Skandal Berdarah di Rumah Kadiv Propam
PSIKOLOG Dampingi Istri dan Anak-anak Irjen Ferdy Sambo, Anak Bungsu Baru Berusia 1,5 Tahun
Skandal Berdarah di Rumah Kadiv Propam. Psikolog Dampingi Istri dan Anak-anak Irjen Ferdy Sambo, Anak Bungsu Baru Berusia 1,5 Tahun.
TRIBUN-MEDAN.COM - Skandal Berdarah di Rumah Kadiv Propam. Psikolog Dampingi Istri dan Anak-anak Irjen Ferdy Sambo, Anak Bungsu Baru Berusia 1,5 Tahun.
Belakangan ini sosok mendiang Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J menjadi sorotan publik.
Brigadir J tewas di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022).
Brigadir J tewas dengan sejumlah luka tembakan di tubuh akibat baku tembak dengan anggota polisi lainnya, Bharada E.
Bersumber dari keterangan pihak keluarga, Brigadir J dibesarkan di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.
Ia menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 74 Muaro Jambi, SMP Negeri 12 Muaro Jambi, dan SMA Negeri 4 Muaro Jambi.
Setelah lulus sekolah, Brigadir J langsung mengikuti tes polisi di SPN Polda Jambi tahun 2012, hingga menjadi anggota Satuan Brigade Mobile (Brimob).
Selanjutnya, Brigadir J bertugas di Sarolangun, Jambi, kemudian ditugaskan di Papua selama beberapa tahun.
Ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat mengatakan, anaknya merupakan seorang sniper dan biasa ditugaskan di daerah-daerah rawan.
"Kalau ada Lebaran, dia ditempatkan di titik-titik rawan untuk sniper," ujar Samuel di kediamannya di Muaro Jambi, Selasa (12/7/2022).
Barulah pada tahun 2019, Brigadir J bertugas di Mabes Polri sebagai ajudan Kadiv Propam Polri dan istrinya.
Menurut Rohani Simanjuntak, bibi Brigadir J, anggota polisi berusia 27 tahun itu bekerja dengan baik sehingga dapat diberikan kepercayaan menjadi ajudan Kadiv Propam Polri.
"Dilihat Yosua bagus sehingga Pak Ferdy Sambo, Kadiv Propam, menarik Yosua jadi ajudan," tuturnya.
Potret kedekatan ajudan dengan keluarga Irjen Fredi Sambo (HO / Tribun Medan)
Baca juga: SKANDAL Berdarah di Rumah Dinas Kadiv Propam
Hubungan Baik selama Dua Tahun hingga Dipercaya Urus Keuangan di Rumah Dinas
Keluarga Brigadir J menyebutkan hubungan korban dengan Kadiv Propam dan keluarganya sangat baik dan saling percaya.
"Kalau dia (Brigadir J) tak pernah mengatakan yang buruk-buruk tentang pekerjaan dan hubungannya dengan atasan (Kadiv Propam)," kata Samuel Hutabarat di rumah duka, Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Muarojambi, Selasa (12/7/2022).
Samuel mengatakan, dalam pengakuan Brigadir J kepada keluarga, hubungannya dengan Kadiv Propam sangat baik. Sehingga dia tidak pernah mengatakan ada persoalan dengan atasan.
Semua pekerjaan pun dilakukan dengan tanggung jawab.
Hal senada dikatakan Rohani Simanjuntak, bibi dari Brigadir J, yang menuturkan hubungan keponakannya dengan atasan sangat baik. Bahkan dia dipercaya mengelola segala sesuatu di rumah dinas.
Saat dia pulang ke Jambi tahun baru lalu, Rohani pernah menanyakan terkait kerjanya di Mabes Polri.
Brigadir J bilang sangat nyaman bekerja dengan Kadiv Propam, karena semua keluarganya sangat baik dan percaya dengan dirinya.
"Semua urusan dipercayakan sama dia (Brigadir J). Dia juga dipercaya urus keuangan di rumah dinas," kata Rohani.
Artinya Brigadir J sangat dipercaya. Tidak ada masalah yang diceritakan kepada keluarga.
Potret 8 Ajudan Irjen Ferdy Sambo. Brigadir J terdepan dan dua di belakang berpangkat Bharada. (HO / Tribun Medan)
Baca juga: SOSOK Istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Pasangan Suami Istri Sama-sama Anak Jenderal
Kondisi Putri Candrawathu Istri Irjen Ferdy Sambo setelah Tragedi Berdarah di Rumahnya
Kondisi Istri Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Candrawathi kini diungkap Psikologi yang ditunjuk Kepolisian Resort Jakarta Selatan.
Putri Candrawathi diperiksa penyidik terkait tewasnya Brigadir J di rumah singgahnya itu. Ada pun yang diperiksa hingga saat ini setidaknya sudah empat orang saksi. Selain Putri dan Bharada E, polisi juga memeriksa R dan K.
"Ada saksi R sama saksi K (yang sudah diperiksa)," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto kepada wartawan, Rabu (13/7/2022).
Budhi menyebut keduanya diperiksa karena berada di lokasi saat kejadian baku tembak. "Kalau R itu sopirnya ibu (istri Irjen Sambo), kalau K kayaknya pembantu ya," jelasnya.
Selain pemeriksaan, juga dilakukan pendampingan terhadap Putri Candrawathi. "Ibu Kepala Divisi Propam Polri itu juga kami lakukan pendampingan secara psikologi," kata Kombes Budhi di Mapolres Jaksel.
Sementara Kabagpenum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Nurul Azizah belum mengetahui kondisi istri Irjen Ferdy Sambo. Tapi diakui soal pendampingan psikologi.
"Kalau keadaannya saya tidak ada informasi. Kalau pendampingan ada," kata Kombes Nurul Rabu (13/7/2022.
Dikutip dari Tribunnews.com, adapun sosok psikolog yang ditunjuk untuk memberikan pendampingan (trauma healing) kepada Putri Candrawathi ialah Novita Tandry.
Novita Tandry menyebut kondisi Putri masih trauma atas insiden baku tembak di rumahnya hingga menewaskan Brigadir J.
"Masih syok, jadi semalam saya bertemu pendampingan dengan beliau. Beliau masih syok, saya bisa katakan stres sedang ke berat ya dengan tahapannya. Trauma itu dengan kejadian hari Jumat kemarin," kata Novita, Rabu (13/7/2022).
Kata Novita, lebih kurang selama 1,5 jam Putri Candrawathi menceritakan apa yang dia alami saat insiden berdarah pada Jumat (8/7/2022) sore tersebut.
"Terus menerus menangis, karena harus menjelaskan apa yang terjadi. Diceritakan tapi tidak tuntas, dan akhirnya saya menyetop, menceritakan kembalinya ini," jelas Novita.
Di samping itu, dia juga menyoroti keempat anak dari Putri dan Irjen Pol Ferdy Sambo yang bisa terdampak terhadap tumbuh kembangnya soal kejadian ini.
"Ibu yang mengalami trauma seperti ini, keadaan emosi yang tidak stabil tentunya anak-anak akan memberikan pengaruh kepada keempat anak ini, kasihan bagaimanapun bukan hanya menyangkut seorang ibu, tapi juga istri," bebernya.
Selain memberikan pendampingan kepada istri Ferdy Sambo, Novita mengaku juga memberi pendampingan terhadap anak-anak Ferdy Sambo. Dimana anak terakhir masih balita yaitu berusia 1,5 tahun.
"Tidak lepas juga anak-anak, karena bagaimana pun walau yang pertama sudah dewasa, 17 tahun, 15 tahun dan 1,5 tahun. Itu semuanya saya dampingi," ujarnya dikutip dari Tribunjakarta.
Potret keluarga Irjen Pol Ferdy Sambo bersama para ajudan serta pembantunya. (HO / Tribun Medan)
Baca juga: FOTO-FOTO Putri Candrawathi Istri Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo
Benarkah Ada Hubungan Khusus Antara Putri Candrawathi dengan Brigadir J yang Sudah Menjadi Ajudan Keluarga Mereka Selama Dua Tahun Itu?
Sebelum kelahiran anak bungsu dari pasangan Putri Candrawathi dan Irjen Ferdy Sambo, Brigadir J memang sudah menjadi ajudan keluarga pasangan ini.
Di mana usia anak paling kecil saat ini masih berusia 1,5 tahun. Sementara, Brigadir J sudah 2 tahun menjadi ajudan keluarga Putri Candrawathi-Irjen Ferdy Sambo.
Di sisi lain, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Irjen (Purn) Benny Mamoto memberi tanggapan sual dugaan kejanggalan yang muncul dalam tewasnya Brighadir J.
Benny membantah adanya kejanggalan dalam kasus ini. "Tidak ada (kejanggalan dalam peristiwa itu)," kata Benny Mamoto dikutip dari tayangan Kompas Tv, Rabu (13/7/2022).
Benny kemudian menjelaskan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pengumpulan data dan bukti dari para saksi. Termasuk melihat dari foto-foto yang ada.
"Jadi kasus ini kan memang berawal dari terjadinya pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J. Dia masuk ke kamar istri (Kadiv Ferdy Sambo) lalu Bharada E dengar (suara minta tolong dan) langsung turun untuk mengecek ada kejadian apa. Nah setelah turun ternyata ditemui di situ ada Brigadir J yang justru malah menodongkan senjata kemudian melakukan tembak. Kemudian terjadilah tembak-menembak yang akhirnya Brigadir J meninggal dunia," jelas Benny.
