Jembatan Aek Tano Ponggol
Menunggu 110 Tahun, Wajah Baru Jembatan Aek Tano Ponggol Samosir setelah Diresmikan Presiden Jokowi
Akhirnya, setelah menanti 110 tahun lamanya, jembatan Aek Tano Ponggol kini memiliki wajah baru. Presiden Jokowi meresmikan jembatan ini.
TRIBUN-MEDAN.com - Akhirnya, setelah menanti 110 tahun lamanya, jembatan Aek Tano Ponggol kini memiliki wajah baru.
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan jembatan Aek Tano Ponggol, Samosir, Jumat (25/8/2023).
Diketahui, Jembatan Aek Tano Ponggol ini menghubungkan Pulau Sumatera dengan Samosir yang panjangnya 294 meter dengan bentang utama 9 meter dan lebar 8 meter.
Pembangunan jembatan ini menghabiskan anggaran sebesar Rp 157 miliar.
"Ini panjang bentangannya 294 meter dan bentang utama 99 meter dan lebarnya delapan meter," kata Jokowi seperti disadur Tribun Medan dari YouTube Sekretariat Presiden.
Sejarah Jembatan Aek Tano Ponggol, Dibangun Ratu Wilhelmina, Akses Darat Tunggal ke Pulau Samosir
Jembatan Tano Ponggol Dalihan Natolu merupakan kawasan penghubung antara daratan Sumatera dengan Pulau Samosir.
Sehingga, jembatan tersebut kerap disebut sebagai kanal di Kecamatan Pangururan, Samosir.
Jembatan ini dibangun pada sekitar tahun 1907 oleh pemerintah Kolonial Belanda yang menjadi ikon Pulau Samosir.
Disebutkan, kanal ini selesai dan diresmikan pada tahun 1913 oleh Ratu Wilhelmina dan bahkan sempat dijuluki Terusan Wilhelmina.
Tanah yang dikeruk bertujuan agar air Danau Toba yang berasal dari pesisir Silalahi dapat melewati Pangururan dan sebaliknya, sehingga kapal-kapal dapat mengelilingi danau Toba.
Air danau yang mengalir melalui kanal Tano Ponggol disebut sebagai Aek Tano Ponggol, sedangkan jembatan yang dibangun di atas kanal untuk memudahkan transportasi darat dari pulau Sumatra ke pulau Samosir disebut Jembatan Tano Ponggol Dalihan Natolu.
Dibangun dari Kerja Paksa
Konon sebelum masa penjajahan Hindia Belanda Pulau Samosir menyatu dengan Sumatera dan pada masanya belum ada kata pulau tetapi hanya Samosir.
Sekitar Tahun 1900-an, waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda termasuk Samosir, dan pada saat itu yang berkuasa di Pemerintahan Hindia Belanda adalah Ratu Willhelmina (pengakuan orang tua dulu yang ikut kerja paksa menggali Tano Ponggol).
Sekitar 1905 Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan kepada Tentara Belanda yang ada di Sumatera Utara, untuk melakukan kerja paksa menggali tanah sepanjang 1,5 km dari ujung lokasi Tajur sampai dengan Sitanggang Bau seperti Tribun Medan kutip dari Gobatak.
Kerja paksa atau rodi (istilah lokal) sangat menyedihkan. Bekerja dengan tanpa gaji, dijaga ketat dan dengan ancaman senjata api yang diarahkan ke para pekerja.
Kurang lebih 3 tahun rodi, Danau Toba sebelah Utara dan sebelah Selatan akhirnya tersambung dan tidak ada lagi daratan yang menghubungkan Samosir dengan Sumatera.
Maka muncullah kata sebutan baru yaitu (1) hasil kerja rodi disebut Tano Ponggol dan (2) Samosir menjadi Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba, dihubungkan jembatan dengan pulau Sumatera dinamakan Jembatan Tano Ponggol.
Dalam sebuah tulisan di pusukbuhit.com, dikatakan bahwa Tano Ponggol diresmikan pada tahun 1913 oleh Kerajaan Belanda oleh Ratu Willhelmina, dan Tano Ponggol disebut Terusan Willhelmina. Demikian pengakuan kakek dari penulis tulisan tersebut, yang ikut dalam kerja rodi pada saat itu. Namun demikian, kebenarannya masih perlu ditelusuri lebih dalam lagi.
Sejak kemerdekaan hingga tahun 1980-an, Tano Ponggol adalah tempat yang popular sebagai tempat transit perdagangan hasil bumi dari Samosir seperti bawang, kacang (hasil utama saat itu) dengan tujuan kota dagang kecil yaitu Haranggaol setiap hari Senin dan Tigaras setiap hari Jumat, dengan kendaraan danau (seperti kapal/solu-solu penumpang Tomok – Ajibata sekarang). Lalu lalangnya kapal melalui Tano Ponggol juga dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berdagang Jagung Bakar.
Kerap Dijadikan Tempat Swafoto
Hingga saat ini, Jembatan Tano Ponggol kerap dijadikan sebagai tempat berswafoto yang tentunya punya nilai sejarah bagi masyarakat sekitar.
Hingga saat ini, pihak Pemerintah Kabupaten Samosir masih menunggu kapan dibukanya Jembatan Tano Ponggol untuk dilintasi para pengunjung atau masyarakat sekitar Samosir.
Kadispar Samosir Tetty Naibaho mengutarakan, jembatan tersebut digunakan masyarakat sekitar atau pengunjung hanya untuk berswafoto.
"Hanya untuk foto-foto, belum untuk dilintasi mobil," ujar Kadispar Samosir Tetty Naibaho, Minggu (19/2/2023).
"(Pembukaan untuk umum) kemungkinan tanggal 26 Februari atau awal Maret," sambungnya.
Selanjutnya, pihaknya masih menunggu arahan dari pihak PUPR.
"Kita menunggu arahan kementerian PUPR," terangnya.
Jokowi Juga Resmikan SPAM
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Medan-Binjai-Deliserdang (Mebidang) berkapasitas 1.100 liter/detik secara resmi beroperasi.
SPAM ini mampu memenuhi kebutuhan 88.000 rumah tangga di Mebidang, atau sekitar 440.000 jiwa
Peresmian SPAM Mebidang ini dilakukan langsung Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi). Selanjutnya Pemprov Sumut, serta pemerintah Mebidang akan menyalurkannya ke masyarakat.
"Ini sinergi pusat dan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan air, Pemprov Sumut menyediakan lahan dan akan menyalurkannya ke masyarakat kita," kata Edy Rahmayadi usai peresmian SPAM Regional Mebidang, Jalan Sibayak, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, Jumat (25/8/2023).
Diketahui, kebutuhan air bersih untuk Mebidang sekitar 11.000 liter/detik, namun selama ini baru hanya terpenuhi sekitar 7.440 liter/detik.
Dengan diresmikannya SPAM baru di Binjai tersebut, maka kebutuhan air yang sudah terpenuhi menjadi 8.540 liter/detik, sehingga defisit air bersih pun semakin berkurang, menjadi sekitar 2.460 liter/detik.
"Dengan diresmikannya SPAM baru di Binjai ini, kita harapkan dapat menambah pasokan air bersih ke masyarakat, khususnya Mebidang. Karena, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi,” kata Edy Rahmayadi.
Dalam pidatonya, Presiden RI Joko Widodo menyampaikan betapa pentingnya air bersih di masyarakat. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan tersebut.
"Setelah kemarin Saya datang ke Afrika, kita sering tidak merasa betapa penting air karena tidak pernah kekurangan air, Alhamdulillah hari ini telah selesai SPAM Mebidang yang menelan anggaran Rp948 miliar," kata Joko Widodo.
Ini salah satu bentuk kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, menurut Joko Widodo. Sehingga pembangunan SPAM Mebidang bisa berjalan dengan baik.
"Ini kerja sama pusat, provinsi dan kota/kabupaten, tanahnya tanah provinsi, kalau kerja samanya baik, pembangunan akan berjalan cepat," kata Joko Widodo.
(dok/tribun-medan.com)
Update berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Wajah-baru-Jembatan-Aek-Tano-Ponggol_.jpg)