Krisis Ekonomi di Sri Lanka Semakin Memburuk, Kehabisan Stok BBM

Pemerintah Sri Lanka mengumumkan hari Jumat (17/6/2022) sebagai hari libur bagi kantor-kantor publik dan sekolah untuk membatasi pergerakan kendaraan.

AP PHOTO/ERANGA JAYAWARDENA
Pengemudi becak motor Sri Lanka mengantre untuk membeli bensin di dekat SPBU ibu kota Colombo, Rabu (13/4/2022). Perdana Menteri Sri Lanka hari itu menawarkan bertemu dengan pengunjuk rasa yang menempati pintu masuk kantor presiden, seraya mengatakan dia akan mendengarkan ide-ide mereka untuk menyelesaikan tantangan ekonomi, sosial, dan politik yang dihadapi negara.(AP PHOTO/ERANGA JAYAWARDENA) 

TRIBUN-MEDAN.com - Krisis ekonomi yang melanda Sri Lanka semakin memburuk.

Kini aktivitas perekonomian di Sri Lanka hampir terhenti, menyusul negara tersebut kehabisan stok bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi.

Dikutip dari moneyweb.co.za, Sabtu (18/6/2022) Pemerintah Sri Lanka mengumumkan hari Jumat (17/6/2022) sebagai hari libur bagi kantor-kantor publik dan sekolah untuk membatasi pergerakan kendaraan,

Sementara itu, ribuan kendaraan mengantre hingga berkilo-kilometer saat para pengemudi menunggu SPBU diisi ulang.

Baca juga: Bobotoh Meninggal di Stadion GBLA, Kapolrestabes Bandung: Tidak Ada Luka, Tidak Ada Tawuran

Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera mengatakan, Ceylon Petroleum Corp yang dikelola negara belum menerima tender untuk stok bahan bakar baru karena pemasok terhalang oleh pembayaran yang belum dibayar.

“Sri Lanka telah berkomunikasi dengan beberapa perusahaan dan negara lain, termasuk Rusia untuk mengimpor bahan bakar kendaraan melalui jalur kredit baru senilai 500 juta dolar AS.” kata Wijesekera

Krisis ekonomi yang melanda Sri Lanka telah menimbulkan aksi protes selama beberapa bulan terakhir dan menuntut pencopotan Presiden Gotabaya Rajapaksa serta anggota keluarganya dari pemerintah.

“Negara ini akan membutuhkan sekitar 6 miliar dolar AS bantuan dari Dana Moneter Internasional dan negara lain termasuk India dan China, untuk mengatasi krisis ekonomi selama enam bulan ke depan.” kata Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe.

Otoritas lokal Sri Lanka sedang mengupayakan dana talangan dengan IMF untuk mendapatkan sumber pendanaan baru lainnya.

Ekonomi Sri Lanka kemungkinan mengalami kontraksi pada kuartal pertama, dihantam oleh protes publik, ketidakstabilan politik, harga komoditas yang tinggi, dan gangguan rantai pasokan.

Sempat Menaikkan Harga BBM 

Pemerintah Sri Lanka beberapa waktu memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga mencapai 24-38 persen.

Menaikkan harga BBM, merupakan upaya Pemerintah Sri Lanka menstabilkan keuangan negara di tengah krisis ekonomi yang tak kunjung usai.

Baca juga: Laga Persib vs Persebaya di GBLA Berujung Duka, Dua Bobotoh Tewas, Ini Penjelasan Polda Jabar

Langkah tak populis itu terpaksa diambil Sri Lanka agar cadangan devisa negaranya bisa kembali seimbang, sehingga krisis ekonomi yang menimpa 22 juta penduduk Sri Lanka bisa sedikit membaik.

Dilansir dari Reuters, kenaikkan bahan bakar atau BBM akan terjadi pada solar dan bensin, dimana harga bensin akan meningkat sebesar 24 persen dari harga 338 rupee menjadi 420 rupee per liter.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved