Irigasi Sawah

Irigasi Sawah Rusak Dibiarkan Dinas Pertanian, Petani Merana Terpaksa Beralih Tanam Jagung

Selama bertahun-tahun Dinas Pertanian biarkan irigasi sawah petani rusak. Sudah dilapor tapi tidak digubris

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
HO
Kondisi irigasi yang pecah di Kecamatan Siantar Marimbun memaksa petani beralih tanaman dari sawah ke komoditi jagung, Rabu (10/5/2023)  

TRIBUN-MEDAN.COM,SIANTAR- Lima tahun lamanya para petani yang ada di Kelurahan Nagahuta, Kecamatan Siantar Marimbun, Kota Siantar terpaksa beralih profesi dari penanam sawah menjadi penanam jagung.

Tak sekali mereka mengadukan hal ini ke Dinas Pertanian Kota Siantar

Plt Kepala Dinas Pertanian Kotab Siantar, Pardamean Manurung mengakui masalah yang dihadapi para petani ini sudah menahun dikeluhkan.

Ia sendiri sudah menyampaikan hal ini ke Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, untuk diperhatikan. 

Baca juga: Apes Pria Ini, Semangat Rayakan Perceraian Malah Jatuh saat Bungee Jumping, Leher & Pinggang Patah

Namun, hingga kini, saluran irigasi yang merupakan aset bangunan Dinas Pertanian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, belum juga ada tanda-tanda diperbaiki. 

“Sudah kita sampaikan ini ke Dinas Pertanian Provinsi untuk diperbaiki. Sudah beberapa kali, tapi belum ada update-nya,” kata Pardamean, Rabu (10/5/2023).

Mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Pematang Siantar ini mengatakan, sejak rusak lima tahun yang lalu, para petani terpaksa menanam jagung kendati secara pribadi mereka masih ingin bertani sawah. 

“Itu saluran irigasinya kan mengalir dari arah Kabupaten Simalungun. Seharusnya debit air masuk ke sawah petani masyarakat Siantar. Tapi karena pecah, airnya tak masuk sesuai debit yang dibutuhkan petani kita,” kata pria akrab disapa Mean tersebut. 

Baca juga: MOTIF Husen Mutilasi Irwan Hutagalung dan Mayatnya Dicor, Pelaku Ternyata Karyawan Korban

Secara detail, jelas Mean, dalam tempo lima tahun belakangan total luas lahan yang beralih persawahan ke komoditi jagung sebesar 63 hektare. Kota Siantar kehilangan berton-ton sumber tanaman penghasil beras. 

“Ada tiga Kelompok Tani binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Pematang Siantar di situ. Kelompok Tani Sejahtera Tani, Kelompok Tani Tani Gabe, dan Kelompok Tani Tu Ulina. Totalnya 63 hektare,” jelas Mean.

Baca juga: PREMAN SOK JAGO Ngaku SPSI, Minta Uang ke Sopir untuk Lancarkan Bongkar Muat

Mean mengatakan, proposal perbaikan akan ia sampaikan langsung dan beraudiensi dengan Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara untuk mendapat kepastian waktu perbaikan. 

"Misalnya seharusnya air ini mengalir 10 meter kubik/detik baru kita anggap normal dan bisa mengairi persawahan. Tetapi akibat kerusakan ini, debitnya jauh lebih rendah. Aliran air tidak berlanjut ke persawahan petani Siantar," pungkasnya.(alj/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved