Tribun Wiki
Sejarah Gedung Warenhuis di Kesawan Kota Medan, Supermarket Pertama Masa Kolonial Belanda
Tahukah kamu? Gedung Warenhuis dulunya merupakan supermarket pertama di Kota Medan yang dibangun masa kolonial Belanda.
TRIBUN-MEDAN.com - Sejarah gedung Warenhuis Kota Medan memiliki kisah dari masa kolonial belanda.
Bagaimana kisahnya? Simak artikel ini yang dirangkum dari berbagai sumber dan refrensi.
Gedung Warenhuis dulunya merupakan supermarket pertama di Kota Medan yang dibangun masa kolonial Belanda.
Gedung ini memiliki dua lantai, pilar-pilar kokoh yang berada di Jalan Jalan Hindu, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.
Pada dinding gedung yang catnya sudah kusam terdapat tulisan: mulai dibangun pada 1916 oleh arsitek berkebangsaan Jerman G Bos dan diresmikan pada 1919 oleh Wali Kota Medan pertama Daniel Baron Mackay.
Namun, gedung dengan status milik Pemerintah Kota Medan ini belum diketahui pasti siapa pemilik aslinya.
Selain milik pemerintah setempat, gedung yang sudah berusia lebih dari 103 tahun itu telah menjadi cagar budaya.
Sekretaris Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik pernah mengatakan, bangunan seluas 15 x 30 meter ini memiliki bungker untuk tempat menyimpan barang dagangan.
Supermarket ini menjual berbagai jenis barang, mulai makanan, pakaian, hingga produk elektronik.
Menjadi saksi dan bukti kalau sistem perdagangan di Kota Medan sudah maju sejak lama.
Gedung ini pernah ditinggal, ditelantarkan, terbakar, lalu jadi rebutan.
Namun hanya bertahan sampai 23 tahun, tutup begitu Jepang masuk ke Kota Medan.
Sang pemilik, sekira tahun 1942 memilih pulang ke negara asalnya, Belanda karena kondisi Kota Medan yang mulai tidak kondusif.
Sejak ditinggalkan, gedung kokoh itu sempat menjadi kantor departemen tenaga kerja.
Setelah itu dibiarkan terlantar dimakan usia dan belukar, lalu terbakar pada 2013.
Pascakebakaran 2013, beberapa warga yang sehari-hari berjualan menjadikannya tempat tinggal hingga saat ini.
Kemudian, organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) juga menjadikan gedung dingin dan megah ini sebagai sekretariatnya.
Alhasil, dinding buramnya menjadi gantungan plank nama organisasi dan spanduk parpol.
Keberadaan bangunan bersejarah Warenhuis di Kota Medan menjadi sebentuk kajian preservasi terhadap keberadaan bangunan bersejarah di Kota Medan, yang tidak hanya sebagai tinggalan masa lalu semata melainkan juga sebagai simbol keterkaitan sejarah antar masa dan juga sebagai bagian kekayaan arsitektural Kota Medan yang beragam.
Awal mula gedung dibangun, gedung ini berfungsi sebagai kamar dagang Belanda, lalu beralih fungsi sebagai gedung opera dan setelah Indonesia merdeka gedung ini menjadi gedung perkantoran.
Bangunan berukuran sekitar 15 x 30 meter itu memiliki bungker sebagai area menyimpan barang dagangan (gudang) sebelum disajikan kepada pembeli.
Supermarket ini menjual berbagai jenis barang, mulai makanan, pakaian, hingga produk elektronik.
Dulunya hanya orang-orang kaya pribumi, bangsawan, Eropa dan Cina yang dapat berbelanja di toserba ini.
Gedung ini bisa menjadi saksi dan bukti kalau sistem perdagangan di Kota Medan sudah maju sejak lama.
Fungsi Warenhuis Pada Masa Hindia Belanda
Sejak 1918, Medan pun menjadi sebuah kota tempat bertemunya pemilik modal dan pengguna modal, dari hampir seluruh bangsa di dunia dan suku di Indonesia.
Berbagai elemen yang ada pun memainkan perannya secara maksimal pada bentuk wujud baru tanah Deli ini.
Bangsa Arab, Punjab dan Tionghoa contohnya, mereka secara harmonis memajukan perekonomian Medan dengan keahlian dagang yang mereka miliki.
Beberapa golongan Tionghoa juga tercatat menjadi ahli dalam bidang perkayuan di kota baru ini.
Suku Jawa, etnis Tamil dan beberapa golongan Tionghoa menjadi motor dalam memajukan usaha perkebunan di kota Meda sebagai buruh.
Semua elemen ini melebur menjadi satu kesatuan dengan identitas baru yakni 'orang Medan'.
Perkembangan sebuah kota dari sisi ekonomi juga menciptakan spot spot baru sebagai wujud urban.
Esplanade (Lapangan Merdeka) sebagai sebuah tempat terbuka umum menjadi sarana hiburan terbuka bagi orang Medan, untuk sarana hiburan lainnya seperti toko toko yang menjajakan barang barang baik dari kebutuhan primer, sekunder hingga tersier pun mulai banyak dibuka dibarat daya Esplanade.
Daerah yang dikenal dengan nama Kesawan menjadi deretan pertokoan dan juga tempat bersosialisasi bagi sesama orang Medan.
Tidak ada perbedaan warna kulit maupun bangsa di daerah ini, karena daerah ini hanya melihat seberapa banyak modal yang dimiliki untuk berbelanja atau bahkan sekedar untuk membayar secangkir kopi Jawa yang dahulu sangat terkenal.
Gedung di Sekitaran Warenhuis
Diantara banyak nya gedung dengan kekayaan seni arsitek di seputaran Kesawan ini ada satu bangunan yang mungkin luput atau bahkan tidak diketahui sama sekali sejarahnya oleh 'orang Medan' itu sendiri saat ini meskipun seringkali bangunan ini dilewati atau bahkan menjadi objek poto maupun video.
Medan Warenhuis atau secara kata per kata dapat kita sebut 'Pusat Pertokoan' yang jika kita konversi pada saat ini menjadi Mall atau Plaza adalah sebuah bangunan yang berada di persimpangan jalan Ahmad Yani (Huttenbachstraat) dan jalan Hindu (Hindoestraat).
Bangunan ini adalah pusat pertokoan terbesar dan pertama di Sumatra saat itu, ketika Singapura belum menjadi sebuah destinasi perbelanjaan bagi kaum sosialita.
Warenhuis menjadi tempat bagi kalangan bermodal untuk memuaskan hasrat belanjanya tentunya sesuai dengan banyaknya duit yang mereka miliki.
Letak bangunan ini mungkin jika dilihat dari perkembangan yang ada di sepanjang jalan Kesawan dapat dikatakan agak ganjil karena diposisikan agak tersembunyi di balik bangunan besar lainnya seperti gedung Lonsum (London Sumatra).
Tetapi jika kita lihat dari segi usaha jual belinya mungkin posisi yang diambil gedung Warenhuis ini sudah sangat tepat berada tepat di pinggiran sungai Deli.
Dianggap tepatnya pemilihan posisi bangunan karena moda transportasi sungai saat itu masih menjadi bagian penting selain moda transportasi darat seperti kereta api yang disuahakan oleh pihak DSM (Deli Spooweg Maatschapij).
Keindahan Arsitektur WarenHuis
Bangunan Warenhuis ini jika kita lihat baik baik sangat kaya akan inspirasi seni pada bidang arsitektur, fascade gedung berbentuk huruf 'L' ini sangat sarat dengan gaya klasik eropa.
Selain itu pada kedua menara yang juga difungsikan sebagai entrance jalur masuk dapat kita lihat bentuk gaya artdeco pada puncaknya.
Pada beberapa jendela di bagian atas kita juga dapat melihat jendela kaca dengan tekhnik patri, sebuah tekhnik yang pada saat itu sangat dikagumi, bentuk seperti ini dapat juga kita lihat pada koridor mesjid raya Medan dan beberapa bangunan besar peninggalan Belanda lainnya di kota Medan.
Jika kita memasuki bangunan dari sisi utara kita langsung akan disambut oleh altar tangga kayu menuju lantai dua dengan pola sederhana tetapi tidak kehilangan kesan kemegahan eropa nya, lalu berjalan di lantai dua kita juga akan disajikan deretan pintu pintu (sudah tidak sempurna lagi) pertokoan yang berdiri secara mandiri antara satu toko dengan toko lainnya.
Dari lantai dua jika memandang kebawah kita akan melihat area luas di tengah bangunan mungkin juga dahulu dijadikan tempat berjual beli seperti yang sering kita jumpai pada pusat pusat perbelanjaan saat ini dengan menggunakan steling steling kecil, melihat keatas kita akan lebih terkagum melihat plafon bangunan ini terhampar luas penuh dengan sisa sisa kaca patri, betapa indahnya plafon ini dimasanya ketika masih utuh.
Kesan penuh akan bangunan adalah sebuah kejayaan peradaban orang Medan di tanahnya yang subur menjadi pusat penanaman modal asing ketika itu, gedung yang dahulunya muncul dengan warna putih ditambah pilar pilar marmernya menambah kesempurnaan kejayaan orang Medan saat itu menikmati hasil tanahnya sendiri.
Perkembangan zaman yang pesat membuat cagar budaya menjadi sumber daya budaya yang memiliki sifat rapuh, unik, langka terbatas, dan tidak terbarukan.
Dalam konteks menjaga cagar budaya dari ancaman pembangunan fisik, baik di wilayah perkotaan, pedesaan, maupun yang berada di lingkungan air, diperlukan pengaturan untuk menjamin eksistensinya.
Pengaturan mengenai perlindungan bangunan bersejarah berdasarkan perundang-undangan meliputi aktifitas pembongkaran ataupun pelanggaran terhadap bangunan bersejarah.
(*/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/24112020_bangunan_bersejarah_terbengkalai_danil_siregar-4.jpg)