News Video
Pemerintah Desa Segel Sungai Tercemar, Agar Masyarakat Tidak Keracunan
Dimana menurut Ketua BPD Desa Pematang Sei Baru, M Yamin air yang berada di Sungai Pematang Sei Baru - Lubuk Palas ini tidak dapat digunakan lagi dika
Penulis: Alif Al Qadri Harahap |
Pemerintah Desa Segel Sungai Tercemar, Agar Masyarakat Tidak Keracunan
TRIBUN-MEDAN.COM, ASAHAN - Warga Desa Pematang Sei Baru, Kecamatan Tanjungbalai mengalami gatal-gatal diakibatkan air sungai yang diduga telah tercemar oleh limbah pabrik.
Dimana menurut Ketua BPD Desa Pematang Sei Baru, M Yamin air yang berada di Sungai Pematang Sei Baru - Lubuk Palas ini tidak dapat digunakan lagi dikarenakan telah tercemar.
Menurutnya, air sungai yang biasa digunakan warga sebagai aliran keluar masuk kapal dan beraktivitas MCK, kini menjadi momok yang menyeramkan.
"Ini sudah kita beri himbauan kepada masyarakat untuk sementara untuk tidak menggunakan air dari sungai," ujar M Yamin kepada tribun-medan.com, Kamis(13/1/2022).
Menurutnya hal tersebut dilakukan dikarenakan sudah banyak masyarakat mengeluh sakit kulit yang cukup parah.
"Ini air, tidak dapat lagi digunakan. Karena kemarin orang menjala ikan, baru masuk sebentar sudah lari kerumah warga untuk disiram badannya," ujar Yamin.
Pengakuannya tersebut juga terbukti kepada dirinya yang saat itu memasang saluran air disekitar sungai dan merasakan gatal pada tubuhnya.
"Saya merasakannya sendiri. Paling parang di bagian kemaluan," ujarnya.
Air tersebut kini sudah tidak layak digunakan dan dikhawatirkan dapat meracuni masyarakat bila mengkonsumsinya.
"Cuci piring, atau cuci sayuran. Ditelan, keracunan. Hal ini terjadi di Kecamatan Lubuk Palas saat itu, air ini yang dikonsumsi warga dan terjadilah 52 orang keracunan pada tahun 2019 silam," katanya.
Ia berharap kepada pemerintah Kabupaten agar segera menindak lanjuti perkara ini agar tidak ada korban masyarakat yang menjadi korban dengan keracunan air sungai.
"Inikan dari jebolnya tanggul, sehingga air yang berada di Desa Lubuk Palas mengaliri kemari. Sehingga kami terdampak hingga ke Desa Silo Baru. Pemerintah tolonglah perhatikan kami, sudah lebih dari dua bulan kami seperti ini," harapnya.
Sementara, Zulkifli Manurung seorang warga yang menderita penyakit kulit tersebut mengaku reaksi air sangat cepat.
"Belum sampai setengah jam sudah terasa gatal badan. Saat itu saya sedang memperbaiki baling-baling kapal, dan tiba-tiba badan saya merasa gatal," kata Zulkifli, Kamis(13/1/2022).
Lanjutnya, efek dari air tersebut kulit terasa gatal, panas, dan perih. Bahkan mengakibatkan kulit seperti terkena bakar yang mengakibatkan kulit iritasi dan bergelembung.
"Inilah, pertama berair. Kemudian dia bernanah," katanya.
Ia mengaku, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan, dikarenakan saat berhenti mengkonsumsi obat, penyakit tersebut akan muncul kembali.
"Seperti inilah, saya konsumsi obat dan oles dengan salep. Namun kalau tidak berobat, keluar lagi gatal-gatalnya," ujarnya.
Ia menduga air tersebut tercemar akibat bersatunya air di Desa Pematang Sei Baru, dengan Desa Lubuk Palas.
"Semenjak banjir inilah, dam jebol. Jadi air turun kemari bercampur dari Desa Lubuk Palas, sehingga warga disini terkena," katanya.
Ia mengaku, selain warga Desa Pematang Sei Baru, Warga lubuk Palas dan Desa Silo Baru juga merasakan efek dari air yang diduga tercemar tersebut.
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Agus Putra Jaka Ginting mengaku akan mengambil sample air tersebut untuk di teliti.
"Iya bang, kami akan kesana untuk mengecek airnya," kata Jaka singkat melalui WhatsApp.
Dari amatan Tribun-medan.com, penderita penyakit kulit tersebut mengalami luka di sekitar wilayah tangan kaki hingga leher.
Bahkan, dari luka tersebut sesekali terlihat mengeluarkan air. Sehingga banyak masyarakat yang mengantisipasinya dengan menggunakan bedak tabur.
(cr2/tribun-medan.com)