Banyak orang bertanya, mengapa tujuh tembakan Brigadir J tidak ada yang mengenai Bharada E, sementara lima tembakan dari Bharada E itu kena semua ke Brigadir J.
"Nah yang pertama perlu dijelaskan bahwa kondisi Brigadir J ini dalam keadaan panik dalam keadaan tidak fokus untuk membidikkan senjatanya karena kaget ketahuan sehingga arah tembakannya tidak menentu, di samping itu juga terhalang oleh tangga. Sementara Bharada E dapat fokus karena dia ada di atas bisa mengarahkan senjatanya ke Brigadir J, ini posisinya sehingga memudahkan dia membidik. Di samping itu Bharada E ini ternyata memang juara menembak dari Brimob hingga bidikannya tepat, itu dalam sisi masalah (skil) tembakan," lanjut Benny.
Terkait beredarnya isu masalah ada luka sayatan dan luka-luka hingga terlihat lebam, Benny memberikan klarifikasi. "Sudah kami klarifikasi kami melihat langsung foto-fotonya tidak ada luka sayatan yang ada adalah luka bekas pecahan peluru. Kalau sayatan itu tipis ya seperti kena pisau itu kan tipis, itu tidak (terlihat ada). Kemudian juga dikatakan bahwa jarinya putus (itu) tidak, jarinya memang luka karena ketika dia megang pistol kena tembakan dari Bharada E," jelas Benny.
Selain itu, sambung Benny, saksi mengatakan tidak ada pemukulan yang terjadi dalam peristiwa itu. "Ketika melepas tembakan dan pelurunya itu mengenai benda lain baru mengenai tubuh, proyektil itu pecah, maka lukanya belum tentu selebar lingkarannya itu kalau kena peluru utuh," jelas Benny.
Sementara, terkait dengan pertanyaan mengapa tiga hari kemudian baru disampaikan ke publik, Benny menyebut bahwa pada saat itu adalah Hari Raya Idul Adha.
"Kita semua tahu dan itu Hari Raya Idul Adha dan kejadian sore, sehingga polisi yang fokus untuk olah TKP untuk mengumpulkan bukti dan tentunya semua orang sedang liburan atau sedang merayakan Idul Adha. Selain itu, masalah ini cukup sensitif tentunya harus dipastikan dulu kejadian sesungguhnya, baru kemudian bisa dirilis," jelas Benny.
Kendati demikian, untuk memperdalam dugaan dan opini yang berkembang di masyarakat, pihak kepolisian saat ini juga telah membentuk tim gabungan. Diharapkan dengan transparansi ini nanti masyarakat jadi lebih yakin bahwa penangananya betul-betul profesional transparan dan akuntabel.
Brigadir J tewas ditembak di rumah dinas Kadiv Propam Polri, Jumat lalu. (HO)
Sebelumnya diberitakan, Mabes Polri menyebut, baku tembak bermula dari teriakan istri Ferdy Sambo dari dalam kamar. Brigadir J diduga melakukan pelecehan dan juga mendongkan senjata ke istri Ferdy.
Teriakan istri Ferdy membuat Brigadir J panik dan bergegas keluar kamar.
Bharada E yang berada di lantai dua rumah dan melihat Brigadir J langsung menegur J.
Namun, Brigadir J tiba-tiba melepaskan sejumlah tembakan.
Hal serupa juga dilakukan Bharada E untuk melindungi diri dan istri majikannya.
Dalam kejadian itu, Brigadir J tewas, sementara Bharada E tak mengalami luka.
Sementara keluarga Brigadir J merasa ada kejanggalan. Bagaimana bisa Brigadir J yang merupakan seorang ahli menembak tak mampu mengenai Bharada E dari tujuh tembakan yang dilepaskan.
Kemudian, CCTV disebutkan rusak. Namun, decoder CCTV di Pos Satpam telah diganti sehari setelah kasus penembakan di rumah dinas tersebut. SELENGKAPNYA Baca: MAKIN TERANG, Decoder CCTV di Pos Satpam Perumahan Diganti Seseorang Tak Berdinas Usai Penembakan
Baca juga: SOSOK Putri Candrawathi Istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Pasangan Suami Istri Sama-sama Anak Jenderal
Baca juga: FOTO-FOTO Putri Candrawathi Istri Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo
(*/ Tribun-Medan.com/Kompas.com/Tribunnews.com/ Tribunjakarta)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Brigadir-J-dan-Kadiv-Propam-Polri.jpg)