Lestarikan Bahasa Daerah dengan Cara Milenial, Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu
Pada bulan September yang lalu, ke-251 guru utama ini telah mendapat pelatihan intensif dalam bentuk Traning of Trainer (ToT)
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat provinsi Sumatra Utara yang digelar oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Sumatra Utara (BBSU) akan berlangsung selama empat hari yakni 8 - 11 November 2022, di Le Polonia Hotel, Medan.
Festival ini merupakan implementasi kebijakan Merdeka Belajar episode ke-17 ‘Revitalisasi Bahasa Daerah’ yang sudah diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, tanggal 22 Februari yang lalu di Jakarta. Tujuannya adalah agar penggunaan bahasa daerah terus meningkat dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Utara, Hidayat Widyanto, menjelaskan bahwa kegiatan revitalisasi di Provinsi Sumatra Utara telah melibatkan 251 guru utama atau disebut juga guru master.
Pada bulan September yang lalu, ke-251 guru utama ini telah mendapat pelatihan intensif dalam bentuk Traning of Trainer (ToT) oleh instruktur selama kurang lebih seminggu.
"Para guru utama yang dilatih, dipilih dari kabupaten-kabupaten yang bahasanya direvitalisasi. Para guru utama yang telah dilatih ini, lalu mengimbaskan pegetahuan yang didapatnya ke guru-guru sejawat. Setelah itu, guru sejawat yang telah mendapat pengimbasan dari guru utama ini, melakukan pengimbasan lagi ke siswa dalam bentuk pelatihan berbasis sekolah. Menurut data yang kami himpun, ada sejumlah 1.942 guru sejawat yang dilibatkan. Demikian juga sejumah 5.647 siswa SD dan 17.800 siswa SMP sederajat yang dilibatkan dalam pengimbasan ini," jelas Hidayat, Rabu (9/11/2022).
Baca juga: Perkuat Literasi Serta Bahasa Daerah, BBSU Bersama Masyarakat Rayakan Bulan Bahasa dan Sastra
Kemudian Hidayat mengatakan, selain guru sejawat dan siswa, kegiatan revitalisasi bahasa daerah ini juga melibatkan para pemangku kepentingan. Ada lima Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota yang mendukung revitalisasi di kabupaten/kota . Selain itu kami juga melibatkan 3 akademisi, 3 tokoh adat, 21 pakar, dan maestro budaya setempat.
"Sebelumnya FTBI sudah dilaksanakan di tingkat kabupaten. Pada prinsipnya kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat sekolah, kecamatan, lalu ke tingkat kabupaten, dan berakhir di tingkat provinsi. Kami berharap sebagian peserta terbaik di tingkat provinsi, akan dikirim ke tingkat nasional untuk mengisi kegiatan selebrasi Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang pada tanggal 21 Februari 2023, Indonesia menjadi co-host kegiatan tersebut yang dipusatkan di Jakarta dan Paris," katanya.
Ditambahkan Hidayat, ada 7 materi yang difestivalkan dalam kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu ini. Akan tetapi, semua itu tergantung kondisi kebahasaan di daerah masing-masing. Oleh karena itu, materi yang difestivalkan menyesuaikan dengan bahasa daerah masing-masing.
Ketujuh materi itu adalah membaca dan menulis aksara daerah, menulis cerita pendek, membaca dan menulis puisi (sajak), mendongeng, pidato, menyanyi atau tembang tradisi (pupuh, macapat), dan komedi tunggal (stand up comedy).
Pemprov Dukung Revitalisasi
Gubernur Sumatera Utara, Edi Rahmayadi, melalui Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara menyampaikan dukungan penuh atas kegiatan Festival Bahasa Ibu untuk menarik minat generasi muda dalam pelestarian bahasa daerah dalam menguatkan kebijakan Merdeka Belajar episode ke-17.
“Festival Tunas Bahasa Ibu perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, pemangku adat dan budaya, rohaniwan, pelaku seni, akademisi, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, pegiat literasi, praktisi, orang tua, dan tentu anak-anak sebagai tunas muda bahasa daerah, untuk mendukung revitalisasi bahasa daerah,” pungkas Sekretaris Daerah Sumatera Utara yang didaulat untuk membuka acara FTBI.
Sekretaris Badan Bahasa, Kemendikbudristek, Hafidz Muksin mengungkapkan bahwa bahasa daerah punah karena para penutur mudanya tidak lagi menggunakan bahasa tersebut.
"Festival Tunas Bahasa Ibu bukanlah tujuan utama dalam revitalisasi bahasa daerah dan bukan pula hanya sekadar euforia semata. Namun, kami berpandangan bahwa kegiatan-kegiatan berbentuk festival atau lomba mempunyai daya tarik tersendiri bagi anak-anak milenial saat ini. Oleh karena itu, kegiatan revitalisasi bahasa daerah kami ramu dalam bentuk festival atau lomba,”
Ditambahkannya, festival atau lomba ini, biasa juga disebut pasanggiri. Anak-anak zaman sekarang sangat senang dengan kegiatan yang berbentuk kompetisi karena bagi mereka persoalan kalah menang adalah hal yang biasa.
“Yang penting bagi mereka adalah kegiatan yang heboh, semarak, asyik, dan memiliki tantangan,” tutur Hafidz.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Bahasa-Daerah-Milenial.jpg)