Jokowi Nekat Coba LRT yang Salah Design : Nyaman, Tapi Gak Usah Buru-buru Dioperasikan
Presiden Joko Widodo nekat mencoba kembali light rail transit (LRT) di tengah isunya yang salah design. Saat menaikinya, Jokowi menegaskan bahwa LRT t
Imbasnya, biaya yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi.
Tiko, sapaan akrabnya, menyebut kesalahan kordinasi antara pihak yang menggarap proyek sering kali terjadi di Indonesia.
Oleh sebab itu, ini menjadi tantangan yang harus diperbaiki ke depannya.
Baca juga: PT LRT Jakarta Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Diutamakan Lulusan Hukum dan Manajemen
Baca juga: INILAH Penyebab LRT Jakarta Bertabrakan, Direktur Salahkan Masinis yang Bertugas
"Karena pra-sarananya waktu dibangun tidak ngobrol dengan spek sarananya. Di Indonesia banyak terjadi begini. Tapi ya itulah, bagian dari belajar, ini harus kita beresin satu-satu," kata Tiko dikutip pada Rabu (2/8/2023). Sebagai informasi saja, pengerjaan fisik dan prasarana LRT Jabodebek melibatkan empat kontraktor utama yang terdiri dari 3 BUMN dan 1 perusahaan asing.
Keempat perusahaan tersebut antara lain PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebagai kontraktor pembangunan lintasan rel, stasiun, serta sarana pendukungnya, lalu PT Inka (Persero) sebagai produsen trainset kereta ringan.
Sementara untuk perancang software development digarap oleh perusahaan asal Jerman Siemens.
Terakhir untuk infrastruktur persinyalan dikerjakan oleh PT Len Industri (Persero).
Namun dari banyaknya komponen yang terlibat dalam proyek, sambung Tiko, tidak ada integrator atau penghubung antar-keempat pihak tersebut. Alhasil, setiap komponen bekerja masing-masing tanpa sistem integrator.
"Di semua proyek besar itu ada sistem integrator, tapi ini enggak ada. Jadi semua komponen proyek itu berjalan liar tanpa ada integrator di tengah," ucapnya.
Jembatan salah desain Masalah lain yang timbul dalam proyek tersebut, adalah soal jembatan bentang lengkung atau longspan yang dibangun di Kuningan.
Versi Kementerian BUMN, bentuk longspan ini belakangan disebut-sebut salah desain.
Longspan tersebut merupakan lintasan bagi LRT yang datang dari arah Timur atau sepanjang Jalan Gatot Subroto yang menuju ke arah Jalan Rasuna Said, atau sebaliknya.
"Kalau lihat longspan dari Gatot Subroto ke Kuningan kan ada jembatan besar, itu sebenarnya salah desain," beber Tiko. Ia mengaku tak habis pikir dengan kontraktor yang membangun lintasan tersebut, PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Ini karena BUMN karya tersebut tidak melakukan semacam simulasi terkait tingkat kemiringan dan kecepatan LRT saat proses perencanaan.
Pembangunan lengkungan LRT tersebut memang banyak diapresiasi karena dibangunan dengan presisi yang sangat tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Presiden-Joko-Widodo-nekat-mencoba-kembali-light-rail-transit-LRT-di-tengah.jpg)