News Video
Kemarau Panjang di Karo, Produksi Tanaman Jagung Terbesar di Sumut Terancam Gagal Panen
Akibat dampak dari musim kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Karo, saat ini sudah mulai terdampak ke sejumlah pertanian masyarakat.
Penulis: Muhammad Nasrul |
TRIBUN-MEDAN.com, KARO - Akibat dampak dari musim kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Karo, saat ini sudah mulai terdampak ke sejumlah pertanian masyarakat. Salah satu jenis tanaman yang saat ini sangat terancam perkembangannya ialah, tanaman jagung. Padahal, Kabupaten Karo merupakan penghasil tanaman jagung terbesar di Sumatera Utara dengan persentase 39 persen.
Diketahui, untuk lahan pertanian jagung yang ada di Kabupaten Karo tersebar di beberapa wilayah. Seperti di Kecamatan Munte, Kecamatan Tigabinanga, Kecamatan Juhar, Kecamatan Kutabuluh, Kecamatan Mardinding, hingga Kecamatan Laubaleng.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo Ir Matehsa KK Purba, memang dari satu bulan terakhir curah hujan di Kabupaten Karo sudah sangat minim. Hal ini membuat tanaman jagung di Kabupaten Karo, sudah cukup terdampak dimana pasokan air sudah sangat kurang untuk perkembangan tanaman jagung.
"Memang dari laporan yang kita dapat, kemarau ini sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Ini sudah cukup berdampak ke perkembangan jagung. Nah ini yang ditakutkan, kalau kondisi ini berlanjut akan membawa dampak yang semakin parah," Ujar Matehsa, Rabu (21/6/2023).
Amatan www.tribun-medan.com, di salah satu lahan pertanian jagung yang ada di kawasan Kecamatan Mardinding, kondisinya tampak cukup mengenaskan. Terlihat, daun-daun pada bagian batangnya tampak sudah menguning dan mengering akibat kekurangan air. Selain itu, berdasarkan penjelasan dari Matehsa salah satu ciri yang dapat dilihat jika tanaman jagung kekurangan air, pada bagian daunnya menggulung ke sisi kiri dan kanan.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo, untuk total lahan pertanian jagung hingga bulan Mei 2023 seluas 56.128 hektar. Dengan rincian, Kecamatan Munte seluas 7.825 hektar, Kecamatan Kutabuluh 5.325 hektar, Kecamatan Tigabinanga 12.102 hektar. Kecama Laubaleng seluas 9.946 hektar, Kecamatan Mardingding seluas 11.605 hektar, dan Kecamatan Juhar seluas 3.727 hektar.
"Dari total lahan jagung yang ada, hampir semuanya terdampak kemarau panjang ini," Ungkapnya.
Dijelaskan Matehsa, akibat dari kondisi ini akan berdampak buruk pada perkembangan jagung terutama ditakutkan akan gagal berproduksi. Dirinya mengatakan, jika tanaman jagung masih masa penyerbukan akan membuat gagal untuk tumbuh.
"Karena kemarau yang cukup panjang ini, bisa membuat gagal penyerbukan," Katanya.
Selain itu, jika tanaman sedang memasuki masa penumbuhan biji maka nantinya hasilnya juga tidak akan maksimal. Akibatnya, nantinya akan membuat biji tidak tumbuh secara menyeluruh dan membuat berat dari hasil panen akan menurun.
"Tentunya beratnya nanti akan berbeda antara yang sedang musim kemarau, dengan saat musim hujan," Ucapnya.
Lebih lanjut, Matehsa menjelaskan dari kondisi ini langkah yang bisa dilakukan dengan cara melakukan pipanisasi untuk mengalirkan air ke lahan pertanian. Namun, memang di beberapa wilayah sumber airnya cukup jauh sehingga menyulitkan para petani untuk mengalirkan air secara manual.
(mns/tribun-medan.com)