TRIBUNWIKI

UPACARA Maguras Tao, Tradisi Batak Toba, Simbol Pemurnian Kembali Danau Toba

Melalui acara Manguras Tao, masyarakat sekitar melakukan praktik pembersihan dan repurifikasi secara simbolik terhadap Danau Toba. 

Tayang:
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
HO
Suasana acara ritual Manguras Tao yang diselenggarakan pada tahun 2018 di Danau Toba.  

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Tepatnya di kawasan Danau Toba, sebuah tradisi yang memperlihatkan harmonisasi hubungan antara masyarakat sekitar dengan Allah pencipta. 

Tradisi ini masih hidup hingga kini. Setidaknya, pada tahun 2018, tradisi ini dipertontonkan bagi masyarakat dan pengunjung pada acara Horas Samosir Fiesta. 

Dari berbagai informasi, tradisi Manguras Tao yang diterjemahkan Menguras Danau merupakan upacara tradisional masyarakat Batak Toba yang menjadi salah satu rangkaian acara Festival Pasir Putih yang berlangsung di pinggiran Danau Toba, Pantai Situngkir, Pulau Samosir. 

Baca juga: MENGENAL Kota Tarutung, Kota Durian yang Berada di Kaki Bukit Barisan

Melalui acara Manguras Tao, masyarakat sekitar melakukan praktik pembersihan dan repurifikasi secara simbolik terhadap Danau Toba

Selain itu, tradisi tersebut merupakan upaya meningkatkan harmonisasi antara manusia dengan penjaga alam khsususnya Danau Toba.

Sehingga harus diadakan ritual upacara setiap tahunnya sebagai persembahan agar pemilik kekuatan danau agar tak murka.

Pada acara tersebut, beragam kegiatan pun dilakukan, termasuk Tortor Patutuaek dan sejumlah perlombaan tradisional air di pinggiran Danau Toba

Danau Toba adalah salah satu tempat pariwisata yang terdapat di Sumatera Utara tepatnya di pulau Samosir. 

Karena keindahannya, tidak heran Danau Toba adalah salah satu destinasi wisata yang tidak pernah sepi pengunjung.

Serta, masyarakat sekitar Danau Toba yang senantiasa memberikan penghormatan kepada para leluhur ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Upacara Manguras Tao ini dilakukan karena adanya ketidak seimbangan antara roh leluhur Danau Toba dengan masyarakat.

Baca juga: TRIBUN-MEDAN-WIKI: Menilik Tradisi Adat Turun Tanah pada Masyarakat Melayu Langkat

Upacara Manguras Tao ini biasa dilakukan di sekitar Pantai Putih.

Upacara Manguras Tao ini juga dilakukan dalam rangka mendekatkan diri dengan roh leluhur yang berada di sekitae Danau Toba, oleh karenanya aktivitas di dalamnya tidak terlepas dari pemujaan roh leluhur. 

Pada pelaksanaannya, Manguras Tao ini terdapat aktivitas pelean (sesajen) yang disebut dengan mangalean uluan sumangot ni ompung (memberikan sesajen kepada roh leluhur). 

Pelean (sesajen dan persembahan) yang disajikan yaitu, manuk nabontar (ayam putih), manuk narara (ayam merah), sagu, itak (tepung beras), anggir pangurason (jeruk purut), ihan (ikan batak, sejenis ikan jurung), assimun (mentimun), boras (beras), pira (telur).

Biasanya, upacara ini dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 WIB sampai sore hari pukul 16.00 WIB, tetapi terdapat jam istirahat pada jam 12.30 sampai 13.30. 

Pada saat ritual Manguras Tao ini, alat musik tradisional Batak Toba Gondang pun digunakan.

Gondang ini bukan hanya satu jenis, namun terdapat beberapa jenis dari gondang. Selain itu, pada pelaksanaan ritual Manguras Tao ini, yang diperkenankan untuk berbicara selama proses upacaranya hanya Pemimpin Upacara.

Bagi masyarakat Batak Toba, upacara Manguras Tao ini bukan hanya berfungsi sebagai pengabadian kebudayaan dan adat turun temurun.

Baca juga: TRIBUN-MEDAN-WIKI: Tarian Ikan Kekek, Bagian Tradisi Masyarakat Pesisir Langkat

Tetapi, adat atau ritual ini ialah sesuatu yang mencakup seluruh jasmani dan rohani, termasuk hubungan antara manusia dengan pencipta dan sesama manusia.

Sehingga ritual ini diperkirakan abadi sebab masyarakat Batak Toba tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Danau Toba.

(cr3/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved