Update Penembakan Brigadir J
Arist Merdeka Sirait Geram Anak Jadi Tameng PC, Sentil LPAI: Kak Seto Salah dan Mengada-ngada
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait terus buka suara dan ikut mengkritik beberapa kejanggalan dalam kasus Ferdy Sambo.
TRIBUN-MEDAN.com - Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait terus buka suara dan ikut mengkritik beberapa kejanggalan dalam kasus Ferdy Sambo.
Bahkan, Arist Merdeka Sirait juga memantau pergerakan dari Kak Seto sang sahabat anak yang getol ingin melindungi anak-anak Ferdy Sambo.
Di tengah kasus yang kian bergulir ini, memang anak-anak Ferdy Sambo dan Putri Chandrawati turut menjadi sorotan.
Tak sedikit yang mengkhawatirkan nasib keempat anak Ferdy Sambo, yang ditakutkan akan menjadi korban perundungan.
Oleh sebab itu, Kak Seto selaku ketua LPAI, ingin melindungi anak Sambo dan Putri dari tekanan yang ada.
Namun, langkah Kak Seto itu dinilai ‘Lebay’ oleh Arist Merdeka Sirait. Sebab keluarga Sambo dan Putri bukanlah berasal dari golongan tak mampu.
Hal itu sudah banyak disampaikan Arist di berbagai kesempatan.
Namun baru-baru ini, ketua Komnas PA itu kembali menyuarakan hal tersebut melalui kanal YouTube podcast Uya Kuya.
Baca juga: Arist Merdeka Sirait dan Deolipa Yumara Sindir Telak Kak Seto, Ingatkan Jangan Pencitraan
Baca juga: RESPON Komnas PA Diminta Ganti Pihak Doddy Sudrajat, Arist Merdeka Balas Menohok
Mulanya, Arist Merdeka Sirait menjelaskan jika semua anak berhak mendapatkan perlindungan, tanpa terkecuali.
“Setiap anak berhak mendapat perlindungan dari eksploitasi, baik itu eksplotasi ekonomi, penelantaran, perudungan dan diskriminasi,” ujar Arist Merdeka Sirait dalam YouTube Uya Kuya TV, Sabtu (3/9/2022).
“Oleh sebab itu, hal itu diatur dalam undang-undang tentang perlindungan anak, bahwa ada empat pilar yang bertanggung jawab,” jelas Arist.
“Pertama orang tua, masyarakat, pemerintah dan negara, oleh sebab itu semua anak berhak dilindungi tanpa pilih-pilih,” sambungnya.
Kemudian Arist menjelaskan jika anak-anak Ferdy Sambo, memang benar tak boleh menerima perudungan.
“Berkaitan dengan anak Ferdy Sambo dan Putri Chandrawati yang katanya mengalami perundungan itu tak dibenarkan,” ujarnya.
“Tetapi strategi untuk melindungi anak itu yang dilakukan Kak Seto sebagai sahabat anak Indonesia, itu sesuai atau tidak,” sambungnya menjelaskan.
Menurut Arist, keluarga Sambo dan Putri bukan berasal dari golongan bawah dan mengalami kesulitan ekonomi.
Oleh sebab itu, keluarga mereka masih sanggup untuk melindungi keempat anak Sambo.
“Sementara masyarakat tau kalau keluarga Ferdy Sambo ini adalah keluarga yang besar, utuh, dan bisa melindungi anak,” paparnya.
“Jika itu masih ada, maka anak mereka bisa di take-over oleh keluarga, ada pamannya, tulangnya, bibinya,” jelasnya.
“Jadi strategi yang dipakai Kak Seto itu salah dan juga mengada-ngada,” ungkap Arist Merdeka Sirait.
Kemudian, Arist membandingkan adanya perlakuan yang berbeda untuk tahanan yang juga memiliki anak.
Namun tak mendapatkan perlakuan se-istimewa Putri Chandrawati.
“Nah kita juga sedang berjuang untuk mengatasi kasus Ibu yang contohnya terkena kasus ITE dan lainnya, namun tetap harus di tahan di penjara dan membawa anak,” bebernya.
“Hari ini saja, ada 48 ibu yang membawa anaknya dalam sel tahanan, itu kan enggak baik untuk perkembangan anak,” sambungnya.
Kemudian Arist Merdeka Sirait juga menyentil alasan ‘kemanusiaan’ yang membuat Putri Chandrawati tak jadi di tahan.
“Nah kalau Ferdy dan Putri ini kan ramai diperbincangkan karena alasan kemanusiaan, jadi membunuh Yosua itu demi kemanusiaan enggak?” tanya mantan aktivis itu.
“Jangan kemanusiaan kita mintak dilindungi, tapi justru melakukan kejahatan kemanusiaan kepada Yosua, dengan membunuh” tegasnya.
Kemudian, ia juga meminta jangan menjadikan anak sebagai tameng agar meringankan beban ancaman.
“Jadi menurut saya, jangan jadikan anak sebagai tameng untuk meringankan beban ancaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Uya Kuya juga penasaran apa sebenarnya motif dari Kak Seto getol membela Sambo.
“Indikasi menurut Bang Haris, sehingga Kak Seto getol membela anak Sambo itu kenapa?” tanya Uya.
Arist Merdeka Sirait pun tak menjawab dengan jawaban pasti, sebab ia merasa dirinya tak layak menjawabnya.
“Ya tentu saya pakai praduga tak bersalah,” jawab Arist Merdeka Sirait.
“Tetapi saya berhak mengatakan, jangan-jangan ini salah satu cara meringankan supaya tidak dibebankan pasal 340 dengan ancaman hukuman mati,” bebernya.
“Atau jangan jangan ada bagi-bagi uang,” timpalnya.
Lebih lanjut, Arist Merdeka juga mengajak semua pihak untuk turut memikirkan perasaan keluarga korban yaitu keluarga Brigadir J.
Jangan hanya fokus dengan Putri dan Sambo sebab mereka adalah tersangka.
Ketua Komnas PA itu juga turut mempertanyakan respon keluarga Sambo dan Putri yang hingga kini sama sekali belum bersuara.
Ia juga meminta agar kasus ini bisa selesai dan jangan didramatisir dengan adanya skenario baru.
(cr18/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ketua-Komnas-PPA-Arist-Merdeka-Sirait.jpg)