Bayi Tertukar

Ogah Disalahkan Soal Bayi Tertukar di Bogor, RS Sentosa Ungkit Biaya Tes DNA hingga Sebut Niat Baik

Ogah disalahkan soal bayi tertukar di Bogor, Rumah Sakit Sentosa Bogor ungkit biaya tes DNA.

Tayang:
HO
KASUS BAYI TERTUKAR Pemilik RS Sentosa Bogor menjadi sorotan. Sosok di balik PT Pelita Medika Sentosa adalah dr Frits Max Rumintjap. Saat ini, ia menjabat sebagai Komisaris Utama RS Sentosa. Frits Max Rumintjap sendiri merupakan seorang dokter spesialis kandungan yang juga merupakan mantan dokter militer di TNI AU dengan pangkat terakhir Kolonel. Saat masih berdinas di TNI AU, Frits Max Rumintjap sempat menjabat sebagai Kepala RS TNI AU Atang Sanjaya Bogor. (HO) 

Rumah sakit yang menginisiasi semuanya, tes DNA rumah sakit, termasuk yang membiayai," tuturnya,

Beberapa upaya yang dilakukan oleh rumah sakit juga menjadi pertimbangan bagi pihak keluarga.

Kasus bayi tertukar bikin heboh. Bayi ini tertukal lebih setahun setelah melahirkan di rumah sakit. 
Kasus bayi tertukar bikin heboh. Bayi ini tertukal lebih setahun setelah melahirkan di rumah sakit.  (HO)


Apalagi, dalam hal ini pihak rumah sakit pun mengakui bahwa tertukarnya bayi tersebut adalah human eror.

"Jadi itu harus diliat sebagai niat baik rumah sakit.

Jangan juga menempatkan rumah sakit ini seolah-olah penjahat," tukasnya.

Baca juga: Rekaman CCTV saat Kapolres Dairi Cekcok dengan Anggota Hingga Diduga Lakukan Penganiayaan

Baca juga: KISAH Bocah Cilik 5 Tahun Sudah Taklukan 39 Puncak Gunung, Candu Saat Daki Gunung Sikunir

RS Sentosa Makin Sepi

Buntut kasus bayi tertukar, pasien Rumah Sakit Sentosa Bogor semakin anjlok.

Pasca kasus bayi tertukar viral hingga menghebohkan publik, kondisi Rumah Sakit Sentosa Bogor mulai memprihatinkan.

Dimana disampaikan oleh Juru Bicara Rumah Sakit Sentosa, Gregg Djako, dampak dari viralnya kasus bayi tertukar, pasien yang datang berkunjung drastis.

Hal itu lantaran kepercayaan masyarakat kepada RS Sentosa Bogor mulai menghilang.

Warga sekan-akan kehilangan kepercayaan atas RS Sentosa Bogor.

"Jelas dampaknya sangat dirasakan, pasien menurun jauh," kata Gregg Djako dikutip Tribun-Medan.com, Senin (28/8/2023).

Dia mengatakan karena kasus ini ada sanksi sosial yang harus diterima pihaknya.

Padahal kata dia di rumah sakit tersebut ada 300 lebih karyawan yang juga perlu menjadi perhatian semua pihak.

"Kita harus akui ada 300 lebih karyawan yang bekerja di dalamnya, menggantungkan hidupnya di situ bersama keluarganya," kata Gregg Djako.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved