TRIBUNWIKI
Memerre Cinta Lao, Tradisi Masyarakat Suku Pakpak, Dipercaya Mengabulkan Permintaan Ibu Saat Hami
Setiap anak di etnis pakpak yang telah menjelang dewasa sebenarnya wajib menanyakan kepada ibunya ada tidaknya cinta lao tersebut.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Memerre Cinta Lao merupakan tradisi masyarakat Suku Pakpak yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.
Tradisi masyarakat Suku Pakpak ini tetap eksis hingga saat ini.
Cinta Lao merupakan perpaduan dua kata yakni cinta dan lao, Cinta artinya keinginan atau cita-cita, sedangkan lao artinya terhalang.
Baca juga: TRADISI Berburu Monza Pakaian Bekas di Tanah Karo saat Semarakkan HUT Kemerdekaan Indonesia
Dengan demikian cinta lao adalah keinginan yang terhalang atau keinginan yang tidak dapat terpenuhi.
Jadi singkatnya, upacara memerre cinta lao merupakan suatu Upacara adat Pakpak yang dilakukan oleh anak kepada ibunya untuk memenuhi keinginan yang tertunda dari ibunya ketika sedang mengandung dirinya.
Dilansir dari website Kemdikbud RI menyebutkan bahwa upacara ini sebagai bentuk penghormatan kepada sang ibu yang sudah mengandung dan melahirkan anak.
Sepeti diketahui, seorang ibu hamil mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun mental. Tidak jarang seorang ibu hamil mengidam atau menginginkan banyak hal. Namun kadang kala keinginan tersebut tidak dapat dipenuhi seluruhnya.
Pada umumnya perempuan Pakpak biasanya tidak secara terbuka mengemukakan permintaan atau kesenangannya itu, apalagi hal diingikan saat hamil diluar kemampuan. Bila hal ini tidak dipenuhi pada saat hamil maka saat si anak lahir dan menjelang dewasa, keinginan yang tidak kesampaian tersebut dinamakan Cinta Lao.
Setiap anak di etnis pakpak yang telah menjelang dewasa sebenarnya wajib menanyakan kepada ibunya ada tidaknya cinta lao tersebut.
Menurut maayarakt Pakpak, untuk mengetahui adanya cinta lao bagi seorang anak terlihat dari pengalaman-pengalaman hidup si anak dalam berbagai aspek, antara lain, bila si anak sering sakit, sering terhalang cita-cita, hasil pekerjaan tidak maksimal, susah mendapat jodoh dan mengalami banyak cobaan-cobaan hidup.
Baca juga: 4 TRADISI Upacara Adat Simalungun, Ada Untuk Membersihkan Diri dari Roh Jahat
Apabila telah diketahui bahwa memang ada cinta lao dari si ibu terhadap anaknya, maka si anak akan mengadakan suatu upacara adat dengan menyerahkan jenis cinta lao tersebut.
Untuk penyerahannya sendiri dilakukan dengan memberi makanan dengan lauk ikan simalum-malum (ikan gemuh), serta beerapa perlengkapan lainnya seperti selembar kain oles (ulos).
Penyerahan itu idealnya dilakukan pada pagi hari saat matahari terbit. Tujuannya agar cita-cita si anak bersinar dan naik seperti layaknya matahari terbit.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, maka si ibu dan si anak saling berhadapan dengan posisi si ibu duduk di tikar putih dan si anak duduk menghadap ibu. Lalu makanan diserahkan dengan posisi kepala ikan menghadap kepada si ibu.
Pada saat penyerahan tersebut diiringi dengan kata-kata tertentu berupa doa kepada ibu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kontingen-Kabupaten-Pakpak-Bharat.jpg)