SOSOK Rica Asrosa, Raih Beasiswa di London, Kini Ciptakan Alat Pendeteksi Penyakit Lewat Napas

Dalam metode pembelajarannya, Rica memiliki metode pembelajaran yang interaktif walaupun secara daring. 

Editor: Ayu Prasandi
HO
Rica Asrosa 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kecintaan Rica Asrosa terhadap dunia pendidikan begitu besar, hal ini dapat terlihat sejak dirinya duduk di bangku sekolah dengan menyabet beragam prestasi.

Kini, Rica mengabdi sebagai seorang dosen di Jurusan Fisika USU di umurnya yang masih menginjak 25 tahun. 

Dalam metode pembelajarannya, Rica memiliki metode pembelajaran yang interaktif walaupun secara daring. 

Tak dapat dipungkiri, metode pembelajaran yang ia berikan tidak terlepas dari pengalaman belajar saat menempuh magister di University College London, UK.

Sejak kecil, Rica sudah memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan ke benua Eropa lantaran dirinya ingin mendapatkan pengalaman dalam pendidikan dari dunia luar.

"Dari SMP itu cita-citanya ingin kuliahnya itu di luar negeri. Nah waktu S1 di USU, aku gabung sama komunitas penelitian yang punya target yang sama. Kemudian alasan lain itu untuk menantang diri sendiri untuk lingkungan dan budaya yang baru dan upgrade ilmu juga," ungkap Rica, Sabtu (20/11/2021).

Tentunya, dalam menjalankan studinya di London, Rica mendapat dukungan pendidikan melalui beasiswa LPDP dari Kemenkeu. 

Baca juga: LIVE TV ONLINE: Link Live Streaming Persija vs Persib Bandung, Awasi Simic! Link Live Indosiar

Tak puas meraih gelar magister, saat ini Rica juga berhasil lulus beasiswa LPDP kembali untuk jenjang doktoral di University College London yang akan berangkat pada Januari 2022 mendatang.

"Aku balik lagi ke UCL karena risetnya. Jadi S2 kemarin riset aku bagus, jadi profesor disana menawarkan aku lagi untuk lanjutin risetnya dan menawarkan ke komersil. Nah untuk gelar Ph.D ini memang benar-benar kita harus pikirkan risetnya, bidangnya yang sesuai keahlian kita, jadi ambil S3 lagi dengan jurusan yang sama di material science," jelasnya.

Dalam penelitian yang digarap Rica, ia menciptakan sensor dari material alam untuk mendeteksi suatu penyakit dari napas. 

"Insha Allah kita akan produksi sebuah alat, ketika kita tiupkan napas kita, alat ini akan bisa mendeteksi apakah seseorang ini terkena gagal ginjal atau diabetes. Ini suatu inovasi yang bisa menggantikan metode yang sekarang kan masih menggunakan darah dan sakit kan. Nah ini suatu inovasi kita," tuturnya.

Saat menemukan ide untuk alat ini, Rica mencari ide melalui literatur dan meriset produk yang ada saat ini dan cari kelemahan alat tersebut sehingga dapat ia kembangkan dengan inovasi terbaru.

Berbicara mengenai beasiswa, Rica merupakan anak yang pantang menyerah dan fokus dengan apa yang Ingin ia raih.

Bahkan, ia menghabiskan waktu selama enam bulan untuk memilih kampus yang sesuai dengan jurusan dan pengembangan risetnya.

"Kita kan butuh cari supervisor yang pas nih, jadi kita bisa email dia dan itu tiga bulan untuk tahap ini," ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved