatkan ganti rugi hingga triliunan.
Ia berkaca jika kasus ini terjadi di luar negeri,
Ganti rugi sebesar itu merujuk pada kerugian immateriil yang dialami korban lantaran setahun mengalami kejadian tersebut.
Lagipula diakui Hotman Paris, kerugian immateriil yang didapatkan Siti Mauliah dan Dian selaku ibu bayi tertukar tidak bisa diukur dengan uang fantastis sekalipun.
Sebab Siti Mauliah dan Dian mengalami guncangan psikologis pasca mengetahui anak mereka tertukar usai setahun diasuh.
Karenanya, Hotman pun membandingkan kasus tersebut dengan di luar negeri.
Bahwa jika kasus tersebut terjadi di luar Indonesia, maka para korban akan mendapatkan ganti rugi hingga triliunan.
"Rumah sakit sudah mengakui bahwa ada malpraktik di kalangan bawahannya. Undang-undang udah tegas tindakan bawahan adalah tanggung jawab majikan. Kalau ini terjadi di Amerika itu sudah triliunan. Hukum kita ada kerugian materiil dan immaterial," kata Hotman Paris dalam tayangan Hotroom Metro TV.
Penasaran, Hotman pun bertanya ke keluarga korban, Siti Mauliah.
Yakni berapa ganti rugi yang mereka minta ke pihak RS Sentosa.
"Saya pengin tahu angkanya aja deh (biaya ganti rugi yang diminta keluarga korban)," tanya Hotman Paris.
"Menurut Bang Hotman, berapa nominal yang layak?" respon Rusdy Ridho.
"Kalau saya mah triliunan. Tapi di Indonesia jangan harap begitu. Nilai kemanusiaan di Indonesia enggak setinggi di luar negeri sana, makanya semua orang pakai asuransi," ujar Hotman Paris.
"Mungkin (pihak korban mengajukan gugatan) triliunan juga (ke RS Sentosa)," imbuh Rusdy Ridho.
Terpisah, Juru bicara RS Sentosa Gregorius B Djako mengatakan untuk saat ini masih berdiskusi dengan pihak keluarga.
Greg enggan membocorkan biaya ganti rugi yang diminta oleh keluarga berapa nominalnya.
"Kalau soal menawarkan ganti rugi, kompensasi, itu kan sedang kami diskusikan dengan mereka. Tanya juga sama mereka (korban bayi tertukar), mereka menawarkan kompensasi berapa," imbuh Greg melansi dari Tribunnewsbogor.com, Kamis (31/8/2023)
Menurut Greg, pihak korban harusnya meminta kompensasi yang masuk akal dan logis, yakni dengan tidak memberatkan pihak rumah sakit.
"Bukan mengajukan penawaran, rumah sakit itu menanyakan kira-kira kompensasi yang diberikan rumah sakit itu berapa, mereka pasti harus menyebut sejumlah angka dong yang logis, masuk akal dan tidak memberatkan rumah sakit dan pihak keluarga juga, baru rumah sakit kan kemampuan rumah sakit segini," ungkap Greg.
Lagipula diakui Greg, RS Sentosa adalah rumah sakit tipe C.
"Kalau saya menawarkan kan kesannya, rumah sakit enggak menawarkan, rumah sakit menawarkan Restorative justice. Rumah sakit ini tipe c di kampung, bukan rumah sakit kaya raya," imbuh Greg.
Siapa Sebenarnya Sosok Margareth Kurnia?
Margareth Kurnia muncul di kasus ini setelah hasil tes DNA terhadap dua ibu bayi tertukar keluar.
Margaretha yang menjabat Direktur RS Sentosa saat itu langsung meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan.
"Terjadi karena karena ada ketidakhati-hatian dalam petugas kami melaksanakan prosedur yang sudah ada," kata Margaretha.
Ia mengaku menyesali perbuatan perawat tersebut.
"Kami sangat menyesali, saya sebagai pimpinan juga sedih hal ini terjadi di rumah sakit pada kedua ibu," katanya.
Sosok Margaretha selama ini belum banyak dikenal masyarakat.
Berbeda dengan sosok Komisaris Utama RS Sentosa dr Frits Max Rumintjap.
Dilansir dari Kompas.com, Frits Max Rumintjap sendiri merupakan seorang dokter spesialis kandungan yang juga merupakan mantan dokter militer di TNI AU dengan pangkat terakhir kolonel.
Saat masih berdinas di TNI AU, Frits Max Rumintjap sempat menjabat sebagai Kepala RS TNI AU Atang Sanjaya Bogor.
Setelah itu, dr Frits yang mendirikan RS Sentosa pada tanggal 11 Agustus 2007 di bawah naungan Yayasan Sentosa.
Pada awalnya, fasilitas kesehatan ini masih berupa rumah bersalin.
Dalam perkembangannya, tepatnya pada tahun 2011 klinik bersalin ini berkembang menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sentosa pada tahun 2011 dengan akreditasi C dari Kementerian Kesehatan.
Karena perubahan status ini pula, status legalitas Yayasan Sentosa juga ikut berubah menjadi PT Pelita Medika Sentosa.
Tak puas hanya berstatus RSIA, PT Pelita Medika Sentosa kemudian terus melakukan pengembangan untuk menjadi Rumah Sakit Umum (RS) Sentosa yang bertahan hingga saat ini.
Sosok di balik PT Pelita Medika Sentosa ini adalah dr Frits Max Rumintjap.
(*/Tribun-Medan.com)
Update berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
Artikel ini telah tayang di Bangkapos.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Rumah-Sakit-Sentosa-Bogor-kena-skakmat-Hotman-Paris-soal-kasus-bayi-tertukar.jpg